DOKUMEN PENKUM KEJATI DIJ

Sudah Bertugas di 10 Provinsi

 
Perjalanan karir I Gede Sudiatmaja tidaklah berjalan mudah.Karirnya dimulai dari bawah sebagai CPNS staf TU KejatiLampung dengan pangkat Muda Darma. Dua tahunkemudian menyandang status PNS pada 1985.Sejak bergabung dengan kejaksaan pada 1983,pria kelahiran Bali ini terpaksa harus jauhdari keluarganya untuk melalang buanamenunaikan tugasnya sebagaiabdi negara.
SELAMA berkarir di kejaksaan, bapak tiga putera ini sudah menempati lembaga kejaksaan di 10 provinsi dari 34 provinsi se-Indonesia. Yakni, Lampung, Banten, Kepulauan Riau, NTT, NTB, Jawa Tengah, Jakarta, Bengkulu, Maluku, dan DI Jogjakarta.Sebelum didaulat sebagai kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ, Sudiatmaja mengawali karirnya di Kejati Lampung pada 1983. Karirnya di lembaga adhiyaksa ini dapat dibilang kesasar. Sebelum mengikuti serangkaian tes di kejaksaan, sebenarnya ia ingin berkarir di lembaga perbankan. Namun apa boleh buat, nasib menuntutnya untuk ikut bergabung di lembaga yang berpusat di Gedung Bundar Jakarta itu.”Awal bergabung dengan kejaksaan, golongan saya baru IIB,” kata Sudiatmaja kepada Radar Jogja di kantornya, pekan ini.
Golongan Sudiatmaja pun terus naik seiring prestasi yang ditorehnya. Pada 1987, ia menjadi jaksa fungsional berpangkat Ajun Jaksa di Kejati Lampung. Tak lama kemudia ia menjabat Kasubsi Pra Penuntutan Pidum Kejari Gunung Sugih, Lampung. Di sini, ia bertugas selama tujuh tahun tiga bulan.Selama di Kejati Gunung Sugih, ia sering merasakan kekhawatiran. Maklum, perkara pidana umum yang ditanganinya bermacam-macam seperti pencurian dengan kekerasan, bentrok antarwarga, pembunuhan, penganiayaan, dan lain sebagainya. Suatu ketika, ia pernah menangani perkara penganiayaan yang melibatkan antarsaudara sepupu. Antara korban dan terlapor sama-sama berprofesi sebagai guru. “Akhirnya, pelapor dan terlapor memilih jalan damai,” jelas suami Ni Made Sutarmi ini.
Yang paling membuat khawatir ketika menangani perkara pencurian dengan kekerasan di Kejari Gunung Sugih, Lampung Tengah. Tersangka merupakan penduduk asli setempat. Sejak menangani perkara tersebut dirinya kerap mendapatkan kiriman bunga dicapur dengan garam yang ditabur di depan pintu ruang kerja dan rumahnya.”Awalnya saya kaget. Tapi, saya pasrah kepada Tuhan dan berkeyakinan bahwa apa yang saya jalankan merupakan tugas negara demi keadilan masyarakat. Kuncinya adalah menegakkan keadilan,” tandas alumnus Universitas Lampung ini.Tujuh tahun kemudian kembali dimutasi ke Kejaksaan Sukadana. Di sini, ia berkarir selama 2,5 tahun. Setelah itu, ia lagi-lagi dipindah ke Kejaksaan Metro sebagai Kasipidsus selama tiga tahun. Dari Kejaksaan Metro, ia kembali dimutasi ke Kejari Batam sebagai Kasi Intel, kemudian kembali lagi ke Metro sebagai kepala Kejari.”Jadi, karir saya lebih banyak di Provinsi Lampung. Selama bergabung dengan kejaksaan, saya sudah terbiasa jauh dengan keluarga, hidup sendiri di daerah tempat bertugas,” ungkap pria kelahiran Singaraja, 15 Agustus 1955, ini.Nasib Sudiatmaja dapat dibilang mujur.
Setelah dua tahun menjabat Kajari Metro, Sudiatmaja kembali dipindahtugaskan ke Kejati Bengkulu sebagai Aspidsus. Tak lama kemudian kembali dipindah ke Banten sebagai Assintel Kejati Banten selama 2,5 tahun. Dari Banten, ia ditugaskan ke NTT sebagai Kajari Kupang selama 1,4 tahun.”Pengalaman yang paling terkesan ketika bertugas di Kupang. Perkara yang ditangani tidak seperti di Lampung dan Banten seperti kasus pengeroyokan dan bentrok antarwarga,” tandasnya. Setelah dari Kupang, Sudiatmaja kemudian dimutasi ke Kejaksaan Agung (Kejagung) sebagai Kasubdit Pengawasan Media Massa dan Barang Cetak. Dirinya bertugas di Gedung Bundar, sebutan gedung Kejagung, selama tiga bulan. Dari Kejagung ia dipercaya sebagai Wakil Kepala Kejati Maluku pada 2010. Di sini ia bertugas selama dua tahun. Setelah itu, ia dipindah lagi sebagai Wakil Kejati NTT. “Kemudian saya dipindah lagi sebagai Kepala Kejati Maluku. Dari Maluku saya dipindah lagi ke Kejati DIJ pada 3 Maret 2015,” paparnya. (mar/laz/ong)
selengkapnya: https://radarjogja.co/public_html/media/2015/04-April/26/JOGJA-2604-HAL-08-FC-link.jpg