DWI AGUS/RADAR JOGJA
APIK: Salah satu karya Bjarne v.H.H.Solberg menghadirkan ratusan mangkuk dari tanah liat.

Kemas Perspektif Indonesia lewat Bambu hingga Mangkuk

Seniman asal Denmark Bjarne v.H.H.Solberg menggambarkan Indonesia melalui perspektifnya. Ini tersaji melalui tiga buah karya di Kersan Art Studio, Kasihan, Bantul. Setiap karya memiliki makna penggambarannya terhadap Indonesia.
DWI AGUS, Jogja
TIGA karya ini bertajuk Floating Soul, Salt Life dan Life Time/Time Life. Setiap karya mengisi tiga ruang pameran yang ada di Kersan Art Studio. Dua karya berada di da-lam, sedangkan satu karya terbesarnya yang berjudul Floating Soul berada di pendopo luar.”Sebelum tiba di Jogja, pengetahuan saya tentang budaya Indonesia dan simbolisme masih terbatas. Sehingga, sebelumnya saya melalukan penggalian selama 7 minggu,” katanya (22/4).Seniman yang memiliki nama seni B.v.H.H.S. ini meraba Indonesia melalui karyanya. Floating Soul, bercerita tentang pemaha-mannya akan jiwa Indonesia pada umum-nya. Ini digambarkan melalui objek bambu yang tergantung di Pendopo.Bambu-bambu berukuran besar ini dicat dengan warna merah.
Selain itu, dalam se-tiap ruas bambu, berisi air berwarna merah. Di mana di setiap ujungnya terdapat se-buah kendi untuk mewadahi tetesan air.”Karya ini mengacu pada instalasi Soul yang dibuat di New York pada 1988. Rasanya seperti neraka merah, hutan energi berca-haya, cermin dari Kota New York. Ini meng-gambarkan jiwa Amerika yang terlihat,” ungkapnya.Keunikan Solberg, juga dituangkan dalam karya bertajuk Salt Time
Karya ini terdiri mangkuk tanah liat yang ditata melingkar. Diri-nya menggambarkan karya ini sebagai gerhana kehidupan.Karya ini, menurutnya, meng-gambarkan simbol protes. Men-contohkan sosok Mahatma Gan-dhi yang memimpin pada tahun 1930. Pada waktu itu dirinya me-mimpin demonstrasi menentang monopoli garam pemerintah.”Simbol perjuangan atas ke-bebasan. Garam di sini juga melambangkan kehidupan yang identik dengan rakyat,” katanya.Sedangkan karya berjudul Life Time/Time Life menghadirkan perkakas pertanian. Seperti tiga alat bertani hingga dipan bambu khas petani Indonesia. Alat-alat ini menurut sang seniman, meru-pakan saksi perjuangan hidup.Dikatakan, petani merupakan sosok rakyat kecil yang berjuang untuk hidup. Di era persaingan modern saat ini, para petani seakan semakin terpojok.
Di mana dinamika di bidang per-tanian mampu menggerus budaya tani di Indonesia.”Materi yang saya pilih untuk pameran saya adalah bahan sehari-hari di Indonesia, se-perti bambu dan tanah liat dalam bentuk guci dan mangkuk, ser-ta bahasa rupa simbol umum Indonesia. Dengan cara ini saya berharap baik secara fisik dan mental untuk terlibat dalam dialog dengan semangat Indo-nesia,” ungkapnya. (*/jko/ong)