RUJUKAN: Keberhasilan para petani Cabai diDesa garongan tidak lepas dari keberadaan klinik PHT yang berfungsi optimal.Seperti manusia, tanaman juga butuh kesehatan. Para petani holtikultura di Garongan, Panjatan memiliki klinik pengendalian hama terpadu (PHT). Apa itu Klinik PHT?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
Petani, ibarat orang tua dari tanaman. Mulai dari benih, disemai, hingga tumbuh besar dan berproduksi. Semua melalui proses. Tidak jarang sebagian dari tanaman terserang sakit. Maka, dengan cepat diobati, butuh asupan gizi. Petani tidak akan ragu menambahkan pupuk hingga tanaman segar dan tumbuh bersemi kembali.
Nah, saat ini, hamparan lahan di Garongan penuh dengan tanaman cabai. Tanaman-tanaman ini subur dan mulai berproduksi. Dan Agustus mendatang baru akan diganti dengan komoditas tanaman lainnya, yakni semangka.”Petani di sini memang mengikuti pola tanam cabai semangka semangka,” terang Ketua Kelompok Tani (Klomtan) Bangun Karyo, Garongan, Panjatan Sudiro.
Klomtan Bangun Karyo punya 114 anggota dengan luas lahan garapan 40 hektare. Di daerah ini, mereka mulai peduli dengan media tanah. Mereka pun mulai menerapkan sistem organik dalam pengolahan lahan.”Sudah kami lakukan sejak tahun 1980. Kami sadar, jika tidak begini, lambat laun lahan menjadi rusak,” jelasnya.
Tumbuhnya kesadaran petani dalam menerapkan sistem organik tidak lepas dari keberaan klinik PHT. Melalui klinik itu, upaya mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida ditularkan. Banyak yang kemudian mengikuti, lantaran biaya pupuk atau pestisida kimia bisa dipangkas. Bahkan dalam dua tahun terakhir, penggunaan pupuk kimia termasuk permintaan pestisida bisa turun hingga 25 persen. “Petani sebetulnya hanya cukup melihat bukti. Ketika terbukti berhasil seperti ini mereka ramai-rami mengikuti,” katanya.
Menurut Sudiro, secara otomatis penggunaan pupuk kandang pun terus bertambah. Terlebih setelah dikenalkan teknis fermentasi, penggunaan pupuk kimia semakin turun lagi. Karena terbukti fermentasi bisa lebih efektif dan efisien digunakan. “Semoga klinik PHT dan penyuluhan serperti ini tidak hanya berhasil di kelompk tani kami saja,” tambahnya.
Di Garongan sendiri ada tiga kelompok, belum lagi di Desa Pleret, Bugel hingga Desa Karangsewu yang juga membutuhkan sentuhan klinik PHT.
Dosen Fakultas Pertanian IPB yang juga tim perancang Klinik PHT Direktorat Perlindungan Hortikultura Kementrian Pertanian RI Suryo Wiyono mengakui keberhasilan Klinik PHT ini. Keberhasilan itu rencananya akan segera di replikasikan ke seluruh wilayah di Indonesia.”Kulonprogo menjadi salah satu model percontohan pengembangan Klinik PHT,” ungkapnya.
Suryo menjelaskan, keberadaan klinik PHT ini sangat membantu para petani. Sehinga desimansi teknologi dari tanaman holtikultura bisa lebih cepat. Termasuk layanan bagi petani holtikultura juga lebih baik. “Klinik PHT ini berbasis masyarakat. Jadi klinik ini dikelola oleh kepompok tani. Di dalamnya juga mendukung pelatihan, prasarana,” jelasnya.
Klinik PHT juga bertujuan untuk memasyarakatkan teknologi pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan. Khususnya di Kulonprogo, salah satu komoditas koltikultura yang berkembang cabai. Padahal, selama ini tanaman cabai dikenal dengan penggunaan pupuk dan pestidia kimia yang sangat tinggi. “Nah klinik PHT di sini ternyata sudah mampu menjadi rujukan para petani dalam pola pengendalian hama tanaman ramah lingkungan. Termasuk pemahaman penggunaan pupuknya organik di sini juga sudah bisa diakses baik melalui klinik,” katanya.
Menurut Suryo, klinik PHT ini tak ubahnya seperti pusksesmas atau posyandu sebagai tempat mengadu atau berkeluh kesah tenttang penyakit, kendati di Klinik PHT ini akan menjadi rujukan para petani. Di tingkat Provinsi DIJ sebetulnya sudah ada Balai Perlindungan Tanaman Pertani (BPTP), namun untuk menjangkau langsung ke masyarakat tentunya tidak mudah. “Sehingga keberadaan klinik PHT ini diharapkan bisa menyebar luas ke seluruh Indonesia. Sehingga jika ada petani menemui masalah hama bisa lebih mudah untuk merujuk ke mana,” harapnya. (*/din/Nr)