SLEMAN- Warga Kecamatan Turi dan Pakem mendesak pemerintah daerah dan pusat segera merespons dampak musibah banjir yang melanda kawasan Sleman sejak Rabu (22/4) lalu.
Respons itu terutama perbaikan jembatan ambrol di empat lokasi di Turi. Khususnya di Padukuhan Pules Lor. Sebab, jembatan di jalur alternatif penghubung Tempel-Pakem itu menjadi akses krusial warga setempat.
Belum lagi ada tanda-tanda perbaikan, satu jembatan lain yang di bawahnya terdapat gorong-gorong berdiameter sekitar tiga meter ambrol. Jembatan tersebut terletak di jalur yang sama. Tepatnya di Jambangn, Purwobinangun, Pakem. Persis di timur balai desa.
Warga menduga, jebolnya jembatan berketinggian 2,5 meter itu akibat kendornya pondasi akibat sering dilalui truk pasir dengan muatan melebihi kapasitas, hampir 24 jam setiap hari. “Jika ini dibiarkan terus, jalan-jalan desa tinggal menunggu giliran ambles,” keluh Waluyo,55, warga setempat kemarin (26/4).
Pernyataan pria paruh baya itu merujuk adanya indikasi pengalihan rute para sopir truk pengangkut pasir. Ya, jalan alternatif Tempel-Turi memang sejak lama menjadi jalur utama truk muatan pasir dari kawasan lereng Merapi menuju arah barat (Magelang). Tak sedikit jalan berlubang dan mengelupas di sepanjang jalur tersebut.
Nah, putusnya akses jalan itu memaksa para sopir truk mengambil rute lain melalui jalan-jalan desa. Itu lantaran truk pasir dilarang melintasi akses alternatif penghubung Pulowatu, Pakem menuju Simpang Empat Turi sejauh sekitar 3 kilometer.
Jalan Pulowatu ke selatan (Jalan Palagan Tentra Pelajar) kini menjadi sasaran, selain Jalan Kaliurang. Dari Pulowatu, truk pasir diarahkan melalui Dusun Balong ke barat. Tembus ke Jalan Turi. “Ini harus jadi perhatian serius pemerintah,” ingatnya
Kades Purwobinangun Heri Swasana mengungkapkan, amblongnya Jembatan Jamblangan telah lama menjadi kekhawatiran masyarakat. Sebab, sebelumnya, ruas jalan di titik tersebut kelihatn melengkung, meski masih bisa dilalui kendaraan. Hal itu telah disampaikan kepad pemerintah. Tapi belum direspons. “Itu gorong-gorong tua,” katanya.
Alasannya, jalan tersebut menjadi kewenangan pemerintah provinsi. Menurut Heri, pemerintah berjanji segera memperbaiki jembatan. Mulai konstruksi hingga membuat gorong-gorong baru.
Putusnya akses jalur alternatif tersebut menimbulkan pemandangan baru di Simpang Empat Turi. Hampir setiap hari tampak polisi berjaga di lokasi tersebut. Terutama pagi hari. Sebelumnya, tak pernah ada penjagaan di ruas jalan itu, sehingga kerap terjadi lakalantas. Itu akibat banyak pengendara sepeda motor tanpa mengenakan helm nekat menerobos traffic light. Rambu belokk ke kiri ikuti lampu pun kerap tak diindahkan.
Kades Donokerto, Turi Waluyo Jati punya alasan lain agar akses jalan segera diperbaiki pemerintah. “Ekonomi warga lumpuh total,” ungkapnya.
Putusnya empat jembatan mengakibatkan lahan pertanian dan perikanan terbengkalai lantaran tak ada suplai air. Padahal,dua bidang itu menjadi mata pencaharian utama masyarakat.
Jati mengatakan, petani memanfaatkan air yang mengalir di sungai dengan membuat jalur irigasi. Putusnya jembatan, putus pula saluran irigasi.
Menurut Jati,tiga jembatan, Gondang Angin-angin, Dam dukuh, dan Gayam Gabukan belum disentuh tangan pemerintah. Penanganan baru tampak di Mangut Pules Lor.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Julisetiono Dwi Wasito mengungkapkan, hari ini, Senin (27/4), tim pemerintah baru akan menggelar rapat koordinasi penanganan dampak kerusakan infrastruktur akibat banjir. “Akan dipetakan dulu. Mana yang perlu direhab perlu inventarisasi,” ucapnya.
Anggota Komisi C DPRD Sleman Wawan Prasetya berulang kali mengingatkan pemerintah agar menindak tegas aktivitas penambangan ilegal di lereng Merapi. Selain melanggar aturan, efek domino berupa kerusakan jalan selalu mewarnai penambangan pasir. Pengalihan rute truk pasir bukanlah solusi. Tapi hany akan menambah masalah baru bagi pemerintah. “Makanya harus ada tindakan nyata. Jangan dibiarkan saja,” sindir politikus PKB itu.(yog/din/mga)