FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
Rumah Sakit Bersalin (RSB) Amandha memasuki usia ke-17. Bekerja sama dengan salah satu produsen makanan bayi, rumah sakit ini mengadakan acara bertema “Peranan MPASI dalam 1.000 Hari Pertama Perkembangan si Kecil.”Frietqi Suryawan, MAGELANGMakanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) patut diketahui para ibu muda. Para ibu harus tahu, saat yang tepat bayinya butuh MPASI.
Hingga usia enam bulan, asupan terbaik untuk bayi adalah ASI eksklusif. Baru setelah itu, MPASI bisa diberikan. Biasanya, bayi akan memberikan “sinyal” alias tanda-tanda. Seperti, kekuatan kepala bayi, di mana ia sudah bisa menahan kepalanya dalam posisi tegak dengan stabil.
Selain itu, bayi bisa menyimpan makanan dalam mulutnya, dan menelannya. Bayi harus mulai berhenti menggunakan lidahnya untuk mendorong makanan keluar dari mulutnya. Ia juga bisa bersandar dengan bersandar, agar bisa menelan dengan baik. Yang pasti, bayi juga mulai tertarik dengan makanan.
Selain edukasi MPASI, panitia juga menggelar beberapa lomba. Seperti lomba bayi sehat usia 0-18 bulan, lomba bayi sehat usia 19-36 bulan, lomba baby dancing dan lomba fotogenik ibu hamil.
Acara tersebut diikuti 200 peserta yang datang dari berbagai daerah di kabupaten dan Kota magelang. Bertindak selaku juri adalah dr Woro Triaksiwi SpA, dr Mia Herdiyani, dr Ardeni Siti Fatima, Sekretaris IIDI Kota Magelang Nunu.
“Kami ingin dalam acara ini mengingatkan ibu kapan waktu yang tepat memberikan MPASI, bagaimana memberikannya, dan pentingnya memilih MPASI yang tepat buat anaknya,” kata Woro kemarin (12/4).
Dijelaskan, dalam memilih atau membuat MPASI, para ibu harus memperhatikan makronutrien dan mikronutrien untuk anak. Salah satunya zat besi. Karena, di Indonesia, angka anemia defisiensi besi masih tinggi. Padahal anemia defisiensi besi dihubungkan dengan gangguan fungsi kognitif dan perubahan tingkah laku anak. Selain itu, pertumbuhan anak juga akan terganggu dan anak mudah terserang penyakit.
Diingatkan Woro, zat besi dalam kadar normal diperlukan oleh sistem kekebalan tubuh, agar bisa bekerja secara optimal. Di pasaran, tersedia produk MPASI instan yang difortifikasi.
“Para ibu juga bisa membuat sendiri di rumah dengan memperhatikan unsur makronutrien dan mikronutrien tadi, agar kebutuhan gizi anak tercukupi,” tegas Woro yang sehari-hari berpraktik di RSB Amandha tersebut.
Diingatakan, beberapa hal yang wajib diperhatikan dalam pengenalan MPASI. Di antaranay, MPASI harus diberikan sedikit demi sedikit. Misal, 2-3 sendorok pada saat pertama, dan jumlahnya bisa ditambah seiring perkembangan bayi. Harapannya, bayi terbiasa dengan teksturnya.
Kemudian, pemberian MPASI dilakukan di sela-sela pemberian ASI dan dilakukan bertahap.
“Tepung beras baik digunakan sebagai bahan MPASI, karena kecil kemungkinannya menyebabkan alergi pada bayi. Tepung beras yang baik adalah yang berasal dari beras pecah kulit yang lebih banyak kandungan gizinya,” katanya mengingatakan.
Untuk pengenalan sayuran, sebaiknya didahulukan daripada pengenalan buah. Karena rasa buah yang lebih manis lebih disukai bayi, sehingga jika buah dikenalkan terlebih dahulu. Karena ada kekhawatiran, akan ada kecenderungan bayi menolak sayur yang rasanya lebih hambar.
“Sayur dan buah yang dikenalkan hendaknya dipilih yang mempunyai rasa manis,” imbuhnya.
MPASI yang diberikan juga harus menghindari penggunaan garam dan gula. Jadi, para ibu baru mengutamakan memberikan MPASI dengan rasa asli makanan, karena bayi usia 6-7 bulan, fungsi ginjalnya belum sempurna.
Selanjutnya, gula dan garam bisa ditambahkan, tetapi tetap dalam jumlah yang sedikit. Sedangkan untuk merica bisa ditambahkan setelah anak berusia 2 tahun. Para ibu juga diminta tidak terlalu banyak mencampur banyak jenis makanan pada awal pemberian MPASI. Namun cukup satu per satu saja. Berikan dulu dalam 2-4 hari untuk mengetahui reaksi bayi terhadap setiap makanan yang diberikan. Ini dilakukan untuk mengetahui jika si buah hati memiliki alergi terhadap makanan tertentu.
“Perhatikan bahan makanan yang sering menjadi pemicu alergi. Seperti telur, kacang, ikan, susu dan gandum,” katanya.
Khusus madu, sebaiknya diberikan pada bayi usia lebih dari 1 tahun. Karena madu seringkali mengandung jenis bakteri yang bisa menghasilkan racun pada saluran cerna bayi yang dikenal sebagai toksin botulinnum (infant botulism). Terakhir, pengolahan MPASI harus higienis dan alat yang digunakan juga diperhatikan kebersihannya.
Sementara itu, Pemilik RSB Amandha dr Mia Herdiyani Achmad mengaku, senang karena acara diikuti banyak peserta.
“Saya senang banyak peserta yang mengikuti acara ini. Ini adalah agenda tahunan yang diadakan RSB Amandha. Semoga ke depan RSB amandha bisa melayani masyarakat dengan lebih baik lagi,” katanya.
Hal senada dikemukakan ibu Ety, sekretaris Kelurahan Kemirirejo.
“Kegiatan semacam ini diperlukan sebagai upaya sosialisasi dan edukasi bagi masyarakat sekitar Kota Magelang. Terutama untuk ibu hamil dan pertumbuhan balita sehat,” katanya.(*/hes/Nr)