DEPOK- Demam batu akik semakin mewabah. Tak ingin ketinggalan tren, Pemdes Caturtunggal, hari ini menggelar gemstone dan pameran tosan aji di balai desa setempat. Tak hanya akik, gemstone ini juga menyajikan batu-batu mulia.
Selain untuk menyemarakkan Hari Jadi Ke-67 Caturtunggal, kegiatan ini juga membuka ruang bagi masyarakat yang penasaran dengan kehebohan batu akik. “Semua kegiatan ini murni swadaya. Tak pakai anggaran desa serupiahpun,” ujar Kades Agus Santoso kemarin (16/4).
Menurut Agus, acara tersebut murni dari warga. Karena itulah masyarakat bertekad mengumpulkan dana untuk kegiatan. Ditambah bantuan donatur, serta mitra investor di lingkungan desa, hingga total terkumpul Rp 200 juta. Pemdes tidak mengeluarkan anggaran karena APBDes belum diketok.
Momen itu juga bakal menjadi bazar makanan tradisional dan jajan pasar selama dua hari, Jumat-Sabtu (17-18 April). Ada 44 stan tampil dari kelompok tani dan usaha kecil menengah. Malam harinya dilanjutkan pentas seni, tari-tarian, koor, dan pesta rakyat.
Pentas wayang semalam suntuk dihelat pada Jumat (24/4) malam, dengan lakon Semar Kembar oleh Dalang Ki Seno Nugroho. Turut menyemarakkan acara, Campur Sari Cindelaras, Den Baguse Ngarso,serta penjaja angkringan binaan desa.”Seluruh tamu bebas makan gratis menu angkringan,” lanjut Agus.
Puncak acara pada Minggu (19/4) berupa kirab budaya. Star di Gor Klebengan dan finis di balai desa. “Kami kerjasama dengan aparat untuk pengmanan di perjalanan,” imbuh Ketua Panitia Bambang Suncahyo.
Kirab diperkirakan melibatkan 1.500 orang.
Di tempat finis, peserta kirab menyerahkan 22 tumpeng dari 22 padukuhan kepada kepala desa. “Itu sebagai simbol glondong pengarem-arem,” jelasnya.
Peringatan hari jadi sekaligus menjadi momen penetapan lahirnya Caturtunggal. Meskipun merujuk sejarah sudah berumur 67 tahun. Penetapan dikukuhkan dalam rapat pleno pemdes dan BPD setempat pada Minggu (19/4). Selanjutnya, tanggal itulah yang dipakai sebagai hari jadi Caturtunggal.
Sekretaris Panitia Hidayat Nur Adi Utomo menjelaskan, kelahiran Caturtunggal berdasarkan Maklumat Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Nomor 5, tertanggal 19 April 1967. Itu ditandai bergabungnya lima desa menjadi satu. Terdiri atas, Karangwuni, Demangan, Mrican, Ambarukmo, dan Kledokan. (yog/din/mga)