MAGELANG – Rencana awal, pameran dalam rangka 100 Even Ayo Ke Magelang 2015 berlangsung dua hari, Sabtu (25/4) dan Minggu (26/4). Entah dengan alasan apa, Pameran Kilas Balik Alat Transportasi yang digelar di Gedung Tribhakti dibubarkan lebih awal, kemarin (26/4).
Munif, 15, warga Krincing, Kecamatan Secang Kabupaten Magelang dan 14 siswa Kelas VIII SMPN 2 Kota Magelang dibuat kecewa. Mereka datang ke Gedung Tribhakti untuk menonton pameran tersebut. Namun yang terjadi, mereka hanya melihat beberapa panitia yang tengah membongkar stan.
“Kemarin, diberi pengumuman dari pihak sekolah, kalau hari ini ada pameran di Gedung Tribhakti. Kami janjian melihat pameran transportasi. Ternyata kok sudah bubar,” kata Munif kecewa. Kekecewaan itu diamini rekan-rekannya.
Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Magelang membenarkan kegiatan tersebut terpaksa dibubarkan lebih awal. Salah satu alasan, rendahnya animo masyarakat menonton pameran yang menelan biaya lebih dari Rp 50 juta tersebut.
“Iya, kegiatan ini masuk 100 even Ayo ke Magelang. Tapi tadi malam (25/4), Pak Hartoko (Kepala Disporabudpar) rapat dengan pihak EO (even organizer) dan memutuskan menutup kegiatan. Faktornya, penonton minim,” ungkap Sekretaris Disporabudpar Catur Sawahyo.
Seksi Acara Pameran Alat Transportasi Cornelius Helto memaparkan beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam penutupan kegiatan lebih awal. Selain persoalan minim penonton, juga tidak sesuainya komitmen yang dibangun Disporabudpar dengan EO.
“Menjelang pameran, saya dan Dita diminta datang ke Kantor Disporabudpar. Kami tidak tahu mau disuruh apa ke Disporabudpar. Ternyata kami diminta membantu menjadi EO kegiatan pameran. Kemudian, kami diminta membuat proposal,” papar Helto.
Karena pameran termasuk rangkaian kegiatan Ayo ke Magelang, otomatis ada biaya cukup besar dari APBD. Faktanya, jumlah dana yang turun ke EO tidak seperti janji. Ini ditambah beberapa komitmen dari Disporabudpar yang meleset. Seperti kesanggupan mendatangkan kendaraan tank dari Armed dan bantuan mencari sponsor.
“Kami sempat mau mundur, tidak sanggup melaksanakan kegiatan karena banyak komitmen yang meleset. Oleh Disporabudpar, kami tetap diminta jalan terus. Pertimbangannya, kami bisa menarik uang masuk dari pengunjung. Akhirnya, kami beranikan diri jalan terus. Faktanya, karena publikasi kurang dan penonton sepi, pemasukan dari pengunjung jadi seret. Akhirnya, daripada kami menutup kerugian kegiatan dua hari, lebih baik diadakan satu hari saja,” urai Helto.
Sesuai jadwal, seharusnya ada pertunjukkan dance, band, dan parade DJ. Termasuk pameran beberapa mobil kuno. Salah satunya dari Komunitas Volkwagen Club Magelang (VCM).
Mereka memamerkan empat mobil. Yakni. dua VW Kodok Keluaran tahun 1966 dan 1967, VW Safari 1972, dan VW Combi 1979.
“Karena semalam (Sabtu Malam) dikabari kalau pameran sudah ditutup, pagi-pagi tadi, kami ambil mobil yang seharusnya dipamerkan dua hari,” kata Humas VCM Endras.
Sebelumnya, Ketua Pengda PPMKI Jateng-DIJ Willy Godzali mengemukakan, pameran Kilas Balik Alat Transportasi di Gedung Tribhakti merupakan kegiatan tambahan Rally Top Coffee-PPMKI Jateng Tour yang berlangsung dua hari. Bahkan beberapa peserta reli, Sabtu Sore (25/4) sempat memarkir mobil kuno di Halaman Tribhakti, setelah finis etape pertama.
Melihat situasi yang tidak kondusif, akhirnya mereka memindahkan mobilnya dan parkir di Artos Mall.
“Pamerannya sepi. Juga tidak ada acara apa-apa di Tribhakti. Kami pilih pindahkan mobil ke Artos Mall. Selain ada acara band, penontonnya juga lebih meriah,” ungkap peserta reli dari Temanggung bernama Eko. (dem/hes/mga)