Setiaky/Radar Jogja
SUDAH DITERIMA: Humas PN Sleman Marliyus SH menunjukkan salinan putusan PK Mary Jane Fiesta Veloso dari Mahkamah Agung kemarin (14/4).
Ulur Waktu untuk
Hindari Eksekusi Mati
JOGJA – Upaya hukum “ratu heroin” Mary Jane Fiesta Veloso untuk bisa terhindar dari eksekusi mati di hadapan regu tembak, terus dilakukan. Setelah Peninjauan Kembali (PK)-nya ditolak oleh Mahkamah Agung, terpidana mati kasus narkoba ini akan kembali mengajukan PK kedua.
Soal rencana warga negara Filipina yang menjadi kurir narkoba itu mengajukan PK ke-2, disampaikan salah seorang penasihat hukumnya. “Kemungkinan kami memang akan mengajukan PK lagi,” ujar penasihat hukum Mary Jane, Agus Salim SH kemarin (14/4).
Namun, sebelum upaya itu dilakukan tim penasihat hukum akan menelaah alasan penolakan PK tersebut. Selanjutnya, pihaknya akan berkomunikasi dengan Mary Jane untuk menyikapi putusan MA tersebut.
“Kami akan ajukan bukti baru berkaitan penerjemah. Kami melihat ada kesalahan dalam penunjukan penerjemah saat sidang di pengadilan tingkat pertama,” terang Agus.
Dari penelurusan tim penasihat hukum, status penerjemah Mary Jane saat menjalani sidang tingkat pertama 2010 masih berstatus mahasiswa. Yakni, mahasiswa Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA yaitu Nuraini. “Ini pelanggaran karena yang bersangkutan tidak memiliki kompetensi sebagai penerjemah. Apalagi, Mary Jane hanya bisa berbahasa Tagalog, tidak menguasai Bahasa Inggris,” beber Agus.
Di sisi lain, Humas PN Sleman Marliyus SH mengatakan, pihaknya telah menerima salinan petikan putusan PK dari MA. Putusan Nomor 51/PK/Pidsus/2015 tersebut diterima kemarin (14/4). “Hari ini juga salinan putusan langsung kami sampaikan ke kuasa hukum dan Kejaksaan Tinggi DIJ,” kata Marliyus kemarin.
Selain itu, PN Sleman juga akan mengirimkan delegasi untuk menyampaikan salinan petikan putusan kepada Mary Jane di Lapas Wirogunan, Jogja. “Hari ini salinan akan kami sampaikan juga ke pemohon di Lapas Wirogunan,” tambah Marliyus.
Menurutnya, dalan salinan putusan disebutkan bahwa MA menolak putusan PK yang diajukan Mary Jane. Keputusan itu diambil berdasar sidang 25 Maret lalu yang diketuai M. Saleh, dengan anggota Timur Manurung dan Andi Samsan Nganro.
Pertimbangannya karena majelis tidak menemukan kekeliruan dalam proses sidang sebelumnya. Selain itu, saat sidang di pengadilan tingkat pertama tim penasihat hukum Mary Jane tidak mengajukan protes atas peran penerjemah bahasa.
“Penerjemah sudah disumpah di hadapan hakim, sehingga, hakim menilai penerjemah telah menjalankan tugasnya secara benar,” tambah Marliyus.
Mary Jane Semakin Rajin Beribadah
Sementara itu, Mary Jane Fiesta Veloso nampaknya sudah pasrah dan menerima atas nasib yang dialaminya. Mendekati waktu eksekusi mati, ia kini semakin rajin mengikuti peribadatan di Lapas Klas IIA Wirogunan, Jogja. Ia bahkan kerap beribadah sendiri di luar jadwal yang diadakan pihak lapas.
“Setiap minggu dia ikut kegiatan Paskah, termasuk hari ini juga ikut misa Paskah,” kata Kepala Lapas Wirogunan Zaenal Arifin. Menurut Zaenal, saat menjalankan peribadatan Mary Jane kadang didampingi rohaniawan. Ia dibimbing rohaniawan agar ikhlas menjalani apa yang dialaminya. Tak ketinggalan rohaniawan ikut membimbing, menguatkan iman bahwa takdir yang dialaminya telah digariskan oleh Tuhan. “Dia biasa saja, ikut membaur dengan napi lainnya,” tambah Zaenal.
Kepala Kanwil Kemenkum HAM DIJ Endang Sudirman mengatakan, pihaknya menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan prosedur pemindahan Mary Jane pasca permohonan Peninjauan Kembali (PK) ditolak oleh MA. “Kami tetap akan menyiapkan dokumen dan menjalankan SOP pemindahan,” kata Endang.
Hanya, ia tidak mengetahui kapan Mary Jane akan dipindahkan. Sebab, secara yuridis mengenai pemindahan dan pelaksanaan eksekusi Mary Jane ada di tangan Kejaksaan Agung. Institusinya sekadar mendapat titipan untuk merawat terpidana selama tinggal di Lapas. “Jadi, pemindahan nunggu perintah Kejagung,” terang Endang.
Endang menduga, Mary Jane belum dipindahkan karena Lapas Nusakambangan tidak ada fasilitas lapas khusus perempuan. “Kemungkinan belum dipindahkan karena di sana tidak ada lapas wanita,” jelasnya.
Di sisi lain, Kejati DIJ terus berkoordinasi dengan institusi lain seperti Polda DIJ dan Korem 072/Pamungkas. Koordinasi ini berkaitan dengan teknis pemindahan Mary Jane dari Lapas Wirogunan ke Lapas Nusakambangan. “Kami terus koordinasi,” kata Aspidum Kejati DIJ Tri Subardiman. (mar/cr3/laz/mga)