FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-1.109 Kota Magelang diramaikan kehadiran Grebeg Gethuk. Dua buah gunungan yang melambangkan lingga dan yoni dan berisi 1.109 makanan khas Kota Magelang ini memang yang ditunggu-tunggu.
KEDUA gunungan tersebut diarak dan diperebutkan ribuan warga di Alun-alun Kota Magelang, kemarin (12/4). Selain gethuk yang terbuat dari olahan singkong, warga juga berebut 17 gunungan yang terbuat dari beragam sayur-mayur dan kerajinan tangan. Semua itu melambangkan hasil bumi dari 17 kelurahan yang ada di Kota Magelang.Ada yang menarik pada acara tersebut. Kota Magelang dikenal sebagai wilayah yang tidak mempunyai lahan pertanian luas. Namun, gunungan dari masing-masing kelurahan yang diperlombakan panitia Grebeg Gethuk mengusung sayur-mayur atau hasil bumi
Hanya satu kelurahan, yakni Kelurahan Jurangombo Utara yang mengusung gunungan sayur-mayur dan hasil kerajinan tangan warganya berupa mainan anak.”Semestinya, kirab tidak ter-paku pada gunungan-gunungan yang sejatinya merupakan tradisi keraton. Terlebih Kota Magelang nyaris tidak memiliki sawah dan lahan pertanian yang bisa dita-nami tanaman palawija maupun sayur-sayuran. Jadi kurang pas, kalau kirab 17 gunungan pala-wija itu disebut mewakili potensi sumber daya alam di 17 kelurahan di wilayah ini,” kritik Sekretaris Fraksi Hanura dan NasDem (Hannas) DPRD Kota Magelang Aktib Sundoko.
Aktib melanjutkan, Pemkot Magelang selalu menggaungkan kota tersebut sebagai Kota Jasa. Yakni, kota yang memberikan berbagai pelayanan jasa pada masyarakat. Mulai sektor pen-didikan, kesehatan, perdagang-an, pariwisata, hingga seni budaya. Di sisi lain, ungkap Aktib, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tumbuh pesat di setiap kelurahan di Kota Magelang. Tidak sedikit warga yang mampu menghasilkan produk kerajinan tangan khas. Seperti cindera-mata dan aneka makanan tra-disional.”Dari 17 kirab gunungan tadi, hanya dua kelurahan yang betul-betul mewakili potensi asli daerah setempat. Yakni kelurahan Jurangombo Utara dengan gunungan kerajinan berupa mainan kayu untuk anak-anak dan kelurahan Rejowinangun Utara dengan kesenian tarian Topeng Ireng,” tegas Aktib.
Kendati begitu, ia meng apresiasi upaya Pemkot Magelang me-lestarikan tradisi dengan prosesi Grebeg Gethuk tersebut. Ia ber-harap ke depan seni dan budaya di Kota Sejuta Bunga ini juga berkembang dan mampu me-ningkatkan kunjungan wisatawan. Baik domestik maupun manca-negara.Selain soal gunungan, seperti tahun sebelumnya, proses Grebeg Gethuk molor dari jadwal dan kurang akomodatif dengan masyarakat yang ingin me nonton. Molornya jadwal disebabkan Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito dan rombongan baru memasuki Halaman Masjid Agung Kota Magelang pukul 09.000, setelah berdandan adat Jawa di Kantor PDAM Kota Magelang, yang berjarak 300 meter. Padahal, ia dijadwalkan memulai kegiatan pukul 07.30.Wali Kota Sigit Widyonindito menjelaskan, gerebe Gethuk merupakan salah satu tradisi untuk mengangkat budaya dan kuliner khas Kota Magelang. Tradisi ini diselenggarakan setiap tahun dengan harapan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Sejuta Bunga ini.”Gethuk itu makanan tra disional yang perlu dibanggakan. Pro-sesi ini sebagai upaya untuk nguri-uri (melestarikan) tradisi yang ada,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, wali kota dan forum pimpinan daerah (forpimda) mengenakan pakaian adat Jawa Tengah lengkap ber-warna merah. Mereka duduk di panggung kehormatan bersama 16 duta besar dan delegasi dari negara sahabat. Turur hadir, Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmiko dan pimpinan daerah sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Berdasar pantauan, hanya ter-lihat Wabup Temanggung Irawan Prasetyadi dan Plt Sekda Ka-bupaten Magelang Agung Trijaya. Prosesi dilanjutkan pertunjuk-kan tari kolosal oleh ratusan penari yang menamakan diri Laskar Diponegoro. Mereka memperlihatkan tarian tentang sejarah terbentuknya Kota Magelang.Setelah itu, digelar upacara Jawa, di mana seluruh peserta upacara mengenakan pakaian adat Jawa. Termasuk aba-aba dan sambutan inspektur upa-cara pun menggunakan bahasa Jawa.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmiko menyambut baik Grebeg Gethuk. Menurut Heru, tradisi ini wujud per hatian pemerintah daerah dan warga dalam melestarikan budaya bangsa.”Kami punya kekayaan budaya yang beragam dan luar biasa. Jadi Bhineka Tunggal Ika tidak dimaknai budaya dan seni bangsa harus seragam, akan tetapi justru keragaman ini menjadi pemersatu bangsa,” papar Heru.Usai prosesi Grebeg Gethuk, rombongan wali kota dan for-pimda keliling kota dengan ke-reta kencana. Sebelumnya, ada prosesi tedhak siten bagi wali kota. Duta besar atau delegasi dari negara sahabat yang hadir antara lain dari Portugal, Jerman, Arab Saudi, Sri Lanka, Mongolia, Hongaria, Kazakhztan, Ekuador, Zimbabwe, Inggris, Amerika Serikat, Libya, India, China, dan Kuba. (dem/hes/ong)