PURI APRIMARDIANTI

PELAKSANAAN Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang segera diberlakukan tahun ini men-jadi moment tepat bagi pelaku usaha kecil me-nengah (UKM) untuk mele-barkan sayap. Pernya-taan itu diserukan Puri Aprimardianti, mahasiswi per-gurusan tinggi di DIJ yang te ngah menyelesai kan tugas akhir.”Tapi pengama-tan saya di Gunung-kidul, sebenarnya UKM cukup ber-kem bang, na mun dari segi krea-tivitas dan SDM masih ku rang,” kata perem-puan ke la-hiran Gu-nungkidul, 7 April 1992, ini
Menurut Puri, itu terjadi ka-rena rata-rata UKM hanya seka-dar untuk menyambung hidup. Tidak untuk ke arah berkarya atau pengembangan. Kebanya-kan SDM berhenti di situ saja dan tidak mau berkembang. “UKM di Gunungkidul sebe-narnya memerlukan SDM ber-kualitas. Kualitas tidak terukur dari latar pendidikan, tapi ki-nerja,” beber perempuan yang memiliki hobi travelling dan hiking ini dengan bersemangat.Dikatakan Puri, kinerja itu bisa dibangun dari nol asalkan sabar. Selain itu juga harus bisa membangun mereka dari awal agar lebih bisa kreatif lagi. Karyawan SMEDC UGM Jogja-karta ini kemudian menconto-hkan terkait UKM kerajinan. “Mereka bisa mengambil pen-duduk sekitar yang sudah tamat sekolah atau menganggur dan mau diajari dari nol. Asal mereka mau dan tekun, pasti bisa. Bahkan hasil dari kinerja mereka akan lebih bagus daripada yang terdi-dik tapi tidak kreatif,” terangnya.Sejauh ini pihaknya baru me-lihat UKM di wilayahnya tidak berani mengambil risiko atau rugi. Mereka hanya mengambil cara instan dengan mencomot orang yang berpendidikan atau sudah bisa. Padahal kebanyakan mereka cepat bosan dan peker-jaan mereka kurang full.”Coba kalau para UKM mere-krut SDM yang belum mempu-nyai pekerjaan, malah akan membantu perekonomian me-reka, dari pada menganggur atau malah pergi ke lain daerah. Men-ding bekerja di daerah sendiri,” ujar warga Karangtengah, Wono-sari, ini. (gun/laz/ong)