DWI AGUS/RADAR JOGJA
SLEMAN – Foto jurnalistik wajib mematuhi kaidah-kaidah jurnalistik yang telah ditentukan. Seorang fotografer jurnalisitik, tidak hanya melihat secara teknik foto. Juga bagaimana nilai-nilai jurnalistik tergambar dari foto yang diabadikan.
Forum Umar Kayam PKKH UGM edisi April 2015 menghadirkan Ulet Ifansasti. Pria ini adalah pewarta foto yang telah menghiasi berbagai jurnal foto. Diskusi terbuka ini melibatkan pengunjung umum, para pemerhati foto, dan fotografi jurnalisitik.
“Indonesia sendiri menyajikan kekayaan dalam bidang foto jurnalistik. Isu yang dimiliki, maupun kekayan budaya, adalah sebuah kekuatan. Perlu kejelian untuk mengabadikannya ke dalam sebuah frame foto,” ungkapnya saat diskusi di ruang Gong PKKH UGM Jogjakarta (15/4).
Ifan mengungkapkan, permintaan pasar akan foto jurnalistik sangatlah tinggi. Ini terlihat dari semakin banyaknya kantor berita terutama foto. “Tinggginya kebutuhan ini, mulai dari hard news, features, atau photostories, selalu tinggi untuk bisa disirkulasikan secara global,” paparnya.
Tingginya kebutuhan ini turut menarik beberapa kantor berita internasional. Faktanya, saat ini mulai berdiri kantor cabang di beberapa wilayah regional, seperti di Jakarta. Kantor-kantor berita nasional dan internasional, menurutnya, membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas.
“Pewarta-pewartafoto yang mampu diandalkan untuk menghasilkan potretan-potretan bermutu. Selain mutu, kecepatan pun dibutuhkan, terutama untuk kategori hard news. Di mana penyebaran foto secepat mungkin sebagai nilai eksklusivitas, terutama menjadi daya saing antarkantor berita,” ungkapnya.
Ifan sendiri merupakan pewarta foto yang tergolong paling aktif di Indonesia. Pengalamannya berinteraksi dengan ranah foto jurnalisme internasional sudah tinggi. Tidak hanya kepada satu klien, juga dengan jaringan yang lebih luas.
Dalam diskusi ini, dirinya menceritakan bagaiman sebuah foto memiliki nilai jurnalistik. Bedanya dengan foto umum, foto jurnalistik menganut nilai jurnalisme. Sehingga mampu mereportasekan sebuah keadaan kepada khalayak umum.
Dalam kesempatan ini, dirinya menjabarkan perkembangan terkini foto jurnalistik. Era digital dan kemajuan dunia internet, turut mendukung kuat. Kemudahan akses ini membuat seorang fotografer dapat langsung mengunggah hasil fotonya.
“Mempersempit jarak dan waktu untuk pengiriman sebuah foto. Tentunya ini menambah dunia persaingan antar fotografer bahkan kantor berita. Kita harus cerdas melihat celah ini. Karena dari sinipun turut berlaku hukum alam siapa yang terproduktif pasti akan langgeng,” ungkapnya.
Berkembangnya dunia jurnalistik foto, turut meningkatkan nilai apresiasi. Khususnya karya para pewarta foto melalui kompetisi dan juga penghargaan. Beberapa program ini menjadi sebuah stimulus bagi setiap fotografer.
“Peristiwa yang biasanya dilakukan secara tahunan ini menjadi salah satu stimulus bagi pewarta foto untuk membuat karya terbaik, mendokumentasikannya, dan menjajal peruntungannya.Peristiwa ini bisa menjadi sarana mengukur kapasitas mereka di antara sesama praktisi, dan menjadikan kompetisi semacam ini sebagai ajang pembelajaran,” pungkasnya. (dwi/jko/mga)