DWI AGUS/RADAR JOGJA
GEMULAI: Jeannie Park saat menarikan tari Beksan Retno Adaninggar karya KRT Sasminta Mardawa. Tarian ini menceritakan tentang seorang putri Tiongkok.
JOGJA – Jiwa wong Jawa telah merasuk ke dalam benak Jeannie Park. Perempuan berdarah Korea kelahiran Amerika Serikat ini sang-at mencintai budaya Jawa. Bahkan saat ini dia memilih untuk hidup di Jogjakarta dan mendalami beragam kesenian dan budaya Jawa.Pemilik nama asli Jee-Hyun Park ini lahir di Seattle, Amerika Serikat tanggal 2 Mei 1969 silam. Jeannie memiliki darah seni dari kedua orang tuanya Chong-Gil Park dan Hi-Ah Chai. Awal mula kenal budaya Jawa saat bertemu almarhum KRT Sasminta Mardawa.”Waktu itu masih berumur 10 tahun, saat bertemu Romo Sas (KRT Sasminta Mardawa). Waktu itu beliau men-jadi dosen tamu di University of California, Los Angeles. Waktu me-nari saya sangat terkesan dengan gaya tari Jawa klasik itu,” kenangnya.Bagi Jeannie kecil, busana, gerakan, dan musik tarian Jawa yang dibawa Romo Sas sangat memikat. Berawal dari ketertarikannya ini Jeannie ber-tekad untuk mengunjungi tempat asal tarian itu.
Gayung bersambut ketika 12 tahun kemudian dia lolos dalam University of California Education Abroad Program.Program ini memberangkatkan Jeannie selama empat bulan di Pu-sat Studi Indonesia Fakultas Sastra UGM. Tak mau melewatkan kesem-patan, Jeannie muda belajar tari Jawa kepada Romo Sas. Meski ter-bilang singkat, namun empat bulan ini sudah mampu membuka pan-dangannya terhadap budaya Jawa.”Setelah selesai kembali ke Ame-rika dan tenggelam dalam rutinitas. Sempat bekerja sebagai kurator seni rupa di Jan Turner Gallery. Lalu ke galeri seni kontemporer Kohn Turner Gallery sebagai direktur. Tapi saya merasa ada yang hilang dan tidak lengkap. Terutama kegelisahan ba-tin yang dirasakan,” kenangnya.Angin segar kembali berhembus ketika dia mendapatkan telepon dari staf Konsulat Jenderal Indonesia di Los Angeles. Tahun 1996, tepatnya akhir bulan Juni dia diberitahu telah mendapatkan beasiswa. Program beasiswa dalam wujud Darma-siswa ini mengantarkan Jeannie untuk belajar seni budaya di Jogjakarta selama setahun.Jadilah bulan Sep-tember 1996 Jeannie menancapkan diri di Jurusan Tari ISI Jogja-karta. Dari sinilah ke-inginan untuk mempelajari tarian klasik gaya Jogjakarta semakin besar.
Bahkan saat masa beasiswanya berakhir, Jeannie mengajukan perpanjangan masa studi.”Padahal waktu itu saya sudah lupa kapan saya mendaftarkan diri untuk beasiswa. Saat belajar tarian saya juga mulai memahami cara berpikir orang Jawa. Falsafah hidup ini yang saya terapkan dalam ke-hidupan sehari-hari,” kata istri dari Lantip Kuswala Daya ini.Pada peringatan dua tahun Jogedan Selasa Legen Tingalan Rama Sas, Jeannie pun unjuk tari. Direktur Eksekutif Yayasan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja ini memba-wakan salah satu tarian karya Rama Sas, Beksan Retno Adaninggar.Dengan gemulai, dia membawakan tarian yang bercerita tentang seorang putri Tiongkok. Jeannie terlihat anggun dalam gerak tari yang dibawakannya. Kain bermotif batik terlihat selaras dengan atasan lengan panjang ber-warna hijau. “Saya senang sekali bisa ikut menari bersama murid-murid Romo Sas lainnya. Apalagi sosok Romo Sas adalah orang pertama yang mengenalkan saya kepada budaya Jawa,” ungkapnya. (dwi/ila/ong)