DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
TANGGUH: Nita mempersiapkan diri untuk mengikuti Porda 2015 dan Pra-PON 2015.

Bangga Bisa Memakai Lambang Garuda

Kecil-kecil cabe rawit. Tubuh mungilnya tak menghalangi untuk berprestasi di berbagai kejuaraan. Sempat kucing-kucingan dengan orangtuanya, kini Nita 100 persen direstui. Lalu, apa mimpi prestasi selanjutnya?
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
BUTUH perjuangan keras bagi Nita untuk menjadi seorang karateka se-perti sekarang ini. Besar di keluarga yang serba terbuka, atlet kelahiran Sleman 3 Maret 1994 ini terpaksa ha-rus sembunyi-sembunyi dengan orangtuanya. Itu dilakukan demi bisa ikut latihan karate.Saat itu Nita masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Impian ingin belajar be-ladiri sejak masih kecil pun dia wu-judkan di tahun pertama mengenakan seragam putih biru. Tanpa pikir pan-jang, Nita pun mendaftarkan diri. Tapi setelah itu, di setiap waktu latihan di hari Jumat dan Minggu, Nita harus berfikir keras mencari alasan untuk pamit kepada orangtuanya di rumah.
Semua itu dia bayar dengan berlatih keras, hingga dirinya bisa mewujud-kan mimpi meraih prestasi. Tak ber-selang lama, doanya pun terwujud. Nita terpilih mewakili sekolah dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di tingkat kabupaten. “Besoknya mau tanding aku baru bilang ibu. Dari situ orangtuaku tau kalau aku ikut karate. Punya seragam pun aku baru punya juga saat mau bertanding, hasil tabungan sendiri,”ungkapnya.
Tetapi restu seratus persen belum didapat. Orangtuanya masih menyim-pan kekhawatiran besar dan belum yakin jika dirinya bisa mengukir pre-stasi di karate. Tak disangka, kejua-raan pertama di tingkat kabupaten yang diikuti, menggiringnya untuk maju ke tingkat provinsi. Nita mem-buktikan diri, tampil terbaik dan akhir-nya menjadi juara 1 di nomor kumite.
Sejak itulah, orangtuanya baru mem-berikan restu dan dukungan seratus persen. Sejak itu, semangat Nita untuk berlatih berkobar lebih dua kali lipat. “Di Bantul Open Cup, aku pengen sekali waktu itu ditonton bapak ibu. Aku pikir mereka tidak datang, tapi pas waktu gi-liranku mereka muncul. Aku senang banget. Saat itu orangtuaku nonton dan aku juara satu,”ujar anak bungsu pasangan Rustam dan Sujinem ini.
Restu orangtua lebih membuatnya nyaman melenggang ketika datang ke tempat latihan atau memasuki arena kejuaraan. Prestasi demi prestasi pun dicetak. Juara 1 O2SN Tingkat SMP diskala propinsi, Juara 2 O2SN tingkat SMP Nasional, Juara 2 O2SN tingkat SMA Nasional dan Juara 1 di Kejurnas. Tahun 2013, atlet dengan tinggi ba-dan 152 cm ini menjadi wakil di Ke-juarnas Karate Piala Kasad. Di kejua-raan senior pertama yang diikuti, Nita berhasil jadi juara 3 di nomor kumite. “Itu pengalaman yang bikin mental aku tambah bagus, selama dua minggu digembleng. Saat oitu aku baru masuk kuliah, dan lawan sparingku kebanyakan sudah kuliah semester 6 keatas,”ujarnya.
Setelah kejuaraan yang penuh dengan cerita itu, mahasiswi Pendidikan Ma-tematika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Jogja ini dipanggil oleh PB FORKI masuk dalam Tim Garuda B untuk ikut bertanding dalam kejuaraan Premiere League di Jakar-ta. Tampil di kancah internasional, berlatih bersama timnas dan kem-bali menghadapi ujian mental dila-koni dengan berfikir positif. “Banyak yang nggak percaya dengan postur tubuhku yang kecil, karena lawannya kan bule-bule. Saat itu aku berfikir, apapun hasilnya, aku harus berani,” ujarnya yang berlatih selama 5 hari bersama timnas.
Lawan pertama yang dihadapi, ka-rateka Slovakia yang dari postur tubuh jelas Nita kalah jauh. Lawan yang tinggi besar tetap dia hadapi. Tekad-nya hanya satu, tidak menyerah. “Me-ski kalah, tetapi bangga bisa memakai lambang garuda di dada. Itu yang tadinya hanya angan-angan kini sudah jadi kenyataan,”ujar anak didik per-guruan Amura ini.Saat ini, Nita sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti Porda 2015 dan Pra-PON 2015. Di setaip kali berlatih, dia memupuk cita-cita untuk bisa naik di podium Pra-PON dan PON 2016. “Mumpung masih muda, dipuas-puasin mengejar prestasi. Saya ingin bisa masuk timnas lagi,”ujar atlet ku-mite ini. (*/din/ong)