GUNUNGKIDUL – Musim peng-hujan seperti sekarang,banyak muncul berbagai penyakit salah satunya leptopirosis. Di Gunungkidul, virus mematikan yang dipicu dari air kencing tikus yang terkandung bakteri leptospira tersebut bahkan sampai merenggut korban jiwa. Sebagai upaya pencegahan, dinas terkait melakukan sosialisasi kepada masyarakat.Kabid Pencegahan dan Penang-gulangan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul dr Sumitro mengatakan, meski wilayahnya bukan termasuk endemis leptospirosis, perlu diwaspadai karena sudah ada kasus penderita meninggal dunia.”Untuk itulah kami berupaya melakukan sosialisasi melalui PHBS (pola hidup bersih dan sehat) kepada masyarakat,” kata Sumitro belum lama ini (7/4). Berdasarkan data yang dikantongsi dinkes, dalam rentang tahun 2014-2015 sudah tercatat ada enam kasus penderita leptospirosis. Ada yang perlu diwaspadai dari data angka itu. Sebab, tempat penularan leptopirosis 50 persen berasal dari Gunungkidul (indogenus). Sementara kasus penularan lainnya berasal dari Prambanan, Sleman, kemudian Jogjadan satu kasus tempat penularan belum diketahui lokasinya.
Masih berdasarkan data, virus leptospirosis menyebar di sejumlah wilayah kecamatan seperti Gedangsari, Ponjong, Semanu, Playen, dan Karangmojo. Pada 2014, di Ngeposari, Semanu, salah seorang perajin batu meninggal dunia di RS Pelita Husada akibat penyakit tersebut. Tempat penularan penyakit sendiri dari Prambanan, Sleman. Kemudian memasuki awal 2015, tepatnya 14 Januari, salah seorang pekerja bangunan warga Jatiayu, Karangmojo juga meninggal dunia akibat terserang virus leptospirosis. Hanya sayang, data kasus di tahun-tahun sebelumnya pihak dinkes mengaku belum memiliki data.”Untuk satu pasien di 2015 diketahui positif leptospirosis dan sekarang tengah menjalani perawatan medis,” ujarnya.
Menurut Sumitro, sebenarnya ada upaya pencegahan praktis yang bisa dilakukan masyarakat untuk meng-hindari penyakit itu. Caranya, meng-hindari kebiasaan kontak langsung dengan hewan yang terkontaminasi. Sebab, tikus yang sudah tercemar, air kencingnya sangat berbahaya. Penularannya bisa melalui selaput mata dan air kencing. “Atau pencegah-an cara lain, seperti dilakukan wilayah lain adalah dengan cara gropyokan tikus,” terangnya.Namun di Gunungkidul, gropyokan belum perlu karena penyebaran tikus sendiri jumlahnya masih terbatas. Maka dari itu, informasi dari masyarakat sangat penting terkait penyebaran tikus. Jika jumlahnya mulai banyak perlu diantisipasi karena virus yang dibawa tikus tersebut menular ke tikus lain. “Namun untuk orang per orang tidak menular,” ucapnya.Ditanya apakah penyakit leptospirosis bisa disembuhkan, menurut Sumitro sangat bisa. Pasien yang positif terjangkit hendaknya langsung mendapat penanganan medis. (gun/ila/ong)