RIZAL SETYO NUGROHO/RADAR JOGJA
SLEMAN- Dampak banjir yang melanda kawasan utara wilayah Sleman juga dirasakan masyarakat di hilir. Termasuk warga di lingkungan perumahan. Ambrolnya empat jembatan di wilayah Turi turut mengakibatkan putusnya pipa instalasi air PDAM. Pipa tersebut melintang di atas sungai atau sejajar dengan panjang jembatan.
Sebanyak 14.580 jiwa pelanggan PDAM terpaksa memenuhi kebutuhan air sehari-hari dengan cara menimba di sumur. Itu lantaran 2.436 jaringan perpipaan yang mengalir ke rumah-rumah pelanggan rusak. Kondisi itu menyebabkan suplai air sempat mati selama empat hari. “Kami telah melakukan upaya darurat. Meski sifatnya sementara, aliran air sudah normal lagi,” ujar Direktur PDAM Sleman Dwi Nurwata kemarin (27/4).
Jaringan yang putus disambung dengan pipa peralon (PVC). Dwi merinci, jaringan pipa rusak tersebar di tiga wilayah. Di Turi, dampak ambrolnya Jembatan Pules Lor menyebabkan pipa berdiameter tiga inci putus. Akibatnya, PDAM kehilangan debit air 6 liter per detik. Di titik tersebut, 230 sambungan pelanggan untuk 1.380 jiwa tak teraliri air.
Di Ngemplak, debit 15 liter per detik hilang lantaran pipa berdiameter 6 inci rusak. Itu mengganggu layanan 700 sambungan pelanggan bagi 4.200 jiwa.
Sementara di Sleman, layanan air bagi 9 ribu jiwa terhambat akibat jebolnya talud sumber air baku di Tuk Dandang, yang menghasilkan debit 15 liter per detik. Itu mengakibatkan rusaknya 1.500 sambungan pipa pelanggan. “Untuk talud, perbaikan sementara dengan bronjong. Seminggu bisa selesai,” lanjut Dwi.
Jika dirupiahkan, Dwi mengaku, PDAM merugi hingga Rp 232 juta akibat dampak banjir. Kendati begitu, Dwi optimistis layanan pelanggan PDAM tak bakal tersendat seiring pelaksanaan perbaikan jaringan.
Dwi berencana meredesain jaringan perpipaan. Beberapa jaringan akan dipindah ke jalur yang dianggap aman dari bencana banjir. Pipa dijauhkan dari aliran sungai.
Itu guna menghindarkan dampak serupa jika terjadi musibah banjir. Hanya, untuk perbaikan pipa, PDAM menunggu sikap pemerintah daerah. Rencana ke depan, penyambungan jaringan secara permanen tetap menggunakan pipa galvanis.
Terkait perbaikan pipa melintang sungai, PDAM butuh koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUP), selaku pemangku kewenangan untuk rehab jembatan. Sedangkan tentang sumber daya air, koordinasi dengan Dinas Sumber Daya Alam, Air, Energi, dan Mineral.
Kepala Dinas PUP Sleman Nurbandi juga masih menunggu hasil koordinasi tim teknis dengan Pemda DIJ. Itu mengingat kerusakan infrastruktur akibat banjir tak semua menjadi kewenangan Pemkab Sleman. Nurbandi merinci, dari empat jembatan rusak, satu diantaranya, Pules Lor, menjadi kewenangan Pemda DIJ. Sisanya adalah kembatan dusun.
Karena itu, upaya darurat yang ditempuh Dinas PUP Sleman berupa perbaikan jalan amblong dan aspal terkelupas. Nurbandi telah menurunkan alat berat di lokasi bencana. “Sementara diuruk. Yang penting jalan bias dilewati dulu. Kalau soal kenyamanan,ya, nanti,” ujarnya.
Selain itu, Nurbandi menunggu ketetapan bupati dalam kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi bencana. Ketetapan itu merujuk penganggarannya. Menggunakan dana bencana yang dikelola Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau dialokasikan dalam perubahan APBD 2015. (yog/din/Nr)