Larangan minimarket menjual minuman beralkohol mendapat dukungan dari banyak pihak. Hanya saja, larangan itu tak menyentuh supermarket dan hypermarket. Inilah yang mendapat perhatian dari DPRD Kota Jogja.
Mereka mendesak Dinas Ketertiban (Dintib) Kota Jogja untuk membuka mata. Jangan sampai celah-celah itu banyak dimanfaatkan penjual miras. “Masih ada celah. Minimarket harus diawasi ketat. Jangan-jangan kemudian pakai system jual antar,” tutur Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Jogja Bambang Anjar Jalumurti kemarin (17/4).
Ia menjelaskan, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) yang melarang minimarket menjual minuman beralkohol patut diapresiasi. Namun sayangnya, kebijakan itu belum menyentuh pada penjualan di supermarket maupun hypermarket.
“Sekarang tinggal bagaimana pemerintah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. Jangan sampai terkecoh,” tandasnya.
Dikatakan, tidak menutup kemungkinan penjualan minuman beralkohol dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Terutama bagi minimarket berjejaring yang memiliki afiliasi dengan supermarket atau hypermarket. Bisa jadi, mihol itu disimpan dalam gudang dan tidak dipajang secara terbuka. Jika ada konsumen yang hendak membeli, baru kemudian dijajakan.
Modus tersebut biasanya dilakukan di toko-toko kelontong yang menjadi pengedar minuman keras. Sehingga Pemkot Jogja diminta lebih jeli ketika melakukan pengawasan. “Instansi terkait yang memiliki kewenangan memantau peraturan itu sudah memiliki komitmen meningkatkan pengawasan selama tiga hari ini. Setelah itu, kami yang akan terjun ke lapangan,” terangnya.
Selain itu, imbuh Bambang, Perda Nomor 7 Tahun 1953 tentang Pengendalian Minuman Keras sudah mendesak untuk direvisi. Beberapa pasal dalam perda itu sudah tidak relevan dengan munculnya Permendag Nomor 06/M-DAG/PER/2015. Dengan begitu, maka sanksi bagi pengusaha yang melakukan pelanggaran bisa lebih ketat.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja Suyana mengaku, pihaknya turut membentuk tim untuk melakukan pengawasan. Dari 18 minimarket berjejaring yang sebelumnya sempat menjual mihol, kini dipastikan sudah tidak menjual kembali.
Pihaknya pun berharap, masyarakat yang memiliki informasi penjualan minuman beralkohol secara bebas, dapat melaporkan ke petugas. “Kami sempat temui minimarket menjual sejenis bir, namun setelah diamati ternyata minuman itu bebas alkohol,” katanya. (eri/laz)