SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
TAJAM : Selebrasi Agung Suprayogi usai mencetak gol ke gawang Persela Lamongan kemarin (19/4). Antusiasme suporter PSS Sleman saat memberikan dukungan di MIS.
SLEMAN – Kesebelasan PSS Sleman harus puas bermain imbang 1-1 melawan Persela Lamongan dalam laga uj coba di Maguwoharjo International Stadium (MIS) kemarin (19/4). Tanpa diperkuat sang kapten Ahmad Sembiring, lini tengah Laskar Sembada-julukan PSS Sleman ternyata kehilangan kreasi dalam membangun serangan.
Ya, absennya Sembiring diakui pelatih PSS Sleman Jaya Harto, cukup berpengaruh dalam mengatur ritme permainan. Keberadaan Taji Prasetyo dan Elvis Nelson di lini tengah PSS, nyatanya belum banyak memberikan warna bagi skema permainan PSS. “Tidak ada yang mengatur tempo di tengah. Ketika ditekan kami mudah sekali kehilangan bola. Berbeda bila ada Sembiring, yang bisa mengatur tempo,” kata Jaya kepada wartawan usai pertandingan.
Meski hanya meraih hasil seri, Jaya mengaku sudah cukup puas dengan apa yang ditunjukkan oleh Rasmoyo cs. Sebab, tim yang dihadapi bisa dibilang berada satu tingkat levelnya di atas PSS. Persla adalah kontestan kasta tertinggi Liga Indonesia, QNB League. Berbeda dengan PSS yang hanya bermain dalam kasta kedua.
Meskipun kehilangan jendral lapangan tengah, di babak pertama PSS mampu memberikan perlawanan kepada tim tamu. Di menit pertama, aksi gelandang lincah PSS Dicky Prayoga hampir membuahkan gol bila sepakannya tidak melebar. Dua menit berselang dari menit pertama, gol yang ditunggu lahir. Umpang silang Dicky, tidak bisa dihalau bek Persela David Pagbe sehingga bola disundul keras oleh Agung Suprayogi dan menggetarkan jala kiper Choirul Huda.
Sepanjang babak pertama, PSS Sleman sebenarnya memiliki banyak peluang. Di menit ke 13 bek PSS, Heri Prasetyo nyaris menggandakan keunggulan bila sundulanya tidak ditepis Choirul Huda, kipper Persela. Sementara itu di menit ke-28, kerjasama apik Dicky dan Agung pun nyaris memperbesar keunggulan. Sayang umpan dari Dicky tidak bisa dimanfaatkan oleh Agung untuk mengonversi menjadi gol.
Di babak kedua, keadaannya berbalik. Disaksikan sekitar 15 ribu pendukung, Super Elang Jawa justru banyak tertekan. Nampak, pelatih Persela Iwan Setiawan sudah banyak membaca skema permainan PSS. Dengan dimatikannya Dicky dan Voller, daya gedor PSS tidak setajam di babak pertama.
Terus tertekan, di menit 50 kiper Syamsidar harus memungut bola dari jalanya. Dengan skema serangan terencana dengan baik, Agus Salim sukses memanfaatkan crossing Eki Taufik dari sisi sebelah kanan.
Sepanjang laga kedua, Laskar Jaka Tingkir-julukan Persela Lamongan terus memberikan tekanan. Bahkan, Jaya harus melakukan sejumlah pergantian untuk menghidupkan serangan. Aris Sincan Alfiansyah harus ditarik keluar untuk digantikan Diego Banowo. Namun tidak bermain sampai 20 menit, Banowo harus ditarik keluar karena tidak memberi kontribusi pada permainan.
Pelatih Persela Lamongan Iwan Setiawan mengakui tim PSS memiliki prospek yang cukup baik. Dia memuji, PSS salah satu tim terbaik asal DU yang pernah dihadapi oleh tim berjuluk Laskar Joko Tingkir ini. “Mereka (PSS) punya dua pemain sayap yang cukup cepat,” puji Iwan.
Iwan menyebut, laga melawan PSS sebagai laga uji coba bagi Persela. Yang pertama, Iwan mencoba menerapkan skema 4-2-3-1. Dan yang kedua dirinya mencoba menerapkan permainan kolektivitas tanpa kehadiran striker Pedro Javier. Ya, Pedro pada pertandingan tersebut sengaja disimpan. “Tim yang kami mainkan ada tim inti. Hanya saja minus Pedro karena kami ingin lihat striker pelapis Pedro,” jelasnya.
Sementara itu laga melawan PSIM Jogja sore nanti, dipastikan Iwan akan melakukan rotasi pemain. Setelah melakukan pertandingan dengan PSS, skuat inti banyak kehilangan fisik. “Kami akan lihat kondisinya besok. Yang jelas aib bila kami kalah dari tim DU,” tandasnya. (bhn/din/mga)