HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA SAMPEL: Tim Koordinasi Raskin Kecamatan dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) saat mengumpulkan sampel raskin di Kantor Dinsosnakertrans Kulonprogo, kemarin (9/4).
KULONPROGO – Mencoba mengakhiri permasalahan beras miskin (raskin) tak layak konsumsi yang dikeluhkan sebagian masyarakat, Tim Koordinasi Raskin Kecamatan dan TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) melakukan pengecekan kualitas beras. Juga melakukan pemantauan raskin ke rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTS-PM).
Tim berhasil mengumpulkan sampel raskin dari 87 desa dan kelurahan. Sampel tersebut kemudian dibawa pada rapat koordinasi (rakor) raskin di Kantor Dinas Sosial Tenaga kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), kemarin (9/4).
“Dari sampel yang terkumpul, 20 persen di antaranya beras dalam kondisi remuk,” terang Kepala Dinsosnakertrans Kulonprogo Eko Pranyata.
Pranyata mengatakan, pengambilan sampel raskin di masing-masing RTS-PM merupakan upaya untuk menyelesaikan permasalahan kelayakan raskin agar tidak berlarut-larut. Rakor juga mengevaluasi distribusi raskin bulan Maret 2015 yang masih ditemukan adanya raskin yang berwarna kuning di Kecamatan Kalibawang.
Termasuk membahas penolakan Kades Srikayangan karena raskin yang diterima warganya tidak layak kendati, Bulog telah langsung mengantinya. “Kasus di Kalibawang ada kantong raskin tertulis dari Jombang, Jawa Timur dan warna berasnya kuning,” katanya.
Perwakilan dari Bulog Divre DIJ Priyo sepakat dengan upaya pengambilan sampel raskin oleh tim. Semua sampel yang dibawa dan diserahkan ke Dinsonakertrans akan menjadi bahan masukan bagi Bulog. Terkait beras kuning, jika kondisinya masih utuh pihaknya siap menggantinya.
“Karena sesuai pedoman umum, raskin dapat diganti. Kalau beras masih ada dan utuh bisa diganti, hari ini akan kami ganti, dan kalau terjadi lagi di lain kali segera saja dilaporkan, Bulog siap menindaklanjuti,” terang Priyo.
Terkait temuan raskin yang berasal dari Jombang, Jawa Timur, Priyo menjelaskan, kebutuhan beras di DIJ mencapai 51.000 ton per tahun. Sementara suplai dari DIJ hanya mampu 31.000 ton per tahun. Sehingga ada kekurangan dan kebijakan Bulog Pusat boleh diambilkan dari luar DIJ. Sementara stok beras hingga April ini baru menyerap 1.600 ton, padahal di bulan yang sama tahun lalu mencapai 5.000 ton. “Semoga dengan musim yang kondisinya bagus Bulog bisa menyerap sebanyak-banyaknya baik dari gapoktan maupun mitra Bulog,” jelasnya.
Priyo menambahkan, distribusi raskin bulan April ini masih menggunakan stok lama. Pihaknya bahkan menyadari dan meminta maaf jika ada beras yang berwarna kuning, menir (remuk), lantaran umur serapan sudah sekitar tiga bulan terakhir. “Raskin akan diambilkan dari Gudang Kalasan, sebab Gudang Wates terisi beras 2015. Prinsip Bulog mengeluarkan beras sesuai dengan jadwal masuknya, tidak mungkin baru masuk gudang kemudian dikeluarkan,” terangnya.
Sementara itu, jadwal distribusi raskin bulan April akan dimulai dari Kecamatan Pengasih pada Senin (13/4), disusul Selasa (14/4) di Kecamatan Kokap. Dilanjutkan pada Rabu (15/4) di Temon dan Wates, Kamis (16/4) Sentolo. Kemudian di Kecamatan Kalibawang pada Senin (20/4), Kecamatan Girimulyo hari Selasa (21/4). Sedangkan Panjatan Rabu (22/4), Galur dan Lendah Kamis (23/4) dan terakhir Kecamatan Samigaluh dan Nanggulan pada hari Senin (27/4). (tom/ila/mga)