SLEMAN – Asosiasi Hutan Tanaman Rakyat Mandiri Indonesia (AHTRMI) serius menyikapi luasnya lahan hutan kritis di wilayah DIJ. Bekerjasama dengan Yayasan Jenderal Soedirman Center (JSC), AHTRMI akan menanam sejuta pohon.
Sebagai langkah awal, gerakan serentak di empat kabupaten dan Kota Jogja masing-masing ditanami seribu bibit pohon. Setiap daerah dipilih kawasan kritis. Kecuali Kota Jogja, kegiatan akan dilakukan di Alun-Alun Utara. Dengan catatan, mendapat izin dari gubernur dan wali kota. “Gerakan ini dipusatkan di Wediombo, Rongkop, Gunungkidul. Serentak di DIJ pada 6 Juni,” ungkap Sekretaris AHTRMI Agus Subagyo kemarin (26/4).
Bibit yang ditanam hanya pohon produktif. Beda lokasi beda pula jenisnya, disesuaikan dengan kontur tanahnya. Nangka dan petai di Wonosari. Sedangkan di lereng Merapi ditanam bibit aren, dan di Kulonprogo cemara udang.
Agus mengakui, butuh waktu sekurang-kurangnya empat tahun hinga bibit berbuah. Namun bukan itu saja tujuan utamanya. Konservasi lahan kritis lebih menjadi prioritas. Sedangkan hasil pohon sebagai bonus bagi masyarakat setempat.
Setiap daerah disediakan lahan seluas satu hektare. Khusus di Wonosari, ada angan-angan dari pengurus asosiasi menjadikan Wediombo sebagai sentra penghasil gori (nangka muda) untuk menyuplai kebutuhan industri gudeg khas Jogjakarta.
Jadi, selain konservasi lahan, gerakan itu memberi menfaat ekonomi bagi warga. “Itu di tanah AB, bukan milik pemerintah atau Sultan Ground. Istilahnya hutan peninggalan Belanda yang pengelolaannya oleh warga sekitar,” jelas Agus.
Ketua Asosiasi Basyarudin Siregar menambahkan, gerakan tanam sejuta pohon bukan semata-mata gebrakan awal. Tapi kebijakan bertahap yang dilaksanakan secara kontinyu. “Harapan kami, gerakan ini bisa dipimpin langsung oleh gubernur,” katanya.
Siregar menegaskan, gerakan reboisasi hutan juga dalam rangka menjawab komitmen gubernur DIJ dalam upaya menghijaukan kawasan hutan yang ada. Siregar menambahkan, fokus gerakan sengaja dititikberatkan di Gunungkidul setelah melihat statistik kondisi kerusakan hutan.
Dari hasil kajian lembaganya, diketahui, kerusakan hutan di wilayah DIJ mencapai 5 persen sejak 2010. Terbesar di Kabupaten Gunungkidul.
Selama ini upaya reboisasi belum mendapatkan hasil signifikan. Baru sekitar 20 persen lahan yang ditanami kembali. Itupun sedikit yang berhasil. Siregar menilai, kegagalan reboisasi akibat kesalahan prosedur penanaman dan pemeliharaan tanaman. “Sekadar program panggung alias asal-asalan,” sindir alumnus Fakultas Teknologi Pertanian UGM itu.
Ke depan, AHTRMI akan memberikan contoh prosedur reboisasi yang baik dan benar. Termasuk penyiraman bibit tanaman dengan menggunakan mesin. Tanpa bantuan alat, Siregar pesimistis, reboisasi bakal berhasil. (yog/din/mga)