INTAN LUVITA

 
Intan Luvita tengah mengamati perkembangan pariwisata di Gunungkidul. Meski demikian, gadis berdarah campuran Manado-Makassar-Jawa ini tak mau muluk-muluk berbicara tentang dunia pariwisata.
“Aku termasuk baru mengenal dunia pariwisata. Makanya, aku tidak mau sok pintar berbicara mengenai pariwisata,” kata Intan Luvita.
Tentang bagaimana mengembangkan dunia pariwisata di Gunungkidul, Alumnus SMA 1 Playen ini berharap kepada pemerintah dan pelaku wisata agar tidak semata-mata mengejar rupiah. Pendapatan Asli Daerah (PAD), itu memang penting, karena muaranya untuk kesejahteraan masyarakat.
“Aku termasuk yang sepakat, bahwa uang bukan satu-satunya alat untuk mengukur kesuksesan,” tutur Intan yang tengah menggeluti dunia fotografi itu.
Perempuan kelahiran Makassar 19 November 1996 tersebut, justru merasa tidak nyaman dengan dampak negatif sektor pariwisata. Setidaknya ada dua persoalan yang membuat warga Nitikan Barat, Semanu, Gunungkidul ini jengkel. Ia menyadari, salah satu target wisata adalah jumlah kunjungan wisatawan dan lama tinggal.
“Tapi mungkin ada yang kurang dipahami, bagaimana menjaga kebersihan lokasi wisata,” ucap dara cantik yang tengah menggeluti dunia modeling itu.
Menurutnya, lokasi wisata kabupatan ujung timur Jogjakarta tersebut, diakui atau tidak potensinya sangat menjanjikan. Itu belum termasuk segala potensi SDM yang sangat handal. Untuk itu dirinya akan sangat setuju, jika pariwisata terus dikembangkan. Tentu, dukungan kenyamanan pengunjungjuga ditingkatkan. Caranya, dengan mendorong pihak terkait supaya melengkapi fasilitas yang ada agar lebih terintegrasi, sehingga wisatawan domestik maupun manca bisa menikmati pariwisata dengan nyaman.
“Belakangan aku masih melihat, lingkungan di sekitar lokasi pariwiasata belum rapi. Masih banyak orang yang datang buang sampah sembarangan, ada juga yang coret-coret,” sesalnya.
Persoalan demikian, menurutnya, tidak semata-mata menjadi urusan pemerintah, atau pengelola wisata. Pengunjung juga wajib diberi pemahaman supaya ikut menjaga kebersihan lingkungan.
Intan yakin, pengunjung siap mengamalkan pribahasa “di mana bumi diinjak di situ langit dijunjung”. Jadi, alangkah tepat jika tuan rumah memberlakukan aturan main berwisata.
“Karena pengunjung itu, selain senang-senang juga ingin menambah ilmu,” pungkasnya. (gun/jko/ong)