HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
PANTAU: Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo saat memantau pelaksanaan Unas di SMA N 2 Wates, kemarin (14/4).
KULONPROGO – Evaluasi pelaksanaan Unas di Kulonprogo dinyatakan relative lancar. Hanya saja, ada beberapa peserta yang resmi mengundurkan. Setidaknya ada delapan siswa yang tidak ikut pelaksanaan unas hingga hari kedua yang diadakan kemarin (14/4).
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kulonprogo Sumarsana menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan Unas hari pertama, jumlah peserta yang tidak hadir sebanyak delapan siswa. Enam di antaranya resmi mengundurkan diri tidak ikut Unas, sementara dua sisanya berhalangan hadir lantaran sakit.
“Untuk rekap hari ini belum masuk, tapi yang jelas enam peserta resmi mengundurkan diri. Itu lantarab ada yang sudah bekerja dan dengan kesibukan lainnya. Pihak sekolah sudah merunut sampai ke rumah, tapi yang bersangkutan memang sudah tidak ingin melanjutkan atau mengikuti Unas,” jelasnya.
Sumarsana mengatakan, memang cukup disayangkan sebetulnya ketika mereka tidak sanggup bertahan untuk mengikuti Unas. Namun semua kembali menjadi pilihan, sementara secara keseluruhan pelaksanaan Unas baik dengan sistem Computer Based Test (CBT) atau Paper Based Test (PBT) berlajan lancar.
“Bahkan dari pantauan kami di sekolah yang paling jauh dari titik penyimpanan soal di SMK Bopkri Samigaluh juga berjalan lancar, baik distribusi soal atau tingkat kehadiran peserta. Tidak ada keluhan baik kesalahan cetak atau sebagainya. Itu menandakan distribusi soal berjalan lancar, sementara semua siswa masuk,” katanya.
Disinggung kendala pelaksanaan UN denga sistem CBT, Sumarsana menyatakan tidak ada masalah berarti. Diakui memang sempat terjadi keterlambatan dalam mengunduh soal, namun itu juga masih bisa diatasi tanpa melewati jadwal unduh yang ditentukan pusat pada Minggu (12/4). Saat pelaksanaan, baik sesi pertama, kedua dan ketiga juga berjalan lancar.
“Kendala teknis ada tapi tidak vital, listrik juga tidak mati kendati kami sudah menyiapkan genset. Termasuk servernya juga bisa dioperasikan dengan baik,” ucapnya.
Ditanya kelebihan dan kekurangan Unas sistem CBT, Sumarsana menuturkan, sistem CBT sebetulnya cukup efektif dan efisien. Itu karena hanya cukup dengan sekali download, soal sudah bisa diakses. Selain itu, jika dilihat dari sisi kerahasiaan dan keamanan juga lebih terjamin.
“Tidak perlu ada penjagaan yang ketat di gudang penyimpanan soal. Karena soal juga belum bisa dibuka jika saatnya belum tiba. Artinya, kemungkinan kebocoran soal lebih minim, karena pihak penjagaa pun tidak bisa membuka soal,” tuturnya.
Sumarsana menjelaskan, jika kebijakan Unas sistem CBT ini akan berlanjut, pihaknya mengaku akan mengikuti. Meskipun sistem baru ini juga masih akan dievaluasi secara nasional. Fokus yang dilakukan ke depan yakni terkait persyaratannya. Semisal jumlah komputer harus 1/3 jumlah siswa, semua itu akan menjadi bagian perjalanan sampai pelaksanaan Unas tahun depan.
Terkait anggaran, dalam pelaksanaan UN sistem CBT perdana, khususnya untuk pengadaan komputer dalam pelaksanaan pertama dinilai sangat mempet waktunya. Sehingga belum sempat bicara tentang alokasi anggaran pengadaan komputer.
Buktinya hanya sekolah yang sudah siap saja yang bisa mengaplikasikan. Di Kulonprogo dilakukan di SMK N 1 Pengasih. Itu juga lantaran sekolah setempat ada jurusan yang mengharuskan penggunaan komputer, sehingga ketersediaan komputer sudah bisa 1/3 dari jumlah siswa dan itu sesuai dengan persyaratan yang ditentukan pusat.
Sumarsana menilai, SMK memang lebih siap untuk aplikasi UN Sistem CBT dibanding SMA. Sebab SMK hampir 50 persen memiliki jurusan yang membutuhkan komputer. “Di Kulonprogo total ada 37 SMK, 16 SMA dan empat MA,” terangnya. (tom/ila/mga)