GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
TANGGUL JEBOL: Warga mengambil pasir untuk membuat tanggul darurat pascabanjir luapan Kali Code di kawasan Juminahan, Jogjakarta, kemarin (24/4).
JOGJA – Kerusakan infrastruk-tur akibat bencana banjir Rabu malam (22/4) terus dihitung. Badan Penanggulangan Ben-cana Daerah (BPBD) DIJ baru menerima satu laporan esti-masi kerugian dari Pemkot Jogja. Sementara dari kabupaten lain, belum diterima datanya.”Pemkot Jogja melalui wali kota sudah melaporkan data terbaru kerusakan. Estimasi kerugian dari awalnya Rp 1,2 miliar kini menjadi Rp 2,7 miliar. Sedangkan yang lain belum masuk, sehingga belum ditotal,” ujar Kepala BPBD DIJ Gatot Saptadi kemarin (24/4). Gatot mengharapkan kabupaten lain yang juga terdampak, untuk bisa segera melaporkan kerusakan dan nilai kerugian, untuk kemu-dian diverifikasi
Gatot mengungkapkan untuk perbaikan tetap menggunakan kucuran dana dari APBD kota/kabupaten, apabila tidak cukup dapat dibantu dengan APBD Pro-vinsi. Untuk itu, BPBD DIJ meminta segera masukan data soal ke-rusakan. BPBD segera melaku-kan verifikasi estimasi kerugian tersebut dengan daerah-daerah terdampak dan akan ditentukan skala priotitas penanganan, se-perti perbaikan talud Kali Code. “Kami sudah buat prioritas yang harus segera ditangani, supaya tidak makin parah atau mem-bahayakan warga,” terangnya.Hal senada diakui Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mine-ral (PUPESDM) DIJ Rani Sjam-sinarsi. Menurutnya, sudah ada laporan terbaru tentang kon-disi jalan dan jembatan yang juga rawan. Ia mencontohkan seperti di jembatan Juminahan, Jogja. Akibat tergerus aliran air Kali Code, kondisi jembatan mengalami kerusakan. “Sudah ditutup sementara. Kalau dibe-bani, khawatir akan cepat roboh,” tandasnya.
Selain itu juga terdapat laporan kerusakan jalan, seperti ada ruas Pakem-Jogan terdapat kerusakan talud 15 meter yang longsor dan mengancam bibir jalan. Juga ruas Pakem-Jogan-Tempel yang aspalnya terkelupas, sehingga lalu lintasnya terganggu. Kerusa-kan juga terdapat pada talud se-panjang 10 meter dan jalan ambles berupa gorong-gorong.Rani menambahkan, dari ba-gian SDA juga terdapat laporan kerusakan bendungan. Terparah dialami Bendung Dadapan yang mengaliri 51 hektare persawahan. Juga Bendung Lodadi yang menga liri 176 hektare, tapi masih bisa direhab alias tidak separah kerusakan Bedung Dadapan. Selain itu kerusakan pada tang-gul banjir di Glendongan, Tam-bakbayan, seluas 209 hektare yang dekat pemukiman warga sehingga membahayakan. Se-lanjutnya kerusakan daerah irigasi Tiboraharjo 48 hektare di sayap bendungnya yang rusak.Menurut Rabu, kerusakan pa-ling parah ada di Sleman. “Kami memprioritaskan yang utama untuk lalu lintas. Jangan sampai terganggu dan kedua infrastruk-tur yang masih bisa diselamatkan, jangan sampai makin parah,” terangnya.
Sementara itu Gubernur DIJ Hamengku Buwono X mengaku baru mendapatkan informasi dari BPBD DIJ terkait kerusakan beberapa infratruktur di DIJ. Di antaranya dari Kota Jogja yang sudah memintakan partisipasi dari Pemprov DIJ untuk perbaikan. Gubernur juga menilai, meski kerusakan yang diakibatkan cukup besar, belum sampai ha-rus mengeluarkan status darurat bencana. Untuk penanganan, selain meminta bantuan ke pro-vinsi, juga dari anggaran kabu-paten/kota. “Kabupaten/kota juga punya dana khusus ben-cana, selain dari provinsi juga ada,” tuturnya.

