VALENTINA SITORUS/EKSPRESIMANUSIA: Beberapa anak keliatan begitu asik ngumpul di sekolah Gajah Wong sambil menggambar aneka bentuk manusia.Upaya Mandiri Memutus Rantai Kemiskinan  
SATU kilometer dari pusat pemerintahan kota Jogja ato balaikota Jogja, beberapa anak balita kliatan lagi asik corat-coret di atas kertas. Mereka serius banget, mencoba menggambar aneka bentuk manusia dengan alat tulis ato alat mewarnai yang seadanya. Sederhana, tapi itulah fantasi yang mereka punya.
Mereka melakukan semua aktivitas itu di ruangan yang sederhana berukuran 4×7 meter. Lokasinya di bantaran kali Gajah Wong, kampung Balerejo kawasan Ledhok Timoho Jogja. Meski bentuknya sangat sederhana, tapi atmosfir yang muncul dari ruangan itu betul-betul istimewa.
Sebenernya, ruang sederhana itu tadi adalah bangunan kelas. Nama sekolahnya Gajah Wong. Beda banget dibanding sekolah pada umumnya. Soalnya enggak butuh biaya operasional besar untuk bisa sekolah di sini. Karena sekolah yang diresmikan oleh GKR Pembayun 24 Januari tahun 2013 ini adalah sekolah gratis untuk masyarakat miskin Jogja.
Sekolah ini lebih cocok disebut PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang ditujukan bagi anak usia 3-7 tahun. Ada dua kelas di sekolah ini, yaitu Kelas Akar untuk yang usia 3-5 tahun, dan Kelas Rumput untuk yang usia 5-7 tahun. Jumlah siswa maksimalnya ada 20 anak dengan kegiatan pembelajaran tiap Senin sampai Jumat mulai pukul 08.00 sampai 11.00 WIB.
Sekolah yang beroperasi sejak empat tahun lalu ini semula didirikan dengan dana seadanya. Didirikan atas ide masyarakat kampung Balerejo yang notabene berlatar belakang sebagai pemulung. Berdiri atas dasar keinginan warganya agar nantinya bisa hidup lebih baik. Mereka punya keinginan untuk memutus rantai kemiskinan, melalui pendidikan.
“Puluhan tahun kita hidup dalam putaran roda kemiskinan. Cukup generasi kita saja yang merasakan, tapi anak-anak kita jangan. Ke depannya, kita harus hidup lebih mampu menata hidup untuk lebih maju. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah melalui pendidikan,” ujar Faiz Fakhruddin koordinator pendiri Sekolah Gajah Wong.
Berbeda dengan kurikulum sekolah lainnya, sekolah Gajah Wong lebih mengarah pada kebutuhan anak yang didasarkan pada pemenuhan empat hak anak. Yaitu, hak memperoleh pendidikan, hak mendapatkan perlindungan, hak untuk tumbuh kembang, dan hak berpartisipasi. Selain itu juga lebih mengedepankan pendidikan karakter untuk anak.
Dan ternyata sekolah ini enggak cuma untuk anak-anak usia dini. Soalnya setiap hari Sabtu diadakan share bersama warga yang juga merupakan orang tua siswa siswi sekolah ini. Pertemuan orangtua ini berfungsi untuk membahas soal kemajuan sekolah nantinya. Sehingga, sekolah ini memiliki empat program di antaranya sampah untuk anak, fun rising (penjualan hasil karya masyarakat), peternakan, dan donasi.
“Kami menggunakan barang bekas sebagai sarana pembelajaran. Karena kita juga menerapkan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Ini sekaligus melatih anak-anak agar lebih kreatif dalam pemanfaatan barang-barang bekas,” tutur Bapak Faiz yang juga guru volunteer Sekolah Gajah Wong.
Faiz mantan dosen fakultas PGRA sebuah Perguruan Tinggi di Pati. Dia dan masyarakat sekitar Ledok berharap sekolah ini akan terus berkembang, dan akan semakin banyak masyarakat yang peduli pentingnya pendidikan gratis bagi anak-anak, terutama bagi masyarakat yang enggak mampu.
Beberapa waktu lalu, anak-anak itu diajak menonton pesawat. Beberapa hari kemudian anak-anak itu diajak membuat karya kreatif dari bahan botol air mineral. Mereka membuat aneka bentuk pesawat terbang yang ada dalam gambaran benak mereka. Pesawat pesawat terbang buatan mereka itupun segera memenuhi ruang kelas. (val/man/Nr)