JOGJA – Florence Sihombing, 26, resmi mengajukan banding atas putusan PN Jogja. Upaya ini dilakukan karena Flo, sapaan akrab Florence Sihom-bing, mengaku tidak terima atas vonis majelis ha-kim yang menja-tuhkan dirinya bersalah dengan hukuman dua bulan penjara dengan masa percobaan 12 bulan dan denda Rp 10 juta subsi-der tiga bulan kurungan. Dalam berkas upaya banding, Flo didampingi dua penasihat hukumnya, Rudolf Ferdinan Purbo Siboro dan Benizi Galih Angger
“Iya, yang bersangkutan banding dan kami sudah menerima tem-busan bandingnya,” ungkap Humas PN Jogja Ikhwan Hendra-to kemarin (9/4).Hanya, Ikhwan belum menge-tahui alasan mengapa Flo mengajukan banding. Sebab, pihaknya belum menerima me-mori banding. Selain Flo, pada Senin (6/4) Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sarwoto juga mengajukan ban-ding. Jaksa banding karena pu-tusan hakim lebih ringan dari tuntutan enam bulan dengan masa percobaan 12 bulan dan denda Rp 10 juta subsider tiga bulan kurungan. “Mungkin minggu depan memori banding baru diketahui apa alasan ban-dingnya,” tambah Ikhwan.
Florence dinilai terbukti me-langgar UU Informasi dan Tran-saksi Elektronik (UU ITE) oleh majelis hakim yakni Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat 1 UU ITE No 11/2008. Hakim menilai terdakwa Flo telah me-nyebarluaskan kalimat ber-nada menghina dan mence-markan nama baik warga dan Kota Jogja melalui status di Path pada Agustus 2014. Ketua Majelis Hakim Bambang Suwanto SH saat membacakan amar putusan berharap vonis yang dijatuhkan kepada Flo da-pat menjadi kontemplasi dan refleksi bagi terdakwa. “Untuk memberikan efek jera,” terang Bambang.
Sebelum menjatuhkan vonis, hakim mempertimbangkan ter-hadap hal-hal yang meringankan bagi mahasiswa S2 Kenotariatan UGM itu. Hal yang meringankan itu, antara lain, selama mengik-uti sidang Flo berlaku sopan, tercatat sebagai mahasiswi aktif, tidak pernah berurusan dengan hukum, dan telah meminta maaf kepada masyarakat dan Sultan Hamengku Buwono X. “Ter-dakwa telah meminta maaf ke-pada masyarakat Jogja,” jelasnya.
Ditemui usai mengikuti sidang, Flo sendiri enggan memberikan keterangan kepada wartawan. “Nggak mau,” kata Flo singkat, sambil berjalan menghindari wartawan. Ia terlihat menangis. Kolega Flo, Wibowo menilai, majelis hakim memutus orang yang salah terkait konten UU ITE. “Kontennya (penghinaan, Red) untuk individu, bukan masyarakat secara umum. Apalagi orang emosi tidak bisa dikatakan meng hina,” kata Wibowo, seraya mening-galkan PN Jogja. (mar/laz/ong)