FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
 
MAGELANG – Grebeg Gethuk yang dilaksanakan setiap memperingati hari jadi dianggap kegiatan yang menarik dan patut diuri-uri. Kegiatan tersebut dianggap tradisi yang positif untuk memamerkan atau menunjukkan potensi setiap wilayah yang ada di Kota Magelang. Baik dari sisi sumber daya alam (SDA), kerajinan, makanan khas maupun keseniannya.
Hanya perlu ada perbaikan kemasan dan promosi agar lebih bisa menjual sebagai potensi pariwisata. Masukan itu datang dari anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Kota Magelang.
“Grebeg Gethuk harus dipertahankan. Meski ada catatan di sana-sini. Apalagi sudah dicintai masyarakat Magelang. Bahkan, bisa dikatakan momen yang ditunggu-tunggu setiap ada peringatan Hari Jadi Kota Magelang,” tegas Wakil Ketua Fraksi Hanura Nasdem (Hannas) DPRD Kota Magelang HIR Jatmiko kemarin (15/4).
Pria yang pada Grebeg Gethuk Minggu lalu (12/4) ikut tampil mengawal gunungan dari Kelurahan Cacaban tersebut melihat potensi yang besar di balik kegiatan tersebut. Di antaranya, masyarakat bisa bergotong royong membuat gunungan. Ini juga yang dilakukan masyarakat Kelurahan Cacaban yang membuat gunungan berisi sayuran dan gethuk.
“Ada kreasi dan gotong royong dalam pembuatan gunungan. Apalagi gunungan tersebut dilombakan. Karenanya, proses kreasi betul-betul dimaksimalkan,” paparnya.
Jatmiko yang juga wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Magelang ini menginginkan adanya penyesuaian bentuk maupun isi gunungan dengan potensi yang ada pada masing-masing wilayah. Sehingga isi dan bentuk gunungan semakin bervariasi atau tidak monoton.
Iya sih, harus ada penyesuaian soal isi dan bentuk gunungan. Tidak mesti harus sayuran atau buah-buahan sebagai lambang hasil bumi. Tetapi juga bisa dikemas dengan isi lainnya. Bisa saja, suatu saat nanti Kelurahan Cacaban membuat gunungan dari batik. Karena Cacaban merupakan salah satu sentra batik di Kota Magelang,” paparnya.
Hal senada dikemukakan Anggota Fraksi Amanat Indonesia Raya (AIR) DPRD Kota Magelang Hadiyono Nugroho. Pria yang akrab disapa Bogi ini setuju, kalau isi gunungan yang dipamerkan saat Grebeg Ggethuk tidak sekedar hasil bumi. Namun, hasil kerajinan atau potensi wilayah lainnya.
“Kemarin, saat Grebeg Gethuk sudah ada yang bagus. Selain membuat gunungan yang berisi hasil bumi, ada gunungan lain yang berisi mainan anak-anak berupa mobil-mobilan. Kalau tidak salah dari Kelurahan Jurangombo Utara. Ini patut dicontoh untuk Grebeg Gethuk selanjutnya,” tegas Bogi.
Politisi Partai Gerindra ini merasa isi gunungan yang keluar dari pakem tersebut justru lebih mengangkat potensi dan pariwisata Kota Magelang.
“Kalau gunungannya ada kerajinan atau mungkin makanan khas, kan jelas suatu promosi. Wisatawan jadi tahu, kalau kelurahan tertentu ada kerajinan seperti itu. Ini akan lebih mendorong dunia pariwisata Magelang,” katanya.
Salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Magelang ke-1.109 adalah Grebeg Gethuk. Dua buah gunungan yang melambangkan lingga dan yoni dan berisi 1.109 makanan khas Kota Magelang tersebut diarak dan diperebutkan ribuan warga di Alun-alun Kota Magelang. Selain gethuk dari olahan singkong, juga diperebutkan 17 gunungan yang terbuat dari beragam sayur-mayur dan kerajinan tangan. Ini merupakan lambang hasil bumi dari 17 kelurahan di Kota Magelang.
Wali Kota Sigit Widyonindito menegaskan, Grebeg Gethuk merupakan tradisi untuk mengangkat budaya dan kuliner khas Kota Magelang. Tradisi ini diselenggarakan setiap tahun dengan harapan bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Sejuta Bunga ini.
“Gethuk adalah makanan tradisional yang perlu dibanggakan. Prosesi ini sebagai upaya nguri-uri (melestarikan) tradisi yang ada,” katanya.(dem/hes/Nr)