JOGJA – Proses penyelesaian gedung Perpustakaan Daerah (Perpusda) DIJ yang belum bisa dilaksanakan, karena ada per-masalahan dalam pengangga-ran, dikhawatirkan tidak dapat selesai tepat waktu. Jika April 2015 ini, masalah anggaran ter-sebut belum rampung, target launching akhir tahun, juga te-rancam molor.
Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIJ Budi Wibowo mengatakan, jika selepas April ini, persoalan ang-garan belum selesai, pihaknya tidak yakin bisa selesai tepat waktu. Terlebih untuk interior saja, butuh waktu hingga enam bulan. “Kalau melewati April, saya yang keberatan. Sebab, un-tuk interior saja, butuh enam bulan. Lewat itu, saya angkat tangan,” ujarnya kemarin (10/4).Pengalihan anggaran tersebut terutama anggaran sebesar Rp 4,3 miliar, yang awalnya diperun-tukkan bagi interior, dan land scape yang dialihkan untuk penyem-purnaan gedung.
Awalnya, total anggaran mencapai Rp 22,5 mi-liar, yang diperuntukkan bagi interior mencapai Rp 18 miliar, dan untuk landscape sebesar Rp 4,5 miliar. Tetapi BPAD DIJ meng-alihkan sebagian anggaran untuk penyempurnaan pembangunan gedung perpustakaan yang terle-tak di sebelah timur JEC tersebut. Sehingga interior gedung men-jadi Rp 16 miliar, dan landscpae jadi Rp 2,2 miliar.Budi menjelaskan, pengalihan tersebut, merupakan hasil kajian bersama Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIJ, sebelum diusulkan ke Dinas Pendapatan Pengelolaan Ke-uangan dan Aset (DPPKA) DIJ.
“Perubahan rincian objek be-lanja tanpa perlu sepengeta-huan dewan,” tuturnya.Terkait hal itu, pihaknya juga sudah melakukan konsultasi ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) DIJ, dan disarankan melakukan konsultasi ke Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pe-merintah (LKPP). Hasilnya, ge-dung Perpusda tersebut harus tetap berfungsi, tapi untuk kela-njutannya menunggu rekomen-dasi dari Dinas PUPESDM. Menurut dia, rekomendasi tersebut belum keluar hingga saat ini.
Budi juga mengaku akan berkoordinasi dengan Inspek-torat Daerah dan Badan peme-riksa Keuangan dan Pembangu-nan (BPKP) dalam kelanjutan penyelesaian gedung Perpusda.Sementara untuk penggunaan aset lama, jelas Budi, yang diguna-kan yang tidak bersentuhan dengan publik. Dirinya mencontohkan seperti penggunaan rak jati, yang tebal. “Kalau dipoles, diperbaiki lagi malah hasilnya lebih bagus,” tuturnya. (pra/jko/jiong)