DWI AGUS/RADAR JOGJA JALIN SILATURAHMI: Para seniman yang akan unjuk karya dalam pameran bertajuk Ngawe Kadang 2 yang akan dibuka malam nanti (22/4) di TBY.
JOGJA – Pameran bertajuk Ngawe Kadang 2 akan dibuka malam nanti (22/4) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Keunikan dalam pameran ini adalah para senimannya tergolong berusia sepuh. Ini karena rata-rata pesertanya berusia 50 tahun ke atas.
Hal ini menjadikan pameran yang digagas Forum Silaturakhim Wedangan Jogjakarta terasa istimewa. Perupa Jawa Timur yang tergabung dalam IKA ISI Jawa Timur juga turut bergabung dalam pesta seni rupa ini.
“Para perupa ini dulunya pernah menimba ilmu seni di Jogjakarta. Jadi ada keinginan untuk menjaga silaturahmi melalui pameran. Juga menguatkan tali persaudaraan,” kata Ketua Pameran Ahmad Zuhair Firdaus Tri Hadiyanto ditemui di sela persiapan, kemarin (21/4).
Tri, sapaan akrabnya, mengungkapkan pameran ini bertepatan dengan program dari Wedangan. Agenda pameran rutin yang diadakan setiap tahunnya. Sedangkan untuk Ngawe Kadang sendiri rutin diadakan dua tahun sekali.
Sebanyak 50 seniman direncanakan akan mengisi ruang pamer TBY. Setiap seniman menyajikan dua hingga tiga karya lukis. Bahkan menurut Tri jumlah ini masih akan bertambah karena minat yang tinggi dari para seniman.
“Awalnya dibagi rata, rencana 25 seniman Jogja dan 25 seniman Jawa Timur. Tapi melihat antusiasme sepertinya akan bertambah. Pameran ini juga seperti kunjungan balasan, setelah sebelumnya kita juga sempat mampir ke sana,” kata Tri.
Tri menambahkan, para seniman perupa dulunya menimba ilmu di Jogjakarta. Setelah lulus, kebanyakan kembali ke daerah asal di mana setiap perupa ini mengembangkan daya kreatif di tanah kelahirannya masing-masing.
Melalui pameran ini para seniman ingin menjalin silaturahmi. Menjaga keguyuban dan bertukar ide seputar atmosfer seni yang berkembang. Tak heran dalam pameran ini rata-rata pesertanya berusia lanjut.
Meski begitu, setiap perupa ini tetap berkarya meski tidak intens. Sehingga dengan adanya pameran ini juga turut menggugah jiwa seni. Tujuannya agar semangat berkarya tetap ada dan tidak mati meski berusia lanjut. “Selain karya memang kita tonjolkan silaturahmi visualnya. Bertukar ide juga akan terjadi karena atmosfer di Jogja dan Jawa Timur memang berbeda,” tutupnya. (dwi/ila/mga)