ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
JADI MASALAH: Ribuan sapi di tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Piyungan ini digembalakan secara liar. Keberadaan sapi-sapi ini ternyata menimbulkan dampak sosial bagi masyarakat di sekitar lokasi
BANTUL – Satpol PP Bantul memberikan perhatian serius dengan keberadaan ribuan sapi di tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Piyungan. Sebab, sapi-sapi yang digembalakan secara liar tersebut ternyata menimbulkan dampak sosial yang cukup serius.Yang terbaru, seorang pemilik sapi asal Ngablak, Sitimulyo, Piyungan sempat bersi-tegang dengan warga Sentulrejo, Bawuran, Pleret dan Depok, Wonolelo, Pleret. Ini karena seekor sapi liar disembelih kemudian dagingnya dibagikan kepada seluruh warga Sentulrejo, dan Depok. “Ini mungkin sebagai gambaran puncak emosi warga,” terang Kepala Satpol PP Bantul Hermawan Setiaji di kantornya, kemarin (21/4).
Warga dua pedukuhan di Kecamatan Pleret ini terpaksa menyembelih sapi ini karena geram. Ya, selama bertahun-tahun sapi-sapi yang dilepasliarkan ini berulang kali merusak berbagai tanaman. Sapi-sapi ini juga kerap merusak berbagai peralatan milik warga. Bahkan, seorang warga Sentulrejo juga pernah diinjak-injak sapi hingga mengalami luka cukup serius.Hermawan menyatakan, kejadian penyem-belihan sapi sebenarnya sudah cukup lama. Tepatnya pada tanggal 26 Desember tahun lalu. Namun, mediasi antarwarga ini hingga sekarang masih belum selesai. Satpol PP bersama polres Bantul berulang kali melakukan pertemuan dengan warga agar persoalan ini tak berujung pada tawuran antarwarga. “Nanti kami bersama polres juga akan terjun lagi untuk mendengar aspirasi para pemilik sapi,” ujarnya.
Nah, agar persoalan ini tidak kembali terulang penataan sapi liar akan dituangkan dalam bentuk peraturan bupati (perbup). Meski begitu, Hermawan masih belum mengetahui teknis penataan sapi-sapi liar ini. Apakah nantinya akan diikat atau tetap dilepasliarkan. “Kalau memagari tanaman warga ya jelas nggak mungkin,” tandasnya.Hermawan mengaku persoalan penyem-belihan sapi juga telah masuk di atas meja Polsek Pleret. Informasinya, pemilik sapi yang disembelih bernama Ngatno melapor-kan warga Sentulrejo bernama Asngadi dengan tuduhan pencurian. “Kalau di proses hukum juga nggak tepat,” jelasnya.
Sebab, baik pemilik sapi maupun warga juga sama-sama keliru. Pemilik dinilai keliru karena melepasliarkan sapi-sapinya yang kemudian merusak tanaman warga. Kemudian, warga dianggap bersalah karena telah menyembelih sapi yang notabene bukan milik mereka. Meskipun sebelum menyembelih, warga juga sempat meng-umumkan perihal adanya sapi yang hilang dari rombongannya.Kanit Reskrim Polsek Pleret Ipda Sumarman membenarkan tengah menangani kasus laporan pencurian sapi. Laporan ini sebetulnya diterima polsek Piyungan. Hanya, kemudian dilimpahkan karena locus terjadi di wilayah hukum Pleret. “Sejauh ini kami telah memeriksa 11 saksi,” jelasnya.Berdasarkan hasil pemeriksaan, penyidik belum mendapatkan kesimpulan apapun. Apakah sapi ini dicuri atau disembelih oleh warga. “Masih gelap. Kami sudah olah TKP. Di sana juga tak ada darah berceceran,” ungkapnya.Namun demikian, berdasar keterangan warga sapi-sapi liar di TPST memang kerap merusak tanaman milik warga seperti jagung dan kedelai. Akibatnya para petani mengalami kerugian yang cukup besar. (zam/din/ong)