FOTO-FOTO: DOKUMENTASI HASOE
WANI TOMBOK: Hadi Soesanto (kiri) saat melukis daun pisang. Di Turki, ia juga akan melukis objek yang menjadi ciri khasnya soal pisang.Foto kanan, Hasoe selfie di salah satu objek wisata.

Melukis Tandan Pisang, Bawa 100 Othok-Othok

Seniman serba bisa Hadi Soesanto kembali membuat ulah. Pria yang identik dengan dandanan nyentrik ini berangkat ke Turki beberapa hari lalu. Keberangkatannya diundang dalam ajang seni internasional yang diadakan oleh Kusadasi International Culture Art Dialogues Association.
DWI AGUS, Jogja
SEORANG pria nampak duduk santai di backstage Panggung The Parade, beberapa waktu lalu. Mengenakan pakaian serba ng-ejreng pria ini sedang mengobrol dengan beberapa temannya
Hadi Soesanto, seorang seniman multitalenta malam itu akan berkolaborasi dengan Shaggydog.Senyum ramah pun me ngem-bang ketika Radar Jogja meny-apa. Obrolan ringan beranjak ketika dirinya bercerita tentang sebuah event seni internasional, di mana ia turut berpartisipasi sebagai undangan.”Mau ke Kusadasi di Turki ikut pameran seni rupa di sana. Awal-nya mau mengundang seniman sana (Turki), tapi justru menda-pat undangan untuk berpame-ran. Langsung saya iyakan saja,” ungkapnya.Pria yang akrab disapa Hasoe ini mengungkapkan awalnya ia mengirim invitasi pameran, yang digelar di Jogjakarta pada pen-ghujung 2015. Jawaban pun diterima, namun para seniman Turki belum bisa berpartisipasi.Justru Hasoe mendapatkan angin segar karena dirinya mendapatkan undangan. Ia di-minta bergabung dalam ajang seni tahunan di Kusadasi Turki. Tanpa berpikir panjang, Hasoe pun oke saja.Hasoe menuturkan kegiatan seni ini diikuti 15 negara dari benua Eropa dan Amerika. Kurang lebih 50 seniman bergabung da-lam ajang seni internasional ini.
Hasoe tidak berangkat sendiri, namun bersama seniman lainnya, Emmy Go, asal Sorong, Papua.”Tempatnya seperti kawasan heritage di selatan Turki. Kota tua yang identik sebagai tempat penyamakan kulit sapi. Kun-jungan dari 20 – 30 April men-datang. Selain pameran juga ada workshop seni internasional,” ungkap seniman kelahiran Je-mber, 25 Mei 1968, ini.Dalam ajang ini setiap peserta diharuskan membawa satu ka-rya. Selain itu selama 10 hari juga membuat dua karya. Be-gitu pula Hasoe yang diminta membuat dua karya. Tentunya pengalaman ini menjadi guru baginya dalam berkesenian.Hasoe pun hadir dengan ciri khasnya, melukis tandan pisang sebagai objek karyanya. Dalam karyanya ini sebuah pensil kecil terselip. Lukisan karyanya ini ber-cerita dunia kreatif tanpa batas.”Dunia kreatif itu sebenarnya tidak berbatas. Tergantung in-dividu ingin mengembangkan-nya. Jika bertahan di zona nya-man, ya tidak berkembang. Ini yang coba saya gambarkan dalam karya saya,” ungkapnya.
Kesempatan yang diraih Hasoe ini belum tentu datang dua kali. Meski harus tombok, Hasoe tetap teguh berangkat. Baginya, peran serta ini merupakan se-buah gerbang emas, di mana ia dapat bertemu orang baru dan atmosfir seni yang berbeda.Untuk berangkat ke Turki, Hasoe harus menggunakan biaya sen-diri. Ia hanya mendapatkan ako-modasi menginap dan konsumsi selama di sana. Baginya, ini buk-anlah sebuah masalah, tapi se-buah peluang yang wajib diambil.Di sisi lain keikutsertaannya ini untuk mencari relasi di bidang seni. Apalagi selama ini konek-si ke dunia seni barat terbilang jarang. Dengan keikutsertaannya ini ia berharap mampu mem-buka jalur seni.”Undangannya sebenarnya mepet sekali karena sebulan sebelum berangkat. Tapi saya bertekad harus ikut. Mencari relasi baru di Turki, apalagi bisa bertemu seniman-seniman lain-nya.Banyak khasanah yang bisa jadi pelajaran nantinya,” ungkapnya.
Melalui ajang ini ia juga menga-jak seniman-seniman lain untuk gumregah. Artinya tidak hanya menunggu dan tidak mau ikut jika tidak ada dana. Setengah mengkritik, dirinya mengatakan saat ini tidak sedikit seniman yang malas.Sebagai catatan, sang seniman tidak ikut partisipasi jika tidak ada dana. Padahal untuk menge-nalkan karya, para seniman ini wajib berusaha sendiri. Hasoe mengistilahkan para seniman harus berani babad alas.”Ada yang menunggu dan men-cari gratisan, kalau selamanya seperti ini yang tidak bisa kelu-ar. Saat memutuskan untuk keluar dan aktif, kita bisa mengembangkan sayap. Berka-rya tapi tidak aktif srawung, juga percuma hasil karya yang dibuat,” ungkapnya.Dalam kesempatan ini Hasoe juga berupaya mengenalkan Indonesia.
Selain membawa bendera Merah Putih, ia juga membawa mainan tradisional otok-otok. Sebanyak 100 mai-nan ini akan diberikan secara cuma-cuma ke setiap peserta pameran.Kusadasi International Cul-ture Art Dialogues Association diikuti oleh 50-an seniman. Di antaranya dari India, Polandia, Iran, Canada, Turki, dan Indo-nesia. Setelah dari Turki, pada bulan Mei Hasoe dan Emmy juga akan berpameran di Ho Chi Minh City, Vietnam.Dalam pameran internasional ini juga diikuti beberapa seniman Indonesia. Sebut saja Agus Su-wage, Titarubi, Budi Ubrux dan Sulistyo. Bagi Hadi Soesanto, kunjungan ke Turki ini juga se-bagai ajang pemanasan untuk menghelat Jogjakarta Interna-tional Art Festival.”Rencananya akan diseleng-garakan pada Oktober tahun ini. Jadi sekalian melihat-lihat ba-gaimana konsep pameran in-ternasional di setiap negara,” ungkapnya. (*/laz/ong)