SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
SIAP UNAS : Siswa SMKN 1 Kalasan menggelar doa bersama jelang menghadapi ujian nasional (Unas) yang akan mulai digelar hari ini. Doa bersama ini dilakukan agar mereka diberi kemudahan dan kelancaran, serta mendapatkan hasil yang memuaskan.
SLEMAN- Hari ini, tiga siswa kurang beruntung karena harus menjalani ujian nasional (unas) di lembaga pemasyarakatan (lapas). Ketiganya tersebar di Lapas Cebongan, Sleman; Wirogunan, Kota Jogja, dan Wonosari, Gunungkidul. Meski sedang menjalani hukuman pidana, ketiga siswa tersebut tetap berhak menjalani unas. “Kami sudah berkoordinasi dengan pihak lapas masing-masing,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Sleman Arif Haryono kemarin (12/4).
Kebetulan, para siswa kurang berun-tung itu menjalani unas bersistem papper based test (PBT). Dengan begitu, pihak sekolah asal setiap siswa tidak perlu repot menyediakan sarana kom-puter dan jaringan internet. Cukup mendistribusikan soal-soal ke lapas. Dinas hanya perlu mengirimkan pengawas unas. “Tidak masalah. Kalau tesnya pakai CBT(computer based test) bisa repot,” kelakar Arif.Unas memang bukan penentu kelulusan siswa. Tetapi, untuk me-ngukur capaian kompetensi. Se kaligus menjadi salah satu dasar pertimbangan keberlanjutan siswa ke jenjang pen-didikan lebih tinggi.Sikap dan kelakuan baik selama sekolah justeru menjadi salah satu tolok ukur kelulusan.
Nah, terkait hal itu, Arif tak bisa menjamin tiga siswa yang terjerat kasus hukum bisa lulus. Menurut Arif, penilaian kelulusan bagi siswa tersebut diserahkan pada sidang dewan guru masing-masing sekolah.Sebagai ukuran penunjang pendidikan lebih tinggi, tiap siswa diharapkan bisa mencapai nilai unas minimal 5,5. Bagi yang mendapat nilai di bawah standar, diberi kesempatan untuk remidi pada 2016. Meskipun siswa bersangkutan telah diterima di perguruan tinggi.Unas SMA sederajat kali ini diikuti 11.011 peserta, dengan 89 sekolah penyelenggara, dari total e08 sekolah. Terdiri atas 59 SMA/MA dan 49 SMK. Sebanyak 1.956 mengikuti sistem CBT atau disebut unas online. Mengingat soal-soal didistribusikan dari pusat langsung ke pokja, setiap sekolah harus mengambil sendiri sebelum pelaksanaan unas. Arif meminta panitia tiap sekolah sesegera mungkin mengambil soal agar unas bisa dikerjakan tepat waktu. “Posisi soal sekarang sudah ada di pokja,” jelasnya
.Untuk soal CBT, didistribusikan langsungke server masing-masing sekolah penyelenggara unas online. Soal baru bisa dibuka pada hari pelaksanaan, oleh petugas (proktor).Arif optimistis, Sleman mampu mempertahankan prestasi dalam pelaksanaan unas. Meskipun, semua sistem yang diterapkan tergolong baru, Arif mengklaim, para siswa telah siap, baik mental maupun materi. Arif memastikan tak akan ada ken-dala berarti dalam pelaksanaan unas online. Tiap sekolah telah me-nyediakan sarana memadai. Mulai unit komputer, server, jaringan internet, hingga daya listrik.Kepala Bidang Kurikulum dan Ke-siswaan Ery Wirdayana mengatakan, tidak semua sekolah menjadi pe-nyelenggara unas lantaran berbagai hal. Yakni, kurangnya jumlah siswa, sarana, dan akreditasi. Konsekuen-sinya, 19 sekolah harus menginduk ke sekolah penyelenggara unas yang lokasinya berdekatan “Sekolah bisa menjadi penyelenggara unas setidaknya pernah meluluskan siswa,” jelasnya.Menurut Eri, semua sekolah yang harus menginduk adalah sekolah swasta yang masih baru. (yog/din/ong)