JOGJA – Pelarangan penjualan minuman beralkohol (mihol) dan minuman keras (miras) di minimarket, mendapat sambutan positif oleh para pelaku pengelola hotel dan restoran. Langkah itu akan menertibkan para konsumen dalam meminum mihol.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Istidjab Danunagoro mengatakan, selama ini pemerintah telah menetapkan aturan tempat-tempat konsumsi alkohol. Dengan tidak dijual sembarangan seperti di minimarket, maka akan jauh dari jangkauan usia yang belum layak untuk mengonsumsi alkohol.
“Bila di hotel atau kafe yang memiliki izin menjual mihol sangat jelas, mereka yang masih berusia di bawah 18 tahun dilarang mengonsumsi,” jelas Istidjab kepada Radar Jogja kemarin (17/4).
Menurut Istidjab, bagi kalangan hotel, pengonsumsi mihol sangat jelas usianya dan benar-benar terkontrol. Sebab mereka hanya diperkenankan minum di dalam bar.
Selama ini, hotel-hotel bintang tiga sampai lima memiliki bar tersendiri yang menyediakan mihol dengan berbagai kadar. Bahkan bar-bar di hotel menyediakan produk mihol impor dengan kadar mencapai 40 persen. Dan, minuman yang dijual di bar tersebut legal karena sudah sesuai dengan aturan dan pengetahuan bea cukai.
“Kami tandatangani perjanjian dengan bea cukai, di mana kami tidak akan menjual mihol tersebut kepada usia di bawah 18 tahun,” kata Istidjab.
Istidjab mengatakan, tidak ada pengaruh signifikan dengan pelarangan penjualan mihol di minimarket dengan meningkatnya konsumen mihol di bar. Selain masih barunya kebijakan itu, menurutnya, para pelanggan mihol di bar-bar hotel rata-rata berasal dari kalangan wisatawan.
Kalau pun ada masyarakat Jogja, biasanya merupakan pelanggan yang benar-benar ingin menikmati minuman. “Pelanggan mihol di bar kami lebih jelas. Dan apa yang dikonsumsi benar-benar legal,” jelas GM Hotel Quality di Jalan Solo ini.
Sementara itu, larangan penjualan mihol di minimarket juga belum berdampak pada tingkat penjualan di bar Hotel Melia Purosani. Sebagai tempat yang diizinkan menyediakan minuman beralkohol, hotel bintang lima di Kota Jogja ini juga tidak mengalami lonjakan konsumen minuman beralkohol.
“Belum terasa imbasnya sampai saat ini. Karena mungkin tamu asing di hotel kita hanya 30 persen yang berasal dari wisatawan asing. Itu pun jika mengonsumsi minuman beralkohol lebih sering sudah diracik seperti koktail. Tidak yang diminum per botol seperti bir,” terang Marketing Communications Danang Setyawan kepada Radar Jogja, kemarin (17/4).
Selain itu, kebiasaan yang ada di pub, wisatawan lebih banyak meminumnya untuk bersantai. Tidak untuk bermabuk-mabukan. Karena itu, lanjut Danang, kondisinya masih seperti biasa. “Yang mengonsumsi di sini juga terbatas. Lebih karena kultur atau kebiasannya di negara asalnya, untuk bersantai sambil ngobrol-ngobrol juga,” lanjut Danang.
Mengenai perizinan, hotel yang menyediakan minuman beralkohol harus mengantongi Surat Izin Usaha Perdagangan-Minuman Beralkohol (SIUP-MB). Surat itu dikeluarkan untuk kategori hotel berbintang dan diperbarui tiga tahun sekali. Sebelumnya hotel akan diperiksa dan harus lulus uji laboratorium.
“Untuk izin masih sampai 2015, itu diatur untuk bagian food and beverage dan sampai saat ini belum ada larangan untuk hotel berbintang menyediakan minuman beralkohol. Bahkan kalau di kita tidak hanya untuk golongan C, tapi juga B. Kalau harga antara Rp 70 ribu sampai tidak terbatas. Kalau wine yang tahunnya lama, bisa sampai Rp 2 juta,” ungkap Danang. (bhn/cr3/laz/ong)