YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
AKRAB: GKR Hemas saat menyapa warga Padukuhan Sokonilo, Sidoluhur, Godean kemarin (24/4)
SLEMAN – Mengonsumsi jamu ter-masuk budaya warisan nenek moyang yang harus dilestarikan. Jamu yang dimaksud berupa seduhan bahan alami. Anggota DPD RI GKR Hemas mendorong masyarakat membudi-dayakan tanaman obat.Di sela kesibukannya sebagai wakil rakyat, GKR Hemas menyempatkan diri menemui warga Padukuhan So-konilo, Sidoluhur, Godean kemarin (24/4). Ada yang spesial di kampung itu. Hemas diundang untuk meresmi-kan pencanangan gerakan tanam apo-tek hidup. Ratu Keraton Ngayogyakarta Hadinin-grat pun menyempatkan diri berbagi pengalaman tentan apotek hidup. Se-bagai warga Jogja, Hemas termasuk penyuka jamu yang diseduh langsung dari umbi atau daunnya. “Sejak re-maja saya minum jamu,” ungkapnya.
Jamu yang masih sering dikonsumsi adalah rebusan daun salam. Itu seba-gai obat alami penurun kadar koleste-rol. Terkadang, Hemas mencampurnya dengan daun sirih. Ramuan tradisional itu menjadi menu rutin setiap hari. Untuk memudahkan pembuatannya, Hemas menanam sendiri bahan bak-unya. Tanaman yang juga ampuh se-bagai obat asam urat itu ditanam di lingkungan keraton. Di kediamannya di Jakarta pun, Hemas menanam pohon daun salam. Temulawak dan wedang jahe gula merah termasuk salah satu favoritnya. “Ini obat masuk angin. Malam tidur, bangun pagi sudah segar,” tutur Hemas yang mengaku pan-tang minum obat-obatan kimia ini. Minum jamu memang menyehatkan.
Namun, Hemas mewanti-wanti warga agar tidak sembarang minum jamu kemasan. Apalagi produk yang mengandung bahan pengawet. Sakit ginjal menjadi ancaman utama bagi siapapun yang sering mengonsumsi minuman berpengawet. Nah, untuk itu, Hemas mengimbau masyarakat agar membudayakan menanam tana-man apotek hidup. Hemas meyakini, jamu tradisional yang diolah sendiri lebih aman. Kebia-saan minum jamu alami memang bisa membuat tubuh sehat. Tapi, pengon-sumsi jamu tak boleh sekedar mencari cara pintas untuk mendapatkan efek sesaat, seperti stamina atau kekuatan. Bagi Hemas, menanam umbi-umbi-an, seperti jahe, kencur, kunyit, temu-lawak, dan serai, termasuk bagian dari nguri-nguri kebudayaan. “Jangan dilihat yang istimewa itu hanya seni budaya. Maknanya lebih luas,” ingatnya.Setiap kegiatan yang dilakukan dengan tertib dan santun, termasuk budaya. Hemas mencontohkan cara bertani dengan berbudaya tanpa berebut air irigasi. Juga pendidikan siswa yang mengajarkan harga diri dan kebaikan hubungan antar sesama. Sebelum mengakhiri wejangannya, Hemas meminta lahan tanaman obat tak sekedar menjadi pameran. “Kapan-kapan saya akan lihat ke sini tanpa bilang-bilang. Pekarangan harus sudah tertanam apotek hidup,” pintanya.
Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu berharap, gerakan apotek hidup tak hanya berkembang di Sidoluhur. Tapi bisa menjadi virus positif yang menu-lari seluruh warga Sleman. Hal penting yang harus diperhatikan adalah me-melihara apotek hidup agar tumbuh subur. “Bukan hanya karena ada GKR Hemas lantas kegiatan selesai. Kela-njutannya lebih penting,” ingat Yuni.Semangat warga Padukuhan Soko-nilo harus terus terpupuk. Apalagi, pada awal Mei, Sokonilo menjadi wa-kil Sleman dalam lomba desa unggulan. Kepala Desa Sidoluhur Hernawan Zudanto tak hanya mendorong war-ganya menanam apotek hidup. Sayur mayor berupa bayam, terung, dan cabe juga menjadi komoditas yang dibudidayakan warga. “Cukup meman-faatkan pekarangan yang ada,” katanya. Sesempit apapun sisa lahan pemu-kiman, Hernawan ingin menumbuhkan kesadaran warga akan pentingnya ba-han pangan dan obat alami. Tujuannya, agar saat membutuhkannya, warga tidak perlu repot-repot membeli ke pasar. (yog/din/ong)