SLEMAN-Namanya Caturtunggal. Itu bukanlah gabungan empat hal menjadi satu. Tetapi lima lokasi menjadi satu wilayah. Barangkali tidak banyak yang tahu asal usul kepastian nama itu. Namun, itulah adanya Desa Caturtunggal di Kecamatan Depok.
Nah, Sabtu (18/4) lalu ditetapkan sebagai tonggak lahirnya Desa Caturtunggal. Penetapan melalui rapat pleno antara Badan Permusyawaratan Desa dan Pemdes Caturtunggal. Tanggal itu ditetapkan sebagai hari jadi Caturtunggal. Meskipun usia desa yang terdiri atas lima wilayah kelurahan dengan 22 padukuhan itu telah berusia 67 tahun. “Dari dulu namanya Caturtunggal meski gabungan lima kelurahan,” kata Kades Agus Santoso.
Saat itu, lima kelurahan melebur menjadi satu berdasarkan Maklumat Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai raja sekaligus pemanku wilayah Jogjakarta.
Kelima wilayah tersebut adalah, Karangwuni, yang membawahi Padukuhan Manggung, Karangwuni, Karanggayam, dan Kocoran; Demangan (Blimbingsari, Sagan, Samirono, Papringan); Mrican (Santren, Mrican, Karangmalang); Ambarukmo (Nologaten, Gowok, Janti, Ambarukmo); dan Kledokan (Ngentak, Tempel,Kledokan, Tambakbayan, Seturan).
Wujud manunggaling wilayah itu disimbolkan dengan 22 tumpeng dari 22 padukuhan yang dikumpulkan di Balai Desa Caturtunggal, usai kirab budaya kemarin (19/4). Kirab tak hanya melibatkan masyarakat setempat. Perwakilan dari berbagai wilayah dan kesukuan juga ada.
Karena itulah, Agus menilai, wilayah yang dipimpinnya ibarat miniatur Indonesia. Ya, itu lantaran Caturtunggal merupakan pusat pendidikan dan perekonomian yang menjadi mercusuar kabupaten Sleman. Wilayah itu dihuni banyak pendatang dari luar daerah. “Ini wujud kebhinekaan,” ujarnya.
Kirab diikuti ribuan orang. Ketua Panitia Bambang Suncahyo mengatakan, setiap padukuhan awalnya diminta mewakilkan 25 warga. Tapi, antusiasme begitu tinggi hingga perwakilan tiap padukuhan lebih dari ketentuan.
Kirab terbagi dalam Manggala Yudh (pasukan berkuda), Bergda GanggengSamudera, Kereta Kencana, pembawa spanduk hari jadi, rombongan perangkat desa, gunungan hasil bumi dan potensi wilayah, panji-panji, serta perwakilan warga. Kelompok kesenian Museum Afandi dan peserta dari enam universitas turut ambil bagian, dan dimeriahkan marching band.”Kami kerjasama dengan aparat keamanan untuk menjaga lalu lintas rute kirab,” ungkap Bambang.
Start kirab dari GOR Klebengan menuju Balai Desa Caturtunggal.melewati Jalan Selokan Mataram, Jalan Affandi, Jalan RRI, dan Jalan Kaswari.”Kami mohon maaf jika selama kirab arus lalu lintas sedikit terganggu,” lanjut Bambang.
Puncak Hari Jadi caturtunggal ditutup pentas wayang semalam suntuk pada Jumat (24/4).menampilkan lakon Semar Kembar oleh Dalang Ki Seno Nugroho. Turut memeriahkan acara Campursari Cindelaras dan Den Baguse Ngarso.(yog/dwi/din/mga)