Gelontor Bantuan Sementara

Pemkab Sleman masih meng-hitung kerugian akibat bencana banjir yang melanda wilayah Turi, Pakem, dan Depok, pada Rabu malam (22/4). Bupati Sle-man Sri Purnomo (SP) memer-kirakan nilai kerugian lebih dari Rp 15 miliar. Asumsinya, setiap jembatan senilai Rp 4 miliar. Ada empat jembatan yang ro-boh akibat diterjang banjir. Salah satunya Jembatan Mangut Pules Lor di Donokerto, Turi. Jemba-tan penghubung jalur utama jalan alternatif Magelang-Klaten itu diprediksi menelan angga-ran terbesar. “Itu belum terma-suk jalan rusak akibat tergerus luapan air sungai. Sebelumnya, jalan itu aspal mulus,” ungkap SP kemarin (24/4).Jumlah itu masih ditambah kerugian akibat rusaknya lahan pertanian seluas 250 hektare. Juga kolam perikanan yang merugi sekitar Rp 500 juta.
Di Padukuhan Glagah Ombo dan Cepet, Purwobinangun, Pakem, talud sepanjang lebih dari 25 meter rusak dan longsor. Kerugian ditaksir Rp 30 juta. Di Kalireso, talud di jalan provinsi juga ambrol. Ini mengakibatkan sebuah rumah di tepi talud am-bles karena tergerus air. Keru-gian minimal Rp 50 juta.Kepala BPBD Sleman Julise-tiono Dwi Wasito mengatakan, langkah awal penanganan ben-cana berupa tindakan darurat. Bantuan yang digelontor pun sifatnya darurat. Selain logistik, perkakas tukang untuk kerja bakti dan ratusan kantong pasir untuk tanggul daru-rat. Tanggul sementara dipasang di titik-titik aliran air sungai yang membelah jalur, sehingga masuk pemukiman warga. Pompa diesel termasuk sarana krusial yang diberikan kepada warga. Dua unit mesin solar itu disiapkan untuk menyedot ge-nangan air dan lumpur yang menggenangi bagian dalam ru-mah. “Pompa itu juga bisa untuk menguras sumur yang tertimbun lumpur,” katanya.Hingga kemarin sore, bupati dan pejabat terkait masih men-cari formulasi penanganan ben-cana banjir. Demi kelancaran arus lalu lintas di jalur alternatif tersebut, SP berupaya mem ba-ngun jembatan baru dengan konstruksi yang lebih kuat. “Je-mbatan lama itu wujudnya go-rong-gorong,” jelasnya.
SP juga telah menginstruksikan jajarannya untuk memasang rambu-rambu portable di titik-titik krusial di jalur alternatif. Fungsinya, mengarahkan pengen-dara mobil dan sepeda motor agar mengambil rute lain. Hal ini agar tak terjadi penumpukan kendaraan di titik terdekat dengan jembatan yang putus. Pengalihan rute pun dilakukan demi kelan-caran arus lalu lintas. Sementara itu, Kepala Desa Donokerto Waluyo Jati menga-takan, akibat hujan lebat Rabu malam itu empat jembatan di wilayahnya ambrol. Empat je-mbatan itu yakni Jembatan Mangut Pules Lor, Jembatan Gondang Angin-Angin, Dam Dukuh, dan Gayam Gabukan.”Kerugian sedikitnya Rp 2 mi-liar. Itu belum termasuk keru-gian yang dialami warga akibat terendamnya sekitar 250 hek-tare lahan pertanian dan peri-kanan, yang merupakan mata pencaharian utama masyarakat Donokerto,” katanya. Untuk pe-rikanan, masing-masing warga merugi sekitar Rp 500 juta.Akibat musibah itu, Waluyo menyatakan kawasan Dono-kerto Turi darurat tanggap ben-cana. Menurut Waluyo, selain Jembatan Mangut Pules Lor, per-baikan akses menjadi kewenangan Pemprov DIJ. “Jika tak segera diperbaiki, akses utama jalur alternatif itu tak bisa dilewati untuk arus mudik dan balik saat Lebaran,” katanya khawatir.
Agar tak mengganggu arus ken-daraan dari Turi dan Pakem, warga melakukan rekayasa lalu lintas sementara. Arus dari selatan (Jalan Turi) menuju Pakem dia-rahkan ke timur di perempatan Bangjo Pasar Turi menuju Pulo-watu. Demikian pula rute seba-liknya. Sedangkan kendaraan dari Pakem yang terlanjur mengam-bil arah ke barat menuju Pasar Turi dibelokkan ke selatan mela-lui jalan desa. “Tapi itu khusus kendaraan kecil. Bus dan truk tak bisa lewat,” kata Waluyo.Petani di wilayah selatan Turi juga terkena dampak buruk aki-bat ambrolnya empat jembatan tersebut. Selama ini, petani mengandalkan air irigasi yang terhubung ke sungai-sungai di bawah jembatan. Reruntuhan bangunan jemba-tan menghambat laju air menu-ju saluran irigasi. Karena itu, Waluyo mendesak pemerintah segera memperbaiki dan mem-perkuat infrastruktur jembatan. Permintaan itu cukup beralasan. Sebab, selama ini jembatan ter-sebut selalu dilewati truk-truk muatan pasir yang melebihi to-nase. Waluyo menduga, kondisi itu menyebabkan pondasi jem-batan semakin lemah, sehingga roboh saat diterjang banjir.
Banjir di wilayah utara Kabu-paten Sleman juga menjebolkan beberapa talud sungai di Keca-matan Pakem. Di antaranya, di Kalireso, Candibinangun. Ini mengakibatkan sebuah rumah warga ambles, karena lapisan tanah di bawahnya terkikis. Talud Glagah Ombo dan Cepet di Pur-wobinangun juga ambrol.Sementara itu, banjir di aliran Sungai Gajah Wong merendam sedikitnya 94 rumah warga Caturtunggal, Depok. Terdiri atas 48 rumah di Padukuhan Mrican, Pringgodani dan 46 di Grinjing, Papringan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dae-rah (BPBD) Julisetiono Dwi Wa-sito menduga, banjir yang me-landa pemukiman penduduk bukan semata-mata akibat arus dan debit air yang tinggi. Dia menengarai, penyempitan ruang sungai dan sampah yang me-nyumbat aliran turut menjadi fak tor penyebab.Karena itu, Julisetiono meng-ingatkan, semua warga di wi-layah bantaran sungai selalu waspada. Itu lantaran potensi banjir diperkirakan masih bisa terjadi hingga Mei. “Ini harus jadi perhatian semua pihak,” pintanya.
Terpisah, anggota Komisi C DPRD Sleman Wawan Prasetyo menyatakan, ambrolnya jem-batan menjadi peringatan bagi pemerintah terkait minimnya upaya penegakan hukum terhdap pengendara truk-truk pengang-kut pasir yang over weight. “Seha-rusnya sejak dulu ditertibkan. Bukan hanya truk pengangkut pasir. Tapi juga penambangan-nya,” ingat politikus PKB itu. Wawan meminta pemerintah nantinya mengukur kekuatan kon-struksi jembatan dan jalan sesuai dengan peruntukannya. Tindakan tegas bagi pelanggar, khususnya sopir truk pengangkut muatan melebihi kapasitas, menjadi suatu keharusan. (pra/yog/laz/ong)