Foto Ilustrasi: Raka Denny/Jawa Pos/JPNN
PASTILAH kita sebagai orang tua, pernah menghadapi situasi ketika si kecil berbohong. Misalnya, si kecil mengelak ketika ditanya siapa yang menghabiskan cokelat milik adik? Apakah dia memecahkan vas?
Atau, mengatakan hasil ujian belum dibagikan, padahal sudah diberikan dan dia mendapat nilai jelek. Berpura-pura sakit agar tidak masuk sekolah karena belum mengerjakan tugas untuk hari itu?
Sebenarnya, apa yang membuat anak berbohong? Di antaranya, perasaan insecure. Lalu, mengalihkan kesalahan kepada orang lain. Peer pressure pun bisa mengakibatkan anak mengarang cerita yang tidak sebenarnya.
Kemudian, dia menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan seperti hukuman karena nilai jelek atau belum mengerjakan tugas.
Berbohong merupakan salah satu mekanisme pembelaan diri. “Sesekali berbohong, itu hal yang normal dalam tahap perkembangan anak,” tutur Elizabeth Santosa MPsi, psikolog keluarga.
Namun, kita tentu mengharapkan anak tumbuh dengan kejujuran. Lantas bagaimana menyikapinya? Psikolog yang juga ibu tiga putri itu menjelaskan, ketika menghadapi kondisi tersebut, orang tua jangan langsung melontarkan tuduhan kepada anak.
“Kamu bohong, ya? Kamu dapat nilai jelek, kan? Itu namanya judging, menuduh,” ujarnya. Yang seharusnya dilakukan orang tua adalah membeberkan fakta.
“Nak, ini ibu menemukan hasil ujianmu. Tapi, kamu bilangnya belum dibagikan. Kenapa nggak cerita sama ibu?” lanjutnya. Buat anak nyaman untuk bercerita, ajak mengobrol dengan nada lembut, serta jangan marah ketika dia sudah mengakui dan menceritakan yang sebenarnya.
Reaksi orang tua yang langsung marah dan menuduh anak berbohong sering kali membuat anak makin denial (menyangkal), takut, dan membuat kebohongan-kebohongan berikutnya.
Sebaliknya, jika orang tua membeberkan fakta dan konsekuensi, kebohongan tidak akan berlanjut. Selanjutnya, diskusikan solusinya. Misalnya, menemani anak belajar atau memberikan les untuk pelajaran yang kurang dia pahami. Paparkan juga konsekuensi ketika dia berbohong.
Misalnya, pergi ke mal bersama teman-teman, tetapi izinnya belajar kelompok. Jika terjadi apa-apa, orang tua sulit memantau. “Ibu perlu tahu karena itu tanggung jawab ibu. Dengan begitu, anak bisa mengerti dan lebih terbuka,” ucapnya.
Elizabeth juga mengingatkan agar orang tua tidak berbohong kepada anak. “Orang tua berjanji tetapi tidak ditepati, itu merupakan inkonsistensi dan sangat mungkin ditiru anak,” paparnya.
Bila tidak ingin anak berbohong, berikan teladan dengan selalu mengutamakan kejujuran dan keterbukaan.
Selain itu, hal tersebut berkaitan pula dengan cara orang tua meng-handle masalah. Ketika melakukan kesalahan, orang tua berani mengakui dan menerima konsekuensinya.
Karena itu, ketika si kecil berbuat salah, misalnya, dalam kasus memecahkan vas di rumah, dia berani mengakui, meminta maaf, dan menerima konsekuensinya. (nor/c23/dos/jpnn)