FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA ADU KUAT: Ujian kenaikan sabuk cokelat ke sabuk merah bela diri militer Yongmoodo yang dilaksanakan selama tiga hari, mulai 7 – 9 April lalu di GOR Sanyoto Akmil.
MAGELANG – Sejumlah organik Akademi Militer (Akmil) mengikuti ujian kenaikan sabuk cokelat ke sabuk merah bela diri militer Yongmoodo. Ujian dilaksanakan selama tiga hari, mulai 7 – 9 April 2015 di GOR Sanyoto Akmil.
Peserta harus melewati sejumlah ujian. Mulai sikap gerak dasar, pukulan, tendangan, jatuhan, kuncian, bantingan, dan puncak materi ujian adalah fighter. Ujian kenaikan sabuk diikuti 77 peserta dan yang berhasil lulus memenuhi kriteria dan berhak memakai sabuk merah hanya 18 orang.
Sebelum ujian dimulai, Ketua Tim Penguji Letkol Inf Slamet Kusaeri berpesan pada seluruh peserta ujian, agar mengikuti ujian kenaikan tingkat dengan sunguh-sunguh. Menurutnya, setiap gerakan dilaksanakan dengan serius dan tidak perlu ragu mengikuti petunjuk dan arahan pelatih serta tim penguji.
“Terpenting, utamakan faktor keamanan,” kata Slamet, beberapa waktu lalu.
Ditambahkan, bela diri militer (Yongmoodo) merupakan ilmu bela diri yang wajib dikuasai seluruh prajurit TNI-AD. Baik satuan tempur, banpur, maupun satuan teritorial/ satkowil. Keterampilan bela diri militer Yongmoodo diharapkan menjadi bekal bagi prajurit menjalankan tugas sehari-hari. Sehingga ujian kenaikan tingkat dari sabuk cokelat ke sabuk merah sudah diprogramkan dari awal dengan tujuan mengetahui sejauh mana hasil latihan yang dilaksanakan selama ini, sekaligus evaluasi perkembangan penguasaan tehnik bela diri Yongmoodo.
“Kenaikan tingkat sabuk merah BDM Yongmoodo merupakan momentum yang penting. Terutama mengukur tingkat keberhasilan latihan yang selama ini dilaksanakan, untuk selanjutnya dilakukan evaluasi guna mengoptimalkan pencapaian prestasi yang akan datang,” katanya.
Ditambahkan, adanya ujian kenaikan tingkat sabuk yang lebih tinggi tersebut, bagi peserta ujian yang nantinya berhasil dinyatakan lulus ujian, diharapkan ilmu bela diri Yongmoodo yang dikuasainya tidak membuat dirinya menjadi sombong dan bertindak arogan. Melainkan meningkatkan kemampuan prajurit agar bisa melaksanakan tugas pokok secara maksimal serta mengajarkan pada rekan kerja yang masih dibawahnya.(dem/hes/mga)