JOGJA – Iming-iming bocoran soal ujian nasioal (Unas) selalu mengiringi pelaksanaannya. Se-perti saat ini muncul informasi di beberapa seko-lah adanya iming-iming bocoran soal Unas. Ten-tu saja, bocoran soal ini harus ditebus dengan uang. Sebagai seorang pelajar yang percaya akan ke-mampuan diri sendiri, seharusnya memang tidak terpengaruh. Apalagi ikut-ikutan membeli boco-ran soal tersebut
Jika menemukan hal itu, me-reka malah bisa melaporkan ke Ombudsman Republik Indone-sia (ORI) DIJ dan Jawa Tengah.”Silakan lapor, cukup melalui SMS ke nomor 083840551100,” tandas Kepala Perwakilan ORI DIJ dan Jateng Budhi Masthuri kemarin (12/4).Budhi menjelaskan, sama se-perti pelaksanaan Unas tahun-tahun sebelumnya, ORI DIJ dan Jawa Tengah membuka posko pengaduan. Berbentuk apa pun, bisa saja kecurangan seperti kabar beredarnya bocoran soal, kecurangan pelaksanaan, sam-pai mal administrasi pelaks-anaan Unas.”Yang berkaitan dengan kesa-lahan prosedural, segera lapor ke kami,” pinta Budhi.
Hanya saja, Budhi mewanti-wanti pelapor untuk memberikan data yang jelas. Baik bentuk ke-curangan, tempat kecurangan, dan tentu saja identitas pelapor. “Identitas pelapor ini hanya un-tuk konfirmasi kami dalam rangka validasi laporan. Kami juga jamin kalau pelapor me-minta dirahasiakan, kami akan jaga, karena itu hak pelapor,” imbuh Budhi.Berdasarkan pengalaman pelaksanaan tahun lalu, kata Budhi, laporan yang masuk cu-kup banyak. Tapi, untuk tindak lanjut pihaknya mengalami kesu-litan. Ini karena data yang disam-paikan pelapor tidak valid. “Saat kami kroscek ke pelapor, juga tidak bisa. Nomornya tidak aktif,” tambahnya.Selain membuka layanan SMS, pelapor juga bisa datang langs-ung ke kantor ORI DIJ di Jalan Wolter Monginsidi. “Kalau ing-in segera ditindaklanjuti saat itu juga, bisa saja datang langsung,” tambah Budi.
Untuk pelaksanaan Unas tahun 2015 ini, Kepala Disdik Kota Jogja Edy Heri Suasana menje-laskan, 12 SMK akan melaks-anaan Unas berbasis komputer. Sedangkan sekolah lain itu SMA dan MA, pelaksanaannya dengan tertulis.”Setiap sesi diberi waktu dua jam mengerjakan. Kemudian ada jeda setengah jam dilanjut-kan sesi peserta berikutnya. Setiap peserta Unas berbasis komputer akan mendapatkan soal yang berbeda,” katanya. Selain itu, untuk pelaksanaan Unas kali ini pengawas meng-gunakan sistem silang. Guru mengawasi siswa di sekolah yang bukan tempat mengajarnya sehari-hari. Sedangkan, petugas kepolisian, ditarik. “Tak ada pe-tugas kepolisian, baik berseragam maupun tidak berseragam,” ujar-nya memastikan.
Kepala Dinas Pendidikan Pe-muda dan Olahraga (Disdik-pora) DIJ Baskara Aji mengata-kan, semua penyelenggara Unas berbasis komputer semua sudah siap. Pihak sekolah juga sudah mengunduh soal. Namun soal Unas berbasis komputer baru dapat dibuka pada hari Senin (13/4) dengan password dari pusat.”Soal sudah diunduh di komputer sekolah. Tapi kami tetap siapkan soal cadangan Unas tertulis, jika terjadi kegagalan pelaksanaan Unas seperti semua komputer ngadat,” terang Aji.Pada Unas tahun ini, ada 48.612 siswa yang akan mengikuti. Me-reka termasuk siswa difabel di sekolah inklusi maupun di SMA Luar Biasa, maupun peserta kejar Paket C. Juga tiga siswa di DIJ yang mengikuti Unas di Lem-baga Pemasyarakatan (Lapas), yakni dua siswa di Lapas Ce-bongan (Sleman) dan satu siswa di Lapas Wirogunan (Kota Jogja).”Akan dikirim tiga orang pelaks-ana Unas di Lapas. Satu petugas merupakan guru yang mem-bawa soal dan dua petugas men-jadi pengawas pelaksanaan Unas di Lapas,” tuturnya. (eri/laz/ong)