JOGJA – Para pengusaha travel dan tour yang tergabung dalam Association of The Indonesian Tour and Travel Agencies (Asita) DPD DIJ mengaku dilema terkait la-rangan bus masuk kawasan Njeron Beteng. Sebab, secara profit, kebi-jakan tersebut telah merugikan para pelaku travel agen wisata. Namun bila pihaknya harus men-cabut destinasi wisata Keraton Jogja dari agenda wisata yang di-jadwalkan travel agen, juga sang-at mustahil bisa dilakukan.Ketua Asita DPD DIJ Edwin Ismedi Himna mengatakan, un-tuk menghilangkan Keraton dari paket wisata tidak mudah. Ini karena Keraton Jogja memang memiliki nilai daya jual yang tinggi. “Keraton Jogja sebagai salah satu simbol dari Jogjakarta, men-jadi tempat yang paling banyak diminati wisatawan, selain wi-sata candi
Di Keraton, masyarakat ingin lebih mengetahui peninggalan budaya yang dimiliki Jogjakarta,” ungkap Edwin kemarin (11/4).Karena itu, pihaknya mendorong Pemkot Jogja untuk mengkaji kembali kebijakan tersebut. Asita yakin, pemkot memiliki solusi untuk kemajuan pariwi-sata di Jogja. “Kami akan menung-gu hasilnya, karena pemkot sendiri sudah membentuk tim untuk evaluasi,” jelasnya.Menurut Edwin, sebagai ikon pariwisata, tentunya pihaknya sangat tidak menginginkan apa-bila para agen sampai nekat mencoret Keraton sebagai tem-pat tujuan wisata. Sebab, dari dulu Keraton sudah menjadi bagian dari paket wisata. “Bila travel agen sampai melakukan tindakan tersebut, nilai histori Jogja tidak tersampaikan ke wi-satawan mancanegara secara utuh,” tandasnya. Terpisah, Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Jogja Rifki Listi-anto menegaskan, kebijakan pemkot melarang bus masuk kawasan Njeron Beteng dinilai blunder. Sebab, malah berdam-pak kontraproduktif terhadap pariwisata di Kota Jogja. “Jika terus dibiarkan, pariwisata Jog-ja malah rusak. Apalagi Keraton selama ini menjadi tujuan utama,” kata Rifki.
Karena itu, ia mengusulkan pemkot untuk lebih arif. Pemkot harus bisa mengakomodasi se-mua kepentingan. “Jangan tum-pang tindih seperti ini. Satu kepentingan membuat lalu lin-tas nyaman di Keraton. Di sisi lain mengorbankan pelaku pa-riwisata yang menjadi urat nadi ekonomi di Jogja,” ujarnya.Penataan kawasan Njeron Be-teng memang mutlak dibutuh-kan. Hal itu juga untuk mem-perhatikan kerentanan kawasan wisata. Karena itu, larangan bus masuk ke kawasan Njeron Beteng dinilai sudah tepat dan tidak perlu dipermasalahkan. “Pelaku wisata harus mem-perhatikan kerentanan kawasan pusaka. Kalau bus besar masuk, logikanya tidak pas, itu sudah tidak perlu diributkan,” ujar pen-gurus Jogja Heritage Society (JHS) Laretna T Adisakti ketika dihu-bungi Radar Jogja kemarin (11/4).
Menurutnya, larangan bus ma-suk ke kawasan Njeron Beteng sudah tepat, mengingat kondisi di dalam kawasan itu.Sementara tentang harapan ada pengecualian terhadap ken-daraan jenis microbus tetap bisa masuk, menurutnya, selama memiliki ketersediaan lahan parkir, tidak masalah. Tapi jika di kawasan Njeron Beteng sen-diri tidak memiliki lahan parkir yang memadai, justru menjadi persoalan lain. “Kalau kecil tapi banyak dan mengganggu, mau parkir di mana?” tanyanya.Menurut Sita, sapaannya, ken-daraan sejenis microbus bisa tetap diperbolehkan masuk, selama hanya melakukan drop off penum-pang ke objek wisata tujuan Njeron Beteng dan kemudian parkir di luar. Pengecualian juga bisa diber-lakukan untuk warga yang tinggal di Njeron Beteng.Dosen Arsitektur UGM ini juga mengatakan, keberadaan shuttle wisata Si Thole tidak ma-salah, selama punya jam putar yang jelas. Sehigga wisatawan tidak harus menunggu lama. “Si Thole oke, tapi harus punya jam putar,” tuturnya.
Selain itu Sita juga mengharap-kan bisa memaksimalkan kebe-radaan kendaraan tradisional Jogja, seperti andong, becak, se-peda ontel atau jalan kaki. Di objek-objek wisata heritage di dunia, bahkan sudah dibuat ka-wasan pedestrian, sehingga ken-daraan bermotor tidak bisa masuk.Jika nantinya ada kawasan pe-destrian di Jogja, dirinya pun mengaku sangat mendukung. Tetapi juga harus dibarengi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung. Misalnya dengan keberadaan pohon perindang, sehingga wi-satawan yang berjalan tetap nyaman. “Di seluruh dunia, orang banyak berjalan kaki,” ujarnya. (pra/bhn/eri/laz/ong)