<![CDATA[DWI AGUS/Radar Jogj
BANTUL – Minggu pagi kemarin (26/4) kompleks makam raja-raja Mataram di Kotagede dipadati ratusan warga. Kedatangan warga ini untuk menyaksikan prosesi Ambengan Ageng Nawu Jagang Masjid Mataram dan Sendang Seliran.
Kegiatan ini merupakan upacara adat seni budaya yang dilaksanakan setiap tahunnya. Sambutan positif diberikan oleh Pemkab Bantul yang diwakili Asisten Administrasi Amum Sunarto SH, MM. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk nguri-uri budaya yang wajib dilestarikan.
"Di sisi lain juga mampu menjadi agenda wisata di Jogjakarta. Tidak hanya wisatawan domestik, namun juga mancanegara. Peran ini juga wajib dikawal oleh pemerintah, Keraton Kasultanan Jogjakarta, Keraton Kasunanan Surakarta, dan warga secara bersama-sama," ungkapnya.
Antusiasme warga terlihat sejak pagi hari di sepanjang wilayah Kotagede. Diawali dari kirab gunungan kuliner khas Kotagede menuju pelataran Masjid Gedhe Mataram, Kotagede. Selain gunungan, dalam prosesi ini juga turut dikirab jodang untuk menguras sendang.
Dalam kirab ada dua gunungan dan dua jodang yang dibawa beberapa abdi dalem Keraton Kasultanan Jogjakarta dan Keraton Kasunanan Surakarta. Dua gunungan ini berbeda dangan gunungan pada umumnya.
Gunungan tersebut berisi beragam makanan, terutama makanan khas Kotagede seperti kembang waru, kipo, dan yangko. Selain itu, gunungan juga berisi sayuran dan buah-buahan seperti terong, kacang panjang, cabai, dan nanas.
"Kalau upacara nawu sendang sudah ada sejak lama. Tapi di tahun 2009 kita adakan kirab seni budaya. Salah satu tujuannya untuk mengenalkan potensi yang dimiliki Kotagede. Selain itu juga mengenal peninggalan sejarah kerajaan Mataram," kata Pengageng Abdi Dalem Juru Kunci Sarean Kotagede Reh Surakarta Raden Tumenggung Pudjodipuro.
Beberapa prosesi mewarnai kirab dan prosesi upcara nawu sendang ini. Setelah sampai di pelataran masjid Kotagede, dilakukan penyerahan alat untuk menguras sendang kepada abdi dalem masing-masing keraton. Tentunya diawali dengan prosesi doa terlebih dahulu.
Prosesi selanjutnya peralatan yang digunakan untuk nawu sendang dibawa ke Sendang Seliran. Sendang Seliran terdiri atas dua sendang yakni Sendang Kakung dan Sendang Putri. Sementara itu gunungan kuliner langsung diperebutkan oleh warga yang sudah menunggu sejak pagi.
"Filosofi nawu adalah simbol kebersihan yang wajib dijaga oleh manusia. Tidak hanya kebersihan fisik, namun moral dan batiniahnya. Siwur juga bentuk simbolis, setelah itu proses menguras selanjutnya dilakukan dengan mengunakan genset biar cepet," ungkapnya.
Cara ini, menurut pria yang akrab disapa Slamet, sudah dilakukan sejak 2009 lalu. Sebelumnya porses pembersihan dilakukan menggunakan ember secara beramai-ramai memakan waktu satu hari atau lebih.
Pengurasan sendang ini pun melibatkan dua keraton yaitu Keraton Kasultanan Jogjakarta dan Kasunanan Surakarta. Ini karena karena Masjid Gede Mataram dan Makam Raja Mataram adalah milik dua keraton.
Sejarah awal, Sendang Kakung merupakan sendang yang pertama ada dan digunakan oleh Panembahan Senopati saat melakukan babat alas. Sendang tersebut digunakan oleh kaum putra atau putri. Sedangkan Sendang Putri, dibangun pada masa pemerintahan Raja Keraton Jogjakarta Hamengku Buwono I.
"Sendang Putri dibangun karena Sendang Putra dipakai bersama-sama. Oleh karena itu, dibangun Sendang Putri agar tempat mandi bisa dipisah antara putra dengan putri," ungkapnya. (dwi/laz/mga)