FERRY RUSLI FILOSOFI KOPI FOR RADAR JOGJA
TELITI KOPI: Julie Estelle (dua dari kanan) dalam sebuah adegan film Filosofi Kopi.

Senang Jajal Geisha yang Langka dan Mahal

Mendapatkan peran sebagai food bloger merupakan tantangan tersendiri bagi seorang Julie Estelle. Terlebih profesi ini berhubungan dengan ragam kopi. Hal ini diungkapkannya saat nonton bareng Filosofi Kopi di Empire XXI Jogjakarta, Kamis malam (16/4).
DWI AGUS, Jogja
Dalam film karya Angga Dwimas Sasongko, Julie Estelle berperan sebagai El. Peran ini, menurutnya, adalah sebuah tantangan. Di mana dirinya harus berkeliling Asia untuk meneliti kopi. Tentunya untuk mendalami peran, perempuan kelahiran Jakarta 4 Juli 1989 ini harus melakukan riset.
“Mengenal beragam jenis kopi, terutama yang dimiliki Indonesia. Untuk mendalami peran El, sampai mengikuti kelas khusus dan melihat langsung seperti apa proses menanam kopi, panennya, dan cara meminumnya,” ungkap adik artis Cathy Sharon ini.
Selain melakukan riset, Julie pun menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Dewi “Dee” Lestari. Film Filosofi Kopi sendiri merupakan adaptasi dari novel yang ditulis Dee. Untuk tahapan ini, Julie tidak menemui kendala, karena dirinya penggemar tulisan Dee.
Bahkan Julie menyempatkan diri membaca buku Atlas of Coffee.Buku ini, menurutnya, memuat seluruh jenis kopi. Mulai dari ciri khas rasa, threatment hingga cara pengolahannya. Tentu saja pengetahuan ini menjadi bekal baginya mendalami peran El.
“Tantangan yang menyenangkan untuk mendalami peran ini. Kalau untuk acting, terutama membangun chemistry antara Chico Jerichodan Rio Dewanto, tidak ada kendala. Kita emang udah kenal sebelum ikutan produksi. Jadi prosesnya selama reading lancar-lancar aja, justru seru,” ungkapnya.
Menjadi El ada kesan khusus yang didapatkannya. Terutama kecintaannya terhadap kopi asli Indonesia. Dari sini ia mengenal ragam jenis dan sifat kopi. Selama ini dirinya hanya mengenal rasa standar dari kopi yang diminumnya.
Setelah menjadi El, dirinya menjadi lebih paham bahwa kopi itu beragam. Kekagumannya semakin bertambah saat kopi ternyata memiliki aroma khas. Mulai dari sensasi fruity, floral hingga yang cenderung asam dan spicy.
Dalam film ini Julie juga menyadari bahwa potensi kopi Indonesia sangatlah besar. Bahkan menduduki peringkat ketiga terbesar di dunia. Ini dibuktikan keberagaman kopi dari jenis kopi Aceh Gayo hingga Wamena Papua.
“Sebelumnya memang suka minum tapi latte dan capucino. Ternyata setelah ikut film ini, wawasan saya bertambah. Ini adalah kekayaan kopi yang wajib kita jaga. Ini juga menjadi bentuk awareness untuk terus menjaga dan mengonsumsi kopi asli yang dimiliki Indonesia,” ungkapnya.
Julie pun mendapatkan kesempatan menjajal kopi langka dalam film ini. Saat melakukan riset, dirinya rajin mendatangi kelas kopi. Dalam kesempatan ini juga diberikan kesempatan untuk menjajal kopi jenis Geisha.
“Kopi ini tergolong langka dan mahal harganya. Rasanya sangat floral sekali, aromanya seperti bunga. Rasanya light seperti teh dengan aroma melati. Kopi jenis ini yang tidak pernah saya temukan di secangkir kopi lainnya,” kenangnya. (*/laz/ong)