SLEMAN- Kisruh antarsuporter dan sikap anarkisme pendukung tim sepak bola sebenarnya bisa dicegah. Itu jika semua elemen mau duduk bersama, berkomu-nikasi, dan bersinergi. Selain itu, klub-klub harus melibatkan suporter bukan hanya saat pertandingan. Di luar stadion pun, para pendu-kung tim harus diperhatikan. Di bagian lain, yang paling pen-ting, setiap pendukung tim sepak bola harus berpikir dewasa. ” Hanya satu seragam, satu tu-juan, mendukung tim sepak bola. Bukan lainnya,” ujar Sis-mantoro, sesepuh suporter PSS Sleman, kemarin (9/4).
Menurutnya, fanatik kepada klub boleh-boleh saja. Tetapi tidak bo-leh berlebihan. Di dalam maupun di luar stadion, lanjut Sismantoro, suporter harus melepas semua pangkat, jabatan, dan golongan, kecuali hanya untuk menyaksikan sepakbola sebagai hiburan. Baginya, kericuhan justru akan merugikan klub yang dibela. Bu-kan tidak mungkin klub akan terkena sanksi dari panitia penye-lenggara kompetisi. Sanksinya bisa berupa pertandingan tanpa penonton. Nah, kondisi itu akan berpe-ngaruh pada “kesehatan” keuangan klub. Sebab, kehadiran suporter bukan hanya sebagai “pemain’ ke 12 sebuah tim yang bertanding. Kehadiran mereka dengan mem-bayar tiket turut membantu ke-uangan klub. “Itu yang harus dipahami,” katanya.
Pria yang kini menjabat Kades Candibinangun, Pakem itu menga-ku, di era dia menjabat pengurus Slemania -sebutan suporter PSS- pada 2000-an, tidak pernah ter-jadi keonaran. Suporter antar tim berjalan rukun satu sama lain. Itu menjadi masa kejayaan suporter sekaligus tim kesayangan wong Sleman kala masuk liga utama.Sismantoro mengatakan, pada zaman dia dulu, komunikasi an-tarsuporter berjalan sehat. Pada momen-momen tertentu, klub selalu melibatkan suporter. Misal-nya, saat ulang tahun. Saat itu, suporter selalu mendapat unda ngan perayaan. Demikian pula suporter tim lain dalam satu wilayah. “Du-lu, sebelum muncul PSS, kami juga pendukung PSIM,” kenangnya.
Komunikasi antarpengurus su-porter itulah kunci terciptanya perdamaian. Sismantoro merasa prihatin maraknya aksi tawuran antar suporter. Parahnya, tawuran menyasar masyarakat. Ironisnya, sepakbolah seolah bukan lagi menjadi tontonan yang meng-hibur. Tapi justru berubah men-jadi kegiatan yang ditakutkan oleh sebagian orang. Menurut dia, saat ini banyak orang tua melarang anak-anak atau anak perempuan mereka menonton sepak bola karena takut terjadi keributan. Sismantoro menengarai, keri-cuhan suporter terjadi akibat po-litisasi oleh pihak tertentu. Itu bisa terjadi pada ranah apapun, yang memicu timbulnya kelompok-kelompok. “Jangan bawa suporter ke ranah politik. Mari kembalikan kejayaan masa lalu,” pinta mantan pengurus Slemania itu.
Sismantoro mengapresiasi ren-cana Kapolda DIJ Kombes Pol Erwin Triwanto mengumpulkan semua elemen sepakbola. Itu menjadi jalan keluar menciptakan keda-maian dalam dunia sepakbola.Mantan Pengurus Slemania Hempri Suyatna mengigatkan, bahwa pada dedengkot suporter telah melakukan deklarasi damai. Sayangnya, hal itu tak diikuti ge-rakan serupa di level bawah. “Terutama suporter muda. Mereka harus ada pembinaan,” ujar man-tan koordinator litbang Slemania periode 2005-2008 itu.Dosen Sosiatri, Fisipol, UGM itu menilai, selama ini suporter mu-da kurang mendapat perhatian. Akibatnya, muncul sikap dendam turunan. “Untuk menghentikan-nya, harus ada potong generasi,” tegasnya. (yog/din/ong)