RADAR JOGJA FILE
SAMBUT HARI KARTINI: Ir KRAy SM Anglingkusumo, ketua panitia pemecahan rekor Muri 1.800 perempuan mengenakan kebaya khas Jogja.

1.800 Perempuan Kenakan Kebaya Khas Jogja

Beberapa ahli kecantikan dan pengusaha salon yang tergabung dalam organisasi Tiara Kusuma DPD DIJ merancang target memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Memperingati Hari Kartini, mereka menggelar kegiatan tata rias bagi 1.800 perempuan mengenakan kebaya.
AMIN SURACHMAD, Jogja
“KAMI akan pecahkan rekor ada ribuan perempuan mengenakan kebaya. Kebayanya harus khas Jogja,” ungkap Ketua Panitia Ir KRAy SM Anglingkusumo didampingi Wakil Ketua Ny Dhani Aryanto dan Ketua Tiara Kusuma DPC Kota Jogja Ny P. Sil-viatin saat bersilaturahmi ke Radar Jogja, kemarin (9/4). Rekor Muri mengenakan kebaya khas Jogja itu dilangsungkan di Hotel Sahid Rich Jogja, Jalan Magelang, Kamis (23/4) men-datang. Acara yang mendapatkan dukungan penuh GKR Hemas itu berlangsung selama empat jam. “Rekor Muri kami laksanakan pukul 11.00-15.00,” ucapnya. Untuk menjadi peserta, tidak dipungut biaya alias gratis. Syaratnya perempuan usia 17 tahun ke atas dilengkapi kartu identitas diri, busana kebaya tanpa plisir, bros 1, giwang dan kain wiru motif Jogja. Peserta juga harus mengenakan sanggul tekuk dengan lungsen. Perhiasan bisa ceplok jentit atau semyok atau tlesepan dengan slop hak tinggi. Bagi mereka yang tertarik dapat mendaf-tar langsung ke Hotel Sahid Rich, Tiara Ku-suma DPC kabupaten dan kota se-DIJ atau melalui email
“Kami layani dengan alamat tiarakusuma_dpddiy@yahoo.com,” ucapnya.Dua hari sebelum acara atau bertepatan dengan Hari Kartini 21 April, di tempat yang sama diadakan lomba Putri Kebaya. Lomba memperebutkan piala bergilir KRAy SM. Anglingku-sumo. Kegiatan ini telah rutin diadakan setiap setahun sekali. Kriteria peserta usia 17-28 tahun. Saat acara, peserta harus mengena-kan sanggul tekuk dengan lung-sen. “Sanggul atau gelung tekuk itu khas Jogja. Peserta juga harus memakai kain wiru motif Jogja,” kata ibu tiga putri ini.Adanya dua kegiatan itu meru-pakan bagian dari upaya meles-tarikan pakaian daerah khas Jogja. Sebab, saat ini tidak ba-nyak masyarakat yang paham dengan busana gaya Jogja. Ter-masuk dalam mengenakan jarik motif Jogja. “Kami juga ingin nguri-uri ba-tik klasik gaya Jogja. Ciri khasnya, batiknya ada warna putih. Itu yang membedakan dengan Surakarta yang khasnya ada sogan (coklat kekuning-kuningan),” paparnya. Panitia juga menyediakan uang pembinaan bagi pemenang satu sebesar Rp 1,5 juta, juara dua Rp 1 juta dan pemenang ketiga Rp 750 ribu. (*/laz/ong)