JOGJA – Pemprov dan semua pemkab/pemkot di Provinsi DIJ serta Himpunan Wiraswasta Na-sional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) DIJ akhir-nya menyepakati kenaikan harga eceran tertinggi (HET) gas ukuran 3 kg di DIJ menjadi Rp 15.500. Kesepakatan itu kini tinggal menunggu tanda tangan Gubernur HB X untuk dijadikan Pergub.Kepala Biro Perekonomian Setprov DIJ Tri Mulyo-no mengatakan, dari hasil pertemuan semua pihak sudah sepakat dengan kenaikan HET gas melon di DIJ dari Rp 14.000 saat ini menjadi Rp 15.500. Ini sama dengan HET di Jawa Tengah. “Semua kabupaten/kota dan Hiswana sudah sepakat HET menjadi Rp15.500. Sekarang proses-nya masih di Biro Hukum, sebelum dimintakan tanda tangan ke Pak Gubernur,” terang Tri Mulyo-no kemarin (13/4).
Menurut dia, dengan kenaikan HET itu tidak otomatis menaikkan harga di pasaran. Tapi seba-liknya, justru membatasi harga di tingkat agen dan pangkalan. Jika ada agen dan pangkalan menaikkan harga di atas HET yang ditetapkan, akan mendapat sanksi tegas dari Pertamina.Tetapi untuk harga di tingkat pengecer, diakui-nya, Pemprov DIJ dan Pertamina tidak bisa mengambil tindakan, karena pengawasan hanya sampai di pangkalan. Menurut dia, seharusnya dari pangkalan, distribusi langsung ke masyara-kat, tapi dalam praktiknya terdapat pengecer yang mendekatkan pangkalan ke masyarakat. Di tingkat pengecer ini biasanya mereka mengam-bil uang transport. “Kalau harganya masih di ba wah Rp18 ribu, saya kira masih wajar. Yang pen ting barangnya ada,” jawab Tri ketika ditanya har ga ideal gas melon di tingkat pengecer.Terpisah, Ketua Hiswana Migas DIJ Siswanto mengatakan, seharusnya DIJ juga bisa mem-buat aturan tentang HET di tingkat pengecer. Hal itu untuk mencegah harga di pasaran yang bisa melonjak. (pra/laz/ong)