DWI AGUS/RADAR JOGJA
PERFECTO: Executive Producer Film Filosofi Kopi Adi Surya Nagara dan aktris Julie Estelle saat acara nonton bareng

JOGJA – Filosofi Kopi yang diputar sejak 9 April lalu mendapatkan tang-gapan positif dari pecinta sinema. Kamis malam (16/4) lalu salah seorang pemerannya Julie Estelle menyem-patkan mampir ke Jogjakarta. Keda-tangan pemeran El ini untuk bertemu dengan para pecinta film dan nonton bareng Filosofi Kopi.Bersama Executive Producer Adi Surya Nagara, Julie Estelle menyapa publik Jogja. Dalam kesempatan ini, keduanya juga bercerita bagaimana proses pem-buatan film ini. Mulai dari pemilihan jalan cerita hingga pendalaman karakter.
Executive Producer Adi Surya Nagara menuturkan, ide awalnya pembuatan film ini bermula saat dia bersama be-berapa tim produksi sedang duduk santai di Ubud Bali. Kebetulan semua suka dengan novel karya Dewi Lestari. Lalu kepikiran kenapa tidak mewujud-kan salah satu novelnya menjadi se-buah film. “Maka dipilihlah Filosofi Kopi ini,” kata Adi.Adi mengatakan, film ini digarap sejak September 2014 lalu. Film ini, menurut-nya, memiliki misi selain sebagai produk sinema. Terutama dalam mempromo-sikan kekayaan kopi di Indonesia. Dalam film ini juga dibahas kekayaan kopi mulai dari kopi Aceh Gayo hingga kopi Wamena Papua.
Bahkan sebuah riset secara mendalam juga dilakoni oleh seluruh tim. Hal per-tama yang dilakukan adalah mengenal jenis dan sifat kopi. Selanjutnya, meng-ikuti proses sejak dari bibit hingga disa-jikan dalam secangkir kopi.”Waktu itu dari biji kopi ditanam oleh petani hingga sampai ke tangan ba-rista. Kita juga mempelajari makna dan filosofi setiap jenis kopi. Kita ber-harap dengan film ini bisa menjadi bentuk edukasi. Terutama dalam meng-giatkan konsumsi kopi lokal Indonesia,” ungkapnya.
Dalam kesempatan ini pula, dia men-jabarkan tingkat konsumsi kopi di Indonesia. Di Indonesia tingkat kon-sumsi sudah meningkat meski tidak drastis. Adi mencontohkan Jepang yang tingkat konsumsinya mencapai dua kali lipat Indonesia. “Kalau perbandingan jumlah pendu-duk, kita (Indonesia) itu empat kali populasi penduduk Jepang. Apalagi kekayaan kopi kita sangat beragam, namun tingkat konsumsi masih rendah. Ya ada ajakan juga untuk menggiatkan minum kopi,” terangnya.
Film ini bercerita tentang keberadaan kedai Filosofi Kopi yang didirikan oleh Jody yang diperankan oleh Rio Dewan-to dan Ben yang dibawakan oleh Chic-co Jerikho. Sebuah tantangan dari pe-ngusaha dilakoni untuk mengatasi utang. Dengan keahliannya, Ben berhasil me-racik kopi yang diberi nama Perfecto.Sampai kehadiran El yang mengata-kan ada kopi yang lebih baik ketimbang mahakarya Ben.
Maka, Ben dan Jody tidak punya pilihan selain pergi men-cari Kopi Tiwus. Kopi ini adalah raci-kan dari sepasang suami istri yang diperankan oleh Slamet Rahardjo dan Jajang C Noer. Julie Estelle yang berperan sebagai El mengungkapkan, serunya dalam film ini dia harus belajar tentang seluk beluk kopi. Karena dalam film ini adik dari Cathy Sharon ini menjadi seorang ahli kopi. “Bahkan sempat ikut kursus mengenai sejarah kopi. Tapi semua-nya menyenangkan karena menam-bah pengetahuan tentanh kopi,” katanya saat nonton bareng yang diselenggarakan oleh Visinema Pictures di Empire XXI.
Penonton yang hadir pun didominasi penonton usia muda. Salah seorang penonton Sisilia Moe, 21, yang me-nyempatkan menonton bersama teman-nya. “Memang suka minum kopi, pena-saran juga bagaimana filmnya. Setelah menonton ternyata kopi itu tidak hanya minuman. Selain prosesnya yang pan-jang, dalam setiap biji kopi memiliki makna sendiri,” ungkapnya ditemui seusai nonton bareng. (dwi/ila/ong)