Solusi Jitu Manfaatkan Lahan Sempit
JOGJA – Berkebun merupakan salah satu hobi yang banyak diminati berbagai kalangan. Terutama bagi perempuan.Hanya, soal keterbatasan lahan sering menjadi kendala menjalani hobi tersebut.
Salah satu solusinya, perempuan bisa memilih menanam anggrek. Apalagi, jenis tumbuhan ini hidup sebagai epifit alias menempel pada pohon.
Tumbuhan yang masuk dalam famili Orchidaceae ini bisa hidup di daerah beriklim tropika basah. Juga bisa hidup di tempat yang memiliki iklim sirkumpolar atau wilayah dengan vegetasi pegunungan. Secara suhu, antara 14 derajat celcius hingga 34 derajat celcius.
Bahkan, ada beberapa dari jenisnya hidup tanpa paparan martahari langsung. Jenis ini masuk ke dalam Anggrek Saprofit. Jenis ini bisa tumbuh di area bebatuan atau daun-daun kering.
Pengelola Pembudidayaan Anggrek Widarakandang Jogjakarta Yuni Rahayu,20, mengatakan, pilihan menanam anggrek menjadi pilihan menarik. Yuni yang merupakan anak pemilik Widarakandang ini juga menjelaskan tentang pemanfaatan lahan sempit untuk berkebun.
“Anggrek bisa jadi solusi kalau ga ada lahan luas, pakai pot juga bisa. Kalau soal bibit banyak kok yang jual di pasaran. Ada juga yang udah jadi, tinggal rawat saja. Kalau soal harga variatif, dari harga Rp 5 ribu hingga ratusan ribu juga ada” papar Yuni beberapa waktu lalu (12/4).
Perempuan berusia 20 tahun ini memberikan contoh jenis anggrek yang bisa dipilih. Seperti anggrek Dendrobium, Phalaenopsis (angrek bulan), dan Oncidium.
“jenis anggrek ini tumbuhnya nempel ke pohon, bisa juga hidup di pot. Tetapi nanamnya bukan pakai tanah, tapi campuran arang dan pakis. Kalau mau nanam di tanah itu jenisnya lain lagi, namanya anggrek tanah lebih tahan panas” papar Yuni.
Agar tanaman anggrek bisa hidup baik, lanjut Yuni, pengunaan media tanam harus memiliki komposisi yang pas. Ia menyarankan agar anggrek bisa tumbuh dengan baik. Yaitu, komposisi media yang digunakan adalah 2/3 untuk arang dan 1/3 potongan pakis.
“Kalau mau makai serbuk kayu dan moss juga bisa,” katanya.
Ditambahkan Yuni, ada beberapa metode dalam mengembangbiakan jenis tumbuhan yang sering dijumpai di wilayah pegunungan tersebut. Yakni, secara generatif melalui penyerbukan biji dan secara vegetatif melalui metode stek /pemotongan batang dan split.
“Bedanya dengan stek, split itu misahin anakan cabang baru dari batang utama. Untuk jenis denderobium bisa memakai keduanya,” papar Yuni.
Selain dengan cara konvensional, anggrek juga bisa dikembangbiakkan denga kultur jaringan. Namun metode ini tergolong rumit dan membutuhkan biaya besar.
“Kalau untuk ditanam di rumah sih, pakai cara tradisional saja. Kalau kultur jaringan itu rumit,” kata Yuni.
Langkah mengembangbiakkan tanaman anggrek bisa dilakukan. Yaitu, memindahkan anggrek yang sudah dipotong ke dalam pot yang berisi 2/3 arang/pecahan genteng dan 1/3 potongan pakis.
“Kasih tiang penyangga yang terbuat dari kawat. Terakhir, letakkan anggrek di dalam pot” jelasnya.
Selama bergelut di bisnis pengembangbiakan anggrek, Yuni cukup paham tentang penyebab tumbuhan anggrek membusuk dan mati.
“Banyak faktor, misal sering kena panas langsung. Kebanyakan air juga bisa, kalau mau nyiram cukup disemprotin. Jadi, tidak usah langsung disiram,” katanya.
Ia menganjurkan penggemar anggrek memberikan perawatan khusus. Seperti pemberian pupuk. Ini bisa dilakukan dengan pupuk organik maupun pupuk kimia.(cr1/hes/mga)