DWI AGUS/RADAR JOGJA
CADAS: Band asal Jakarta, Seringai mampu menyalurkan energi metal mereka ke penggemar musik rock metal di Jogjakarta. Penonton pun tak segan berjingkrak dan melakukan headbang mengikuti alunan musik.
JOGJA – Pecinta musik cadas di Jogjakarta bagaikan mendapatkan guyuran energi, Jumat malam (10/4) kemarin. Band-band dengan genre rock metal secara bergantian menghen-takkan lagu-lagu mereka dan mampu mem-buat pecinta musik Jogja berjingkrak dan melakukan headbang mengikuti alunan musik. Band-band seperti Down For Life, Sering-ai hingga Death Vomit menjadi line utama pada pagelaran musik yang diadakan di panggung outdoor di sisi barat hall Jogja Expo Center (JEC). Board Director The Pa-rade 2015 Ishari Sahida mengungkapkan, musik adalah sebuah nyawa. Sehingga dapat menghadirkan sebuah identitas yang ber-beda di setiap genrenya.
Tak ayal, adalam even ini genre musik yang ditampilkan lebih beragam. Bahkan konsep panggung ber-beda setiap harinya.”Hadir dengan konsep yang unik di setiap harinya. Jumat mengusung konsep Black Friday. Sabtu mengusung musik indie rock, lalu Minggu dengan genre yang lebih enak untuk danceable. Warna-warna inilah yang perlu dihadirkan dalam mengusung sebuah even musik,” ungkap pria yang akrab disapa Ari Wulu ini.
Wulu menjelaskan, warna ini terlihat dari pengisinya. Jumat malam lalu menghadirkan genre musik yang keras. Bagi Wulu, musik adalah suatu hal yang sangat indah. Sehing-ga perlu sebuah wadah untuk menampung keberagaman ini. Dia tidak menampik awal mula hadir, even industry clothing didomi-nasi musik underground. Ini karena peng-gawa-penggawa musik inilah yang meng-hidupkan even ini.”Namun di sisi lain juga perlu membuka diri atas genre musik yang ada. Porsi musik juga kita perluas sehingga genre yang hadir benar-benar berwarna. Apalagi semangat yang kita usung menentukan idenititas diri,” katanya.
Setelah menghadirkan musik cadas, di hari berikutnya Sabtu (11/4) menghadirkan band-band indie seperti Bravesboy, FSTVLST, White Shoes & The Couples Company, dan Naif menghiasi panggung outdor. Musik yang disajikan memiliki warna yang indah. Tentunya dengan beragam genre dan alunan nada yang tidak kalah merdu dari hari per-tama. Sedangkan di hari Minggu (12/4) me-nampilkan band danceable. Wulu mengiba-ratkan danceable mampu membuat pe-ngunjung menari. Ini karena line up yang hadir memiliki basis massa yang berbeda-beda. Mulai dari Endank Soekamti, Captain Jack, Rocket Rockers hingga Shaggydog.”Hari terakhir ini seperti perayaan bagi semuanya. Band yang hadir juga memiliki basis massa yang besar dan berbeda. Bisa menjadi ajang untuk bertegur sapa dalam satu panggung dan bergembira bersama,” ungkapnya. (dwi/ila/ong)