SETIAKY/RADAR JOGJA
KEBERSAMAAN: Kesibukan di dapur umum bencana banjir Kali Code di Gereja Santo Yusup, Bintaran, Jogja, kemarin (25/4). Mereka sedang mempersiapkan makan siang.
 

Logistik Terbanyak dari Parpol, Memasak Dibantu Mahasiswa

 
MENDUNG menggelayut di atas langit Jogja ketika ibu-ibu warga Bintaran sibuk memasak di dapur umum yang terletak di Geraja Santo Yusup Bintaran, kemarin (25/4). Bukan hanya untuk kebutuhan keluarganya saja, para ibu tersebut memasak dalam porsi yang besar. Mereka memasak untuk keperluan makan warga yang mengungsi serta para relawan. Dibantu mahasiswa KKN serta dari asrama-asrama mahasiswa ter-dekat, dalam sekali masak, mereka mem-buat 100-150 nasi bungkus.Ketika disambangi Radar Jogja, ibu-ibu tengah memasak nasi dengan lauk telur dadar, sarden dan tumis kangkung. Meski terkena musibah, tidak ada raut kesedihan. Sambil memasak, mereka tampak asyik mengobrol dengan ibu atau relawan. “Sam-bil menunggu rumah dibersihkan bapaknya, di sini bantu-bantu masak,” ujar seorang ibu di dapur umum.Menurut Andi Maulana, Ketua RW 02 Bin-taran, Wirogunan, Mergangsan, dapur umum itu sudah ada sejak Kamis lalu (23/4). Tidak ada menu khusus yang disiapkan, semuanya seadanya
“Seadanya saja, apa (bahan) yang ada kita masak,” terang Andi.Bahan makanan yang masuk ke dapur umum berasal ban-tuan berbagai pihak. Mulai dari kelompok masyarakat, partai politik, hingga Dinas Sosial Kota dan Provinsi. Bantuan dari Dinas Sosial yang masuk baru berupa mie instan, sarden atau kecap. “Kita memaklumi, karena ben-cana juga terjadi di berbagai lokasi, berapa pun kami terima,” ujar Andi yang menyebut bantua paling besar malah berasal dari salah satu partai politik.Andi menjelaskan, dapur umum itu hanya memasak dua kali se-hari, yaitu untuk makan siang masyarakat dan relawan, yang membantu membersihkan enda-pan lumpur, serta makan malam untuk warga yang mengungsi. Ya, meski proses pembersihan rumah warga terus berlangsung, belum semua bisa ditempati.
Andi mengungkapkan wilayah RW 02 Bintaran yang terdiri atas 96 rumah, 400 kepala keluarga (KK) dan sekitar 700 jiwa, 100 persen wilayahnya terkena lua-pan air Kali Code. “Sekarang pembersihan sudah mencapai 80 persen, targetnya besok Minggu (hari ini, Red) sudah selesai dan semua kembali ke rumah,” terang Andi.Peristiwa kemarin diakuinya merupakan kejadian paling be-sar yang pernah dialami. Bahkan ketinggian air mencapai leher orang dewasa di dalam rumah warga. “Rumah saya yang bia-sanya tidak kena, kemarin juga terendam hingga pinggang,” tuturnya.Sementara itu Ketua RW 01 Bintaran FX Heri Nugroho me-nambahkan, proses pembersihan lumpur masih terus dilakukan. Tetapi masyarakat terkendala dengan tidak adanya penyemprot air, terlebih lumpur yang berada di permukiman sudah padat. Hujan yang mengguyur Jogja Jumat malam (24/4) dimanfaat-kan warga untuk membersihkn lumpur. “Kalau tidak disemprot air sulit, karena lumpurnya sudah keras,” terangnya.
Setelah tiga hari banjir, seba-gian masyarakat juga mulai ter-serang penyakit. Paling banyak terkena gatal-gatal, sebagian juga diare, masuk angin dan kecapaian. Terlebih sejak keja-dian, masyarakat jarang tidur karena harus bekerja bakti mem-bersihkan lumpur. “Untuk itu kami panggil dokter Puskesmas untuk penanganan masyarakat yang sakit,” tuturnya.Kepala Bidang Bantuan dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Dinsosnakertrans Kota Jogja Tri Maryatun mengung-kapkan, pihaknya turut mem-bagikan nasi bungkus sebanyak 1.730 paket. Masing-masing di wilayah Danurejan 650 bungkus, Prawirodirjan 300 bungkus, Ngupasan 450 bungkus, Wiro-gunan 250 bungkus, dan Kepara-kan 80 bungkus.Sebelumnya, Kepala Dinas So-sial DIJ Untung Sukaryadi men-gatakan Dinas Sosial memberikan bantuan secukupnya. Dihitung berapa pengungsi dan kebutuhan. “Tidak bisa mengambil banyak-banyak, tapi secukupnya,” jelas Untung. (*/laz/ong)