HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA -MENUNGGU KERING: Warga Desa Krembangan 1, Panjatan mulai melakukan aktivitas di luar rumah. Namun, aktivitas mereka masih terkendala air yang belum sepenuhnya surut. 
KULONPROGO-Sehari pascabanjir besar yang melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Kulonprogo, hingga kemarin (26/4) beberapa titik permukiman warga dan areal persawahan masih terendam banjir. Namun secara umum kondisinya kini mulai membaik.
Pantauan Radar Jogja, kondisi wilayah Kecamatan Panjatan yang terdampak banjir paling parah sudah berangsur normal. Warga sudah mulai keluar rumah, kendati hanya sebatas melakukan bersih-bersih dan melihat lahan persawahan milik mereka.
Sedangkan aktivitas dapur umum di Kantor Balai Desa Panjatan juga sudah dihentikan. Sungai Gun Sheiro, Sen, dan Peni yang sempat meluap dan menjadi penyebab utama banjir besar di Kecamatan Panjatan juga sudah mulai surut.
Genangan banjir hanya terlihat di beberapa titik permukiman dan areal persawahan di daerah rendah dan dekat dengan bantaran sungai seperti di desa Desa Cerme, Krembangan, dan Gotakan.
Camat Panjatan Sudarmanto mengungkapkan, Kecamatan Panjatan terdiri dari 11 Desa, dan hampir semua merasakan dampak banjir yang mencapai puncaknya Sabtu malam (26/4). “Dapur umum sudah tidak diaktifkan. Karena permukiman warga kondisinya sudah semakin membaik,” ungkapnya di Balai Desa Panjatan.
Menurutnya, pemantauan dan evaluasi masih terus dilakukan. Sabtu malam (25/4) lalu, luapan sungai Gun Sheiro memang sempat masuk ke 150 rumah warga di Pedukuhan 1, 2 dan 3 Desa Gotakan dan merendam sawah seluas 20 hektare di desa setempat.
Banjir di Desa Krembangan juga berlangsung hebat. Persisnya setelah saluran irigasi sungai Sen tidak mampu menampung debit air dan akhirnya meluap. Selain melanda permukiman, banjir di Krembangan juga merendam sedikitnya 60 hektare sawah warga. Selain itu, ribuan ikan lele budidaya warga lepas.
Yang masih menjadi kendala saat ini, lanjutnya, longsor dan tumbangnya pohon munggur di pedukuhan II Desa Krembangan belum bisa dievakuasi karena masih menunggu alat berat. Sebetulnya bukan jalan kabupaten yang tertutup, tapi ada beberapa warga yang terisolasi. “Sedangkan kerjabakti belum bisa dilakukan,” tambahnya.
Sudarmanto menjelaskan, hingga saat ini pihaknya juga masih terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan tanggap darurat bencana. Termasuk dengan Dinas Kesehatan (Puskesmas Panjatan I) untuk penanganan pasca banjir yang biasanya ditandai dengan serangan gatal-gatal dan diare.
“Untuk kesehatan kita fokuskan ke sanitasinya,” tambahnya. Dan sejauh ini belum atau tidak ada laporan serangan gatal-gatal atau diare. Semua masih bisa dicover oleh Puskesmas I Panjatan. Namun jika ada yang mengeluh sakit dan jumlahnya banyak sudah siap doalokasikan bantuan obat-obatan.
Rusri, 50, warga Pedukuhan 7, Desa Cerme, Kecamatan Panjatan mengatakan, banjir sudah mulai menyusut. Tanaman padi miliknya yang ditanam di sawah seluas 600 meter persegi juga sudah kembali nampak daun dan batangnya.”Kondisinya masih baik. Semoga tidak terjadi banjir susulan,” katanya.
Sutinem, 40, warga Pedukuhan 10 Desa Cerme menyatakan, banjir masih bertahan di halaman rumah dan jalan-jalan desa dan membuat dirinya sulit untuk melakukan aktifitas sehari-hari. “Di halaman saya air masih selutut, jalan desa juga masih terendam jadi susah mau keluar rumah,” keluhnya.
Kadus 10 Desa Cerme, Sukamto, 53, menyatakan, berkaca pengalaman banjir serupa yang terjadi sebelumnya, air bah baru bisa surut kering sepekan pasca kenjadian. Itu dengan catatan tidak terjadi banjir susulan.
Pedukuhan 10 Cerme yang dihuni 64 KK atau 209 jiwa dan hingga Minggu (26/4) masih tergenang banjir. Bahkan enam rumah di antaranya masih terendam. Warga menilai, selain intensitas hujan yang tinggi, pendangkalan sungai menjadi pemicunya. Karena itu, warga berharap segera dilakukan normalisasi. Banjir serupa terjadi 1993 silam. “Wilayah kami memang paling rendah di antara pedukuhan lain di Desa Cerme,” ujar nya
Paimin, 45, warga Pedukuhan 1 Desa Krembangan mengungkapkan, wilayah desa Cerme selalu paling lama surutnya. Banjir juga membuat warga kesulitan untuk mencari pakan ternak. Usaha budidaya lele kolam terpal yang menjamur di desa Krembangan juga menelan banyak kerugian, kolam ikan lele siap panen banyak yang jebol dan ikan habis hilang. “Banjir sulit surut karena debit air sungai lebih tinggi dari permukiman warga,”jelasnya. (tom/din/Nr)