HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA SAYANGI MEREKA: Anak-anak merupakan generasi penerus yang sudah selayaknya dijaga dan dilindungi, karena ditangan mereka tampuk kepemimpinan akan diserahkan. Terlihat anak-anak tengah berjalan pulang bersama usai sekolah.
KULONPROGO – Banyaknya jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kulonprogo terus menjadi sorotan dewan. Terlebih, peningkatan jumlah kasus kekerasan pada perempuan dan anak masih terjadi setiap tahunnya.
“Kami mengutuk keras terjadinya kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kami menilai para pelaku adalah musuh negara yang sesungguhnya,” tegas anggota DPRD Kulonprogo Ika Damayanti Fatma Negara, kemarin (13/4).
Menurut Ika, tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sangat memprihatinkan. Terlebih sebagian besar korbannya yakni anak-anak, yang tidak lain generasi penerus. “Sangat disayangkan ketika mereka justru mendapat siksaan yang kemungkinan akan mengakibatkan cacat fisik maupun mental,” ujar politikus asal Partai Gerindra itu.
Juru Bicara Fraksi Partai Golkar (FPG) Wisnu Prastya mengungkapkan hal senada. Dia menilai kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan persoalan yang kompleks dan multidimensional. Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut aspek sosial, budaya dan hukum, tetapi juga berkaitan dengan persoalan ekonomi, khusunya kemiskinan.
Perlu upaya penyelesaian yang komprehensif yang melibatkan semua pihak dengan pendekatan yang terintegrasi. Kondisi ini harus bisa menggugah simpati dan empati. Perlu ada jaminan dan perlindungan dari semua pihak. “Terutama dari keluarga, mereka harus bisa menjadi institusi yang menjaga dan menjamin anak bebas dari segala bentuk tindak kekerasan,” ungkap Wisnu.
Sebelumnya, Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo dalam rapat paripurna (rapur) DPRD tentang penyampaian tiga raperda tentang Tempat Rekreasi dan Olahraga, Raperda Perlindungan Terhadap Perempuan dan Anak Korban Kekerasan serta Raperda Penanggulangan Bencana juga mengungkapkan hal serupa.
Sutedjo mengungkapkan, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan mengalami peningkatan cukup signifikan dari tahun ke tahun. Tren peningkatan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan bahkan mencapai 50 persen. Setidaknya jika dilihat data di tahun 2011 dengan jumlah kejadian 59 kasus, sementara di tahun 2014 naik menjadi 92 kasus.
Sutedjo memaparkan, dari 59 kasus yang terjadi pada tahun 2011 rinciannya kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 32 dan kekerasan terhadap anak 27 kasus. Sementara di tahun 2012 sempat terjadi penurunan menjadi 53 kasus. Dengan rincian 26 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 27 terhadap anak.
Sementara di tahun 2013 meningkat lagi menjadi 79 kasus, meliputi 40 kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan 39 kasus kekerasan terhadap anak. Sedangkan di tahun 2014 naik drastis menjadi 92 kasus. Dengan rincian kekerasan terhadap perempuan sebanyak 54 kasus dan kekerasan terhadap anak 38 kasus.
“Melihat kenaikan jumlah kasus tersebut, tidak berarti upaya pencegahan dan penanggulangan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kulonprogo tidak dilakukan. Namun memang masih diakui perlu penguatan kelembagaan yang dapat menjamin efektivitas pelaksanaannya,” terangnya. (tom/ila/mga)