DWI AGUS/RADAR JOGJA
BERMAIN KETOPRAK: Bupati Sleman Sri Purnomo (dua dari kanan) saat didapuk bermain ketoprak dalam Jamsinas IV 2015 di Auditorium RRI, Jalan Affandi Sleman, Kamis (9/4) malam.

Melihat Jamsinas IV 2015 LPP RRI

Radio Republik Indonesia (RRI) berperan besar dalam perkembangan Indonesia. Melalui siarannya, berbagai informasi terus disampaikan kepada masyarakat. Jambore Siaran Nasional (Jamsinas) IV 2015 yang diselenggarakan di Jogjakarta pun menjadi sebuah momen berharga.
DWI AGUS, Sleman
Sebelum ketoprak digelar, jiga diakan sebuah talkshow bertajuk Mewujudkan Siaran RRI Berwa-wasan Nusantara. Bincang-bin-cang ini melibatkan Dirut LPP RRI Rosarita Niken Widiastuti, Muhammad Afnan Hadikusumo dari DPD RI, dan pakar pengamat radio Ade Armando.Dalam talkshow, dibahas ba-gaimana peran RRI sejak ber-diri pada 11 September 1945. Sebagai corong pada waktu itu, perannya sangat penting menga-wal kemerdekaan RI. Salah sa-tunya menjaga kedaulatan NKRI melalui siaran udara.Niken mengungkapkan, RRI se-bagai lembaga penyiaran tidak sekadar menyampaikan infor-masi. Tugas besarnya menjaga dan menyampaikan identitas nasional. “Semua ini wajib tercermin dalam siaran RRI,” tandasnya.
Niken mencontohkan bagai-mana peran besar dalam men-jaga kedaulatan. Terutama men-goptimalkan peran RRI di semua perbatasan negara. Saat ini telah berdiri 23 stasiun RRI di seluruh perbatasan. Tujuannya men-jaga batas imajiner, khususnya masyarakat perbatasan.”Selalu ada semangat untuk mewadahi kekayaan Indonesia dalam setiap siaran RRI. Sebagai sabuk pengaman di perbatasan, kita sadar bahwa penetrasi in-formasi di masyarakat negara tetangga gencar. RRI juga me-miliki peran menyampaikan permasalahan yang ada di per-batasan. Melalui siaran, lalu kita teruskan kepada pemimpin bangsa ini,” ungkapnya.
Muhammad Afnan Hadiku-sumo dari DPD RI menilai, saat ini degradasi bangsa mulai mun-cul. Terutama seiring maraknya konflik horizontal dengan back-ground suku, agama dan antar-golongan. Di sini peran RRI menurutnya sangat penting un-tuk menetralisir.Sebagai penyiaran publik, RRI memiliki peran dalam menanam-kan pemahaman nusantara. Terutama dalam menghadapi arus informasi di era globali-sasi. Dengan jangkauan yang luas dan perannya mengangkat kekayaan Indonesia, RRI men-urutnya, tetap menjadi pioner dalam bidang informasi.”RRI masih menjadi harapan meningkatkan pemahaman akan wawasan nusantara. Belum lama ini, kami (DPD RI) mengusulkan tentang RUU Wawasan Nusan-tara. Langsung disetujui DPR dan pemerintah, karena RUU ini memang sangat bermanfaat. Menurut surve, Indonesia di tahun 2050 bisa menjadi ne-gara terkaya urutan ke 17, sya-ratnya harus mau bergotong royong dan bertoleransi satu sama lain. Dan RRI bisa mewu-judkannya,” kata Afnan.
Melengkapi talkshow kritik dan saran disampaikan oleh Ade Ar-mando. Pakar penyiaran ini, me-nilai perkembangan dunia radio perlu sebuah inovasi. Tentunya untuk merambah segmen pendengar di berbagai tingkat generasi.Menurutnya, RRI perlu melaku-kan sebuah pendekatan yang segar. Terutama untuk menarik segmen pendengar muda di Indonesia. Dengan adanya pembagian ke berbagai channel, seperti Pro 1, Pro 2, Pro 3, Pro 4 dan Channel V sebuah langkah yang apik.Namun ini perlu diimbangi dengan mengawal dinamika ma-syarakat. Selain itu, dirinya juga berharap pemerintah benar-benar mewujudkan programnya. Tidak sekadar wacana, harus benar-benar serius mengurusi penyiaran.
“Kadang pertanyaan seperti ini, apalah masyarakat butuh acara populer atau acara berman-faat. Apakah negara ini serius untuk mengurusi penyiaran. Di Inggris, radio BBC hidupnya dari iuran ditambah subsidi dan sponsor. Indonesia masalahnya hanya bicara di level wacana, tidak diwujudkan,” ungkapnya. Tentang budaya, Niken men-gungkapkan, RRI konsisten menga-wal ini. Tidak hanya kekayaan seni budaya tradisi, juga dina-mika seni budaya yang terjadi. Menurutnya perkembangan ini sangat penting. Apalagi seni budaya merupakan salah satu pilar kekuatan bangsa Indonesia. (*/jko/ong)