GUNAWAN/RADAR JOGJA
BERJAJAR: Antrean angkutan dalam kota menunggu penumpang yang terlihat mengular di terminal tipe A Selang, Wonosari. Saat ini, jumlah penumpang angkutan terus menurun.
GUNUNGKIDUL – Sistem Adminis-trasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Gunungkidul mencatat jumlah kendaraan yang masih beroperasi di Gunungkidul tahun ini mencapai 209.515 unit. Dari jumlah tersebut kendaraan roda dua paling banyak menyumbang populasi terbanyak yakni 189.921 unit.Baur STNK Samsat Gunungkidul Aiptu Sunyoto mengatakan, jumlah terbesar berikutnya diikuti oleh kendaraan pribadi dan angkutan masal yakni menembus 19.594 unit. Seluruh jumlah data angka tersebut sudah termasuk kendaraan yang mati pajak.”Rata-rata pertumbuhan ken-daraan, baik roda dua maupun roda empat setiap bulan mencapai sepuluh hingga sebelas persen,” kata Sunyoto, kemarin (24/4).
Di bagian lain, dampak dari pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi yang cukup signifikan ini dirasakan langsung oleh sopir kendaraan angkutan masal. Salah seorang sopir angkutan rute Siyono-Wonosari Agus mengakui hal tersebut. “Secara tidak langsung, banyaknya kendaraan pribadi berpengaruh terhadap pendapatan sopir. Ini saja, kebanyakan penumpang saya pelajar,” kata Agus.Sementara itu, Kepala Bidang Transportsi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informastika (Dishubkominfo) Gunungkidul Kuncoro Budi Santoso mengaku akan melakukan perampingan trayek angkutan. “Untuk jalur trayek yang sepi atau mati suri, kita rencanakan untuk dihapus atau digabungkan,” kata Kuncoro.Dia menjelaskan, sekarang di wilayahnya kurang lebih terdapat sebelas Perusahaan Otobus (PO).
Jumlah tersebut dipastikan menurun dibanding tahun lalu, lantaran terjadi pengurangan sejumlah PO, karena mati atau tidak banyak beraktivitas. Antara lain Pulung Sari, Sari Mulyo, Jaya Sehati.”Tapi sulitnya penumpang yang dialami trayek angkutan bukan berarti karena perpindahan minat masyarakat lebih memilih kendaraan pribadi,” jelasnya.Sementara itu, Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Gunungkidul, Wasdiyanto mengaku tidak setuju dengan rencana peng-hapusan trayek angkutan oleh pemerintah. Dia berharap pihak terkait menyodorkan opsi lain untuk mengatasi permasalahan yang ada. “Kalau trayek dihapus, kami meminta kompensasi,” tegasnya. (gun/ila/ong